Rubrikasi /

Fakultas Teknologi Pertanian IPB Hasilkan Beras Tiruan

Oleh : David Pratama , Selasa, 24 April 2012 14:30 wib

Sebagai langkah konkrit dalam memberi solusi terhadap isu diversifikasi pangan, Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB yang dimotori oleh Departemen Imu dan Teknologi Pangan berhasil membuat beras analog atau yang bisa disebut juga dengan beras tiruan. Sesuai dengan namanya, beras tiruan merupakan sebuah terobosan dalam mengurangi konsumsi beras, tetapi tetap dengan pangan berkarbohidrat menyerupai beras.

Beras yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi makanan pokok mayoritas masyarakat di Indonesia memang sulit untuk digantikan meskipun saat ini kondisinya sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia yang kian bertambah.

“Di Indonesia, untuk bisa melakukan diversifikasi pangan yang akan berhasil diterima masyarakat sejauh ini hanya dua, kalau tidak jagung ya mie,” ungkap Annisa Kharunia Mahasiswa semester 8 Ilmu Teknologi Pangan IPB. Icha, begitu biasa ia dipanggil menambahkan bahwa untuk memilih jagung tentu tidak akan mudah karena posisi beras dalam kehidupan masyarakat sudah mendarah daging. Sedangkan jika memilih mie hal ini justru tidak efektif mengingat mie terbuat dari tepung terigu.

“Maka solusi yang paling bijak adalah menciptakan pangan berbentuk beras tetapi aslinya bukan benar-benar beras,” kata Icha lagi. Icha yang bekerjasama dengan dua rekan lainnya yaitu Suba Santika dan Yullianti, di bawah bimbingan dosen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB Dr. Slamet Budijanto telah mengembangkan proyek beras analog ini kurang lebih satu tahun belakangan.

Beras analog atau beras tiruan ini dihasilkan dengan menggunakan teknologi hot extrusion dengan mesin pendukung double screw extruder dengan modifikasi pada bagian dye mesin. Sejauh ini penelitian masih dilakukan di laboratorium Techno-Park IPB.

Beras analog sebenarnya bukan hal yang baru dalam teknologi pangan dunia, beberapa negara pengkonsumsi beras sudah melakukan hal yang sama seperti halnya Thailand. Akan tetapi yang menjadi keunggulan beras analog rekaan mahasiswa IPB ini adalah jika Negara-negara lain tersebut membuat beras analog dengan menggunakan menir, maka mahasiswa IPB ini menghasilkan beras analog dari sumber karbohidrat alami lainnya seperti dari sagu, sorgum, dan jagung.

“Bahkan kita bisa menambahkan zat yang kita mau, misalnya menambahkan beta karoten yang sangat sedikit terkandung dalam beras asli,” kata Icha.

Ke depannya penelitian ini diharapakan mampu di produksi secara konvensional dalam menciptakan alternatif diversifikasi pangan. Apalagi setelah penelitian ini mendapat respons positif dari Menteri BUMN Dahlan Iskan ketika diperkenalkan saat beliau menghadiri Seminar Memperingati 60 Tahun Pendidikan Pertanian di Indonesia beberapa waktu yang lalu di Graha Widya Wisuda (GWW) IPB. (*)