Berita /

Pelajaran Kesenian di Kweekschool Fort de Kock

Inioke.com , Rabu, 14 Maret 2012 13:51 wib

Foto ini dibuat tahun 1908 dalam rangka pesta peringatan 35 tahun Sekolah Radja yang baru di Ford de Kock (1873-1908).

Pelajaran kesenian di tingkat sekolah dasar dan menengah di Indonesa sekarang ini mungkin kalah menarik di mata para siswa dibanding mata pelajaran lain. Maklumlah di negeri ini segala sesuatu yang terkait dengan seni – seni sastra, seni drama, seni musik, dll. – dipandang agak rendah. Di kelas 4 sampai kelas 6 SD, porsi pelajaran kesenian (kesenian dan keterampilan) hanya 4 jam per minggu. Di tingkat SLTP dan SLTA (seni budaya) hanya 2 jam per minggu.

Pemerintah juga lebih cenderung memikirkan ekonomi dan teknologi saja. Orang berlomba-lomba menjadi insinyur, dokter, dan sarjana ekonomi. Gelar-gelar tersebut dianggap menjanjikan dan lebih gampang menghasilkan uang, ‘Tuhan’ yang paling berkuasa di zaman modern ini.

Mungkin karena keringnya jiwa seni itulah siswa dan mahasiswa sekarang suka tawuran. Jiwa mereka kering kerontang dalam budaya konsumerisme yang makin menjadi-jadi. Sudah banyak pula negeri yang saya jalani, tak ditemukan budaya tawuran di kalangan pelajar dan mahasiswanya, kecuali di Indonesia. Aneh, tapi itulah kenyataannya.

Pendidikan dasar di banyak negara, kecuali mungkin di negeri ni, memberi porsi yang lebih banyak untuk seni. Di Belanda misalnya, anak-anak sekolah dasar (usia 4-12 tahun) belajar berbagai macam seni di sekolah maupun dalam les-les privat. Seni adalah media yang menyegarkan pikiran dan jiwa anak-anak yang baru tumbuh itu, sehingga dalam gelap dan dingin musim salju di pagi bersuhu di bawah 0 derajat mereka bangun pagi dan dengan riang mengayuh sepeda untuk pergi sekolah.

Sistem pendidikan Belanda yang mengutamakan seni diterapkan juga di Hindia Belanda dulu, tak terkecuali di Minangkabau. Rubrik ‘Minang Saisuak’ kali ini menampilkan foto klasik siswa Sekolah Radja (Kweekschool) Fort de Kock (Bukittinggi) yang sedang unjuk kebolehan dalam olah seni. Terlihat mereka memakai pantalon dan kemeja serba putih dengan instrumen musik di tangan masing-masing.

Foto ini dibuat tahun 1908 dalam rangka pesta peringatan 35 tahun Sekolah Radja yang baru di Ford de Kock (1873-1908). Kurikulum Sekolah Radja memberi porsi yang besar pada pelajaran kesenian. Kini di zaman pendewaan uang, jiwa murid-murid sekolah dasar dan menengah di negeri ini memang seharusnya disegarkan dengan kesenian. Jika tidak, dikhawatirkan mereka akan jadi orang-orang beringas yang hanya tahu ‘seni’ melempar batu dan jika sudah besar hanya menguasai ‘seni’ debat kusir (yang kemudian diikuti dengan aksi usir-mengusir) seperti yang sering kita saksikan dalam acara-acara debat di televisi, bahkan kini juga di forum-forum seminar.

(http://niadilova.blogdetik.com)
Suryadi – Leiden, Belanda. (Sumber foto: [Nawawi St. Makmoer dan T. Kramer], Gedenkboek Kweekschool Fort de Kock 1873-1908. Arnhem: G.J. Thieme, 1908: 57)