Rubrikasi /

Demonstrasi Tolak Kenaikan BBM

Dari Digigit Anjing Hingga Tertembak Peluru Tajam

Inioke.com , Kamis, 29 Maret 2012 23:42 wib

Aksi mahasiswa di depan Kantor Gubernur Sumbar. (aji)

Indonesia hari ini (29/3) diwarnai dengan aksi demonstrasi mahasiswa menolak kenaikan harga BBM. Hampir di setiap daerah, demonstrasi tersebut anarkis dan berakhir ricuh. Bahkan, di Salemba dikabarkan 1 mahasiswa yang tewas tertembak peluru tajam dan 8 lainnya sekarat.

#Informasi Terakhir dari Situasi Salemba#.. 8 Mahasiswa Ditembak Peluru tajam, dan sekarang sedang sekarat.. Diantaranya 5 mahasiswa didalam UKI Salemba, , dan 3 mahasiswa di Kantor LBH.. Sementara, 1 org mahasiswa meninggal tertembak Peluru tajam di dalam parit depan Kampus YAI..

Begitu tulis Vinna Melwanti di status Facebook-nya. Aksi mahasiswa menolak kenaikan BBM itu menguasai Jalan Diponegoro. Dilaporkan detik.com, mereka membakar motor dan mobil polisi, bahkan seorang polisi juga dikeroyok mahasiswa.

Bentrok di Jalan Diponegoro mulai berakhir pukul 22.04 WIB. Sehingga arus lalu lintas di Jalan Diponegoro mulai mengalir lancar, namun belum bisa dipastikan jumlah korban luka.

Seperti dilansir kompas.com, sekitar pukul 21.45 WIB, Jalan Diponegoro sudah dapat dilewati kendaraan. Para penyapu jalan mulai menyapu membersihkan jalan dari pecahan botol dan batu-batu. Sebagian aparat kepolisian mulai ditarik ke perempatan Jalan Salemba. 

Sementara itu di Padang, aksi unjuk rasa mahasiswa ini juga berujung ricuh, bahkan salah seorang mahasiswa digigit anjing pelacak yang digunakan sebagai pengaman oleh polisi. Kericuhan itu berawal dari aksi saling dorong ratusan mahasiswa dengan aparat keamanan di depan kantor DPRD Sumbar. Selain saling dorong, juga terjadi pelemparan batu oleh mahasiswa.

Akibat saling dorong tersebut, lengan kanan seorang mahasiswa, Jefri Sinarbutar, berdarah digigit anjing pelacak. Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Sumbar itu, terpaksa dilarikan ke RS Yos Sudarso untuk mendapatkan pengobatan.

Bentrok yang terjadi dalam demo penolakan kenaikan harga BBM di DPRD Sumbar, berawal dari lempar batu dan saling dorong ratusan mahasiswa yang berdemo. Menurut mahasiswa, mereka tidak akan bertindak anarkis apabila pihak kepolisian tidak memancing keributan.

Melihat rekannya berdarah digigit anjing suasana di depan kantor wakil rakyat itu semakin panas. Ratusan mahasiswa berdemo berasal dari gabungan elemen mahasiswa seperti HMI, GMKI, MIRA LIRA, BEM perguruan tinggi di Kota Padang, seperti Universitas Andalas, UNP, UPI dan ATIP, terus mendesak untuk menduduki kantor DPRD Sumbar hingga tanggal 1 April mendatang.

Namun keinginan para mahasiswa tersebut tidak mendapat persetujuan. Apalagi saat itu tidak ada anggota DPRD Sumbar di sana, karena sedang melakukan kunjungan kerja ke daerah pemilihan. Sehingga terjadi aksi lempar batu yang terlihat dimulai oleh mahasiswa dari barisan belakang. Selain itu aksi kejar-kejaran antara mahasiswa dan polisi pun terjadi. Untuk mengamankan para mahasiswa ini polisi juga menembakkan gas air mata.

Akibatnya, polisi menangkap 7 pendemo yang diduga pelempar batu ke gedung DPRD Sumbar. Mereka diamankan di Polresta Padang untuk dimintai keterangan.

Kabag Humas DPRD Sumbar, Erdi Janur, mengatakat, akibat aksi lempar batu itu kaca beberapa ruangan di DPRD Sumbar pecah, seperti di ruang BK, ruang rapat khusus, dan ruang lainnya.

Meski izin demonstrasi hingga pukul 17.00 WIB dari Kepolisian telah berakhir, para mahasiswa masih bersikeras menduduki kantor DPRD Sumbar. Namun, selepas magrib situasi bisa dikendalikan, setelah ada dialog antara polisi dengan perwakilan mahasiswa. Para mahasiswa pun membubarkan diri, meninggalkan gedung DPRD Sumbar.

Long march

Sebelumnya, aksi mahasiswa ini dimulai sejak pagi di depan Kantor Bank Indonesia di jalan Sudirman. Mereka melakukan long march dari sana menuju Kantor Gubernur Sumbar. Di depan kantor Gubernur para mahasiswa ini menyampaikan orasi mereka. Meskipun berasal dari perguruan tinggi yang berbeda mereka memiliki tuntutan yang sama yakni, menolak kenaikan harga BBM, mengusut tuntas kasus-kasus korupsi dan membebaskan Indonesia dari pengaruh kapitalisme dan neoliberalisme.

Para mahasiswa meneriakkan yel-yel yang meminta agar pemerintah membatalkan kebijakan untuk menaikkan harga BBM. Dalam aksi ini para mahasiswa membawa keranda mayat sebagai simbol matinya hukum di Indonesia. Sambil berorasi koordinator-koordinator para demonstran berkali-kali mengingatkan para mahasiswa agar tidak terpancing emosi dan terpancing tindakan provokatif karena aksi mereka adalah aksi damai.

Asisten III Setdaprov Sumbar, Sudirman Gani, menyambut para demonstran tersebut, dan menyampaikan, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, sedang tidak berada di tempat.

“Saya sudah melepon berkali-kali, namun bapak gubernur tidak mengangkatnya,” ujar Sudirman Gani.

Para demonstran yang kecewa dengan tidak adanya gubernur, menanyakan ke Sudirman Gani, setuju atau tidak dengan kenaikan BBM. Dia tidak menjawab pertanyaan tersebut, sehingga diteriaki pengecut dan tidak prorakyat oleh mahasiswa. (aji/gyn)