Seniman Muda Indonesia Menggelar Pameran di Tokyo: (dok.deplu)
Seniman muda Indonesia asal Bandung, baru saja berkunjung ke Tokyo dengan membawa tiga karya video dengan genre stop motion animation. Mereka adalah trio Febie Babyrose (25), Herbert Hans (26), dan Ruddy Hatumena (26). Tiga karya tersebut menjadi bukti kreativitas kontemporer seniman muda Indonesia yang membanggakan.
Kedatangan seniman muda Indonesia ke Tokyo ini merupakan undangan dari Mori Art Museum (MAM Roppongi), kelompok TROMARAMA yang mengadakan eksibisi "MAM Project 012" dari 24 Juli hingga 7 November 2010 mendatang. Mori Art Museum (MAM) terletak di Roppongi, Tokyo, dan merupakan salah satu museum terkemuka di Jepang yang banyak menampilkan karya kontemporer. Sementara itu, MAM Project adalah segmen eksibisi untuk seniman muda berbakat dari seluruh penjuru dunia. Seri 012 menandakan kali ke-12 MAM Project diadakan. Pada eksibisi tahun-tahun sebelumnya, MAM Project menampilkan Santiago Cucullu (Amerika Serikat), ROR (Finlandia), Choe U-Ram (Korea), dan Jules de Balincourt (Perancis).
Acara pembukaan MAM Project 012 telah dimulai pada tanggal 23 Juli 2010 lalu, yang dilakukan bersamaan dengan pembukaan eksibisi Sensing Nature, karya seniman kontemporer kenamaan Jepang, Yoshioka Tokujin. Tokujin terkenal dengan seni instalasi yang mengagumkan, seperti Rainbow Church (Seoul), Design Miami (Miami), dan Lexus Installation (Milan). Karya desainnya telah menghiasi showroom Hermes, Swarovski, Issey Miyake, dan Peugeot.
Pertemuan seniman muda Indonesia di Tokyo ini menambah kebanggaan akan prestasi Tromarama, bahwa seniman muda Indonesia telah layak bersanding dengan seniman kenamaan kelas dunia. Apalagi, kunjungan ini diselenggarakan setelah penyelenggaraan Indonesia Festival 2010 minggu lalu di Tokyo. Pada saat festival, Tokyo menghadirkan seni budaya Indonesia.
Untuk MAM Project 012, Tromarama membawa tiga karya video art yang rumit, namun dinamis, yaitu Serigala Militia, *ting, dan Zsa Zsa Zsu. Untuk Serigala Militia, Tromarama menggunakan 402 panel kayu yang dipahat/cukil satu per satu. Karya ini dipamerkan di salah satu ruangan MAM, lengkap dengan semua panel kayu dan layar besar yang memutarkan video tersebut. *ting menggunakan media gelas dan piring porselen, sedangkan Zsa Zsa Zsu memakai kancing-kancing warna-warni.
Pengerjaan *ting dan Zsa Zsa Zsu dikabarkan menguras energi pikiran dan fisik. Zsa Zsa Zsu, misalnya, untuk mengatasi keterbatasan kancing, maka setelah merekam satu frame, semua kancing harus dikumpulkan lagi untuk membuat frame berikutnya. Alhasil, detil karya dan dinamika video Tromarama mengundang berbagai decak kagum.
"Amazing," kata seorang kurator galeri kontemporer dari Seoul. Kurator Seoul ini pun menyatakan minat untuk mengajak Tromarama datang ke Korea.
Wah, hebat, seniman muda Indonesia semakin menunjukkan diri di kancah internasional. (ria/deplu)