Berita /

Seminar Internasional Reforma Agraria

Neoliberalisme Musuh Utama Petani

Inioke.com , Sabtu, 14 Juli 2012 16:41 wib

Mamadou Ba dari Conseil National de Concertation et de Cooperation des Ruraux (CNCR) Senegal menceritakan pengalamannya dalam reforma agraria di Afrika. (GRY)

Sistem ekonomi dan politik neoliberalisme menjadi musuh utama para petani di seluruh dunia. Perampasan lahan yang dilakukan para koorporasi dan perusahaan internasional bekerjasama dengan rezim yang berkuasa, tak jarang berbenturan dengan petani. Bahkan, diiringi dengan kekerasan, berhadapan dengan militer, sampai ada yang meninggal, terluka dan trauma.

Hal ini terungkap dalam Seminar Internasional: Pembaruan Agraria dan Mempertahankan Tanah dan Kawasan pada Abad 21, di Ruang Konferensi Istana Bung Hatta Bukittingi, Sabtu (14/7). Pada sesi pengalaman perjuangan mewujudkan reforma agraria di berbagai Negara. Hampir seluruh Negara memiliki sejarah konflik petani dengan rezim dan militer yang berkuasa dalam mempertahankan lahannya.

“Berbicara tentang reforma agrarian tidak bisa lepas dari perampasan lahan. Saat saya berbicara sekarang, ada proyek besar yang mengusir para pemilik lahan di Mozambik. Kami berharap kita yang berada di La Via Campesina membantu orang-orang ini. Mari kita semua berjuang bersama-sama melawan perampasan tanah,” kata Mamadou Ba dari Conseil National de Concertation et de Cooperation des Ruraux (CNCR) Senegal.

Disampaikan Mamadou Ba, semua orang menginginkan reforma agraria. Namun, petani di Afrika butuh waktu yang panjang, karena rezim politik sosialis dan neoliberal yang berkuasa. “Kita tidak bisa berbicara pertanian, kalau 70 persen dari petani itu tidak diberi peran. Yang paling penting kami lakukan adalah melakukan tekanan politik terhadap neoliberal dengan pendidikan dan memberikan informasi tentang perlawanan ini. Meningkatkan pemahaman masyarakat mulai dari keluarga dan tetangga, bahwa ini penting untuk kita bersama. Melakukan banyak aksi, lobi, dan membangun jaringan,” ungkapnya sembari menceritakan pengalaman gerakan petani mewujudkan reforma agraria di Afrika, yang berhadapan dengan berbagai bentuk kekerasan, dipenjara, diusir, dan dibunuh.

Di India pun demikian. Rohtas Rathee dari BKU India menceritakan petani di India berperang dengan polisi dan militer mempertahankan lahannya. Tahun 2012 India telah menandatangani perjanjian tentang pemilikan lahan, namun gagal melindungi petani dari koorporasi dan perusahaan besar. Perampasan lahan tetap terjadi.

“Mereka menyampaikan ingin melindungi daerah yang menjadi lahan untuk bertani. Tapi itu hanya untuk kepentingan pribadi mereka dan tidak memberikan keuntungan bagi petani. Kami akan mengusahakan secepat mungkin pembentukan hukum baru bagi kepentingan para petani,” ujarnya.

Di Amerika Latin, ungkap Elsa Nury dari FENSUAGRO, Kolombia, perampokan dan perampasan lahan telah terjadi sejak abad ke 15. Sekarang, kebijakan neoliberal telah diterapkan di semua benua. Mengambil lahan masyarakat dan melecehkan petani, seperti di Guatemala dan Honduras. Reforma agraria juga diwarnai demonstrasi di beberapa Negara. Para koorporasi tersebut membayar upah yang sangat rendah dan membeli produksi pertanian dengan sangat murah.

“Petani melakukan demonstrasi, menduduki lahan yang ada, memproduksi tanah-tanah yang menjanjikan harus berhadapan dengan kekerasan. Di Honduras ditemukan beberapa kasus kekerasan, pembakaran lahan yang hendak dipanen, menduduki lahan yang akan ditanam. Petani diserang dan dibunuh. Meski telah disampaikan melalui media, tapi tetap diserang. Di Provinsi Kahamar, Peru, ada 5 meninggal dan 25 terluka karena melawan perusahaan internasional untuk pertambangan. Bahkan, di Kolombia juga direspon dengan kebijakan militer. Untuk itu mari kita mengglobalisasikan perjuangan ini,” kata Elsa Nury.

Tidak hanya petani yang berhadapan dengan pemerintah atau rezim yang berkuasa dan pengusaha dalam kepemilikan lahan. Para nelayan pun mengalami hal yang sama, seperti disampaikan Herman Kumara dari World Forum of Fisher People (WFFP).

“Kita memiliki musuh yang jelas. Dulu kita melawan para penjajah atau kolonial yang datang dengan kitab-kitab lalu merampas tanah kita, sekarang kita melawan pemerintah sendiri, yang berpihak pada koorporasi dan pengusaha neoliberal. Perang ini harus tetap berlangsung bersama-sama antara petani dan nelayan. Kami melawan dan terus berjuang untuk koalisi internasional, melalui membangun koalisi dengan beberapa Negara. Sehingga forum nelayan ini bisa melakukan negosiasi secara internasional,” tuturnya. (gry)