Berita /

9 Kultwit Goenawan Mohamad tentang Kartini

Inioke.com , Sabtu, 21 April 2012 11:45 wib

Goenawan Mohamad

Memperingati Hari Kartini, banyak pemikiran yang lahir atas makna merayakan hari lahir perempuan berkebaya itu. Perdebatan, pemikiran, dan makna baru tentang Kartini juga bersileweran di situs-situs jaringan sosial, diantaranya twitter.

Penyair dan redaktur senior Majalah Tempo, Goenawan Mohamad, misalnya, dalam kicauan di twitternya, @gm_gm, menuliskan, 'Kartini' hanya penanda. Maknanya ditentukan oleh konteks, oleh kondisi kita, posisi kita di suatu ketika.

“Saya juga prnah mengiritik peringatan Hari Kartini dengan baju tradisional. Tapi itu gaya resmi. Gaya lain banyak.”

“Dalam memperingati hari Kartini, di @salihar, mis; ada pameran seni rupa karya perempuan, juga teater dan diskusi.

'Kartini' itu penamaan generik. Spt 'Hari Pahlawan': kepahlawanan kan tak cuma di Surabaya 10 Nov 1945.

Selain itu, Goenawan atau yang dikenal dengan sebutan GM, juga memberikan 9 kultwit (kuliah twitter) tentang Kartini, yaitu;

1. Kata "Kartini" kini tak hanya nama seorang tokoh sejarah yg lahir 21 April. Ia kini penanda utk perjuangan perempuan umumnya.

2. "Hari Kartini" bukan lagi hari mengenang si penulis 'Habis Gelap Terbitlah Terang". Tapi hari utk menelaah perjuangan hak2 wanita.

3. Spt "Hari Pahlawan" . Itu hari mengenangkan kepahlawanan kapan saja dan di mana saja, bukan cuma 10 Nov. di Surabaya.

4. Tokoh Kartini yg pernah hidup lebih kompleks ketimbang 'Kartini' sbg "icon" atau "lambang".

5. Apa boleh buat. "Hari Kartini" adalah hari ketika orang ramai2 TIDAK membaca apa yg pernah ditulis Kartini dlm sejarah.

6. Jika kita sudi membacanya, dari puluhan surat2 itu akan muncul sediktnya dua kesimpulan (setidaknya menurut saya).

7. Satu: Kartini lebih seorang korban tata masyarakat jamannya ketimbang seorang pelawan yg kuat. Sebab itu ia tak pantas dilupakan.

8. Kedua: Kartini tak cuma menulis ttg "nasib wanita". Ia bicara tajam ttg diskriminasi rasial, peran agama dlm hidup, dll.

9. Pemerintah kolonial "mengedit" Kartini agar pas jadi pmendukung "Politiek Ethis"-nya. Yaitu kebijakan "mencerdaskan kaum bumiputra".

(ryn/@gm_gm)