Oleh: Pramono

Syekh Sulaiman Arrasuli alias Inyiak Canduang

Perjalanan malam (Isra) dan naik ke langit (Mikraj) merupakan dua perjalanan Nabi Muhammad dalam satu malam yang beberapa penggambarannya terdapat dalam ayat pertama Surah Al-Isra. Beberapa ulama berbeda pendapat tentang waktu terjadinya Isra Mikraj. Namun demikian, yang populer adalah pendapat al-Allamah al-Manshurfuri, bahwa Isra Mikraj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Berangkat dari pendapat tersebut, hingga hari ini, tiap-tiap tahun pada 27 Rajab umat Islam memperingati peristiwa Isra Mikraj.

Peristiwa Isra Mikraj telah menginspirasi penulis-penulis Islam untuk menulis hikayat berkaitan dengannya. Syekh Najmuddin Al-Gahiti merupakan orang pertama yang menulis cerita Isra Mikraj yang sangat terkenal dengan judul Dardir Mi’raj. Bahkan, hingga sekarang baik buku berbaha Arab dan terjemahannya masih mudah ditemukan di toko-toko buku di Indonesia. Karya al-Sayyid Ja‘far bin Hasan al-Barzanji berkenaan dengan kisah Nabi Muhammad secara umum dan Isra Mikraj juga merupakan karya kesusastraan yang banyak mempengaruhi kesusastraan Melayu.

Dalam khazanah kesusastraan Melayu pada umumnya, kisah Isra Mikraj—dan juga kisah Nabi Muhammad lainnya—merupakan salah satu jenis karya sastra yang cukup populer. Selain sering muncul bersamaan dengan kisah-kisah berkenaan dengan Nabi Muhammad, teks Isra Mikraj juga banyak ditemukan dalam satu karya tersendiri. Kisah Isra Mikraj wujud dalam genre prosa (hikayat) dan puisi (syair). Cerita jenis ini menurut Braginsky (1998) sudah begitu terkenal di dunia Melayu pada permulaan abad ke-17. Bahkan, oleh sebab begitu tersohor, karya sastra tersebut dicetak dalam tulisan Jawi di Nusantara hingga abad ke-20 (Proudfoot, 1993).

Dalam konteks itu, ulama Minangkabau yang ikut meramaikan syiar Islam melalui karya sastra berkenaan dengan kisah Nabi Muhammad adalah Syekh Sulaiman Arrasuli atau yang juga dikenal dengan sebutan Inyiak Canduang. Inyiak Canduang merupakan ulama dari golongan Kaum Tua. “Seperti Jalaluddin Rumi, Fariduddin Attar, Ibnu ‘Arabi. Abu ‘Athahiyah, Maarri, Ibnu ‘Atha, Iqbal, Hamzah Fansuri, Chatib Ali, Muhammad Dalil dan lain-lain,” kata Julizal Yunus (1999), “ialah ulama sufi yang dekat dengan tradisi bersastra, merupakan sumber ilham bagi ulama menghubungkan tradisi beragama dengan tradisi bersastra.” Kata “dan lain-lain” itu merupakan usaha untuk memperpendek deretan ulama Minangkabau yang juga memiliki kemampuan menghubungkan tradisi beragama dan bersastra. Kepujanggan Inyiak Canduang dibuktikan dengan beberapa karya sastra yang ditulisnya; baik dalam bentuk puisi (syair) maupun prosa.

Syair Mikraj dalam Enam Risalah

Kitab Enam Risalah Karya Inyiak Caduang

Karya Inyiak Canduang cukup beragam, mulai sejarah, adat Minangkabau, tasawuf, fikih, tauhid dan hagiografi. Sudah banyak penelitian yang menggunakan sejumlah karyanya sebagai sumber kajian, baik dalam bentuk skripsi, tesis maupun disertasi. Salah satu buku yang cukup baik untuk mengetahui karya-karya Inyiak Canduang adalah buku Bibliografi Karya Ulama Minangkabau Awal Abad XX, Dinamika Intelektual Kaum Tua dan Muda yang ditulis oleh Apria Putera dan Chairullah (2011). Menurut Apria Putera dan Chairullah, lebih dari dua puluh karya Inyiak Canduang. Sayangnya, tidak semua karyanya dapat ditemukan lagi saat ini.

Di antara kitab-kitab yang ditulis oleh Inyiak Canduang, beberapa di antaranya berbentuk syair. Kemahirannya dalam menulis syair memang menonjol. Bahkan, ia pernah menulis surat kepada istrinya, Shafiyah, dalam bentuk syair yang cukup panjang. Bahruddin Rusli di dalam stensilan “Ayah Kita” mengutip tujuh bait syairnya. Salah satu bait di antaranya: ke hadapan adinda wajah gemilang / nama Shafiyah dimasyhurkan orang / di negeri Candung masa sekarang / di Batubelantai di Bawah Kubang.

Kitab Thamaru ’l-Isān fī Wilādati Sayyidi ’l-Insān yang ditulis dengan Jawi dan diterbitkan di Bukittinggi oleh penerbit Direkij Agam pada 1923 merupakan salah satu karya Inyiak Canduang yang berisi syair yang cukup panjang, yakni terdiri dari 846 bait tentang kisah Maulid Nabi. Karya ini sekaligus untuk membalas serangan Inyiak Rasul tentang kritikannya berkenaan dengan “berdiri maulud”. Dalam pembukaannya, disebutkan tujuan penulisan kisah Maulid Nabi dalam bahasa Melayu agar khalayak luas dapat membaca dan memahami isinya: Kitab Maulud bukannya satu / tetapi Arab bahasanya itu / taulan membaca susahnya tentu / banyak tergantung faham di situ. Oleh karena sebab yang terang / baik Melayu penulis karang / boleh membaca siapa orang / gadang dan kecil walau sembarang. Selain itu, kitab Dawāul Qulūb fi Qishsha Yusuf wa Ya’qub yang diterbitkan di Fort de Kock oleh penerbit Islamiyah pada 1924, juga berisi syair yang cukup panjang. Di dalamnya menceritakan kisah Yusuf dan Ya’qub dengan muatan pengajaran tasawuf.

Menariknya, kisah lengkap Isra Mikraj Nabi Muhammad dan dilanjutkan dengan Kisah Nabi dan Muaz dan Kisah Nabi wafat juga ditulis dalam bentuk syair. Syair-syair ini tergabung di dalam kitab Enam Risalah yang dicetak pada tahun 1920 oleh Durekrij Agam, Bukittinggi yang masih dicetak dengan aksara Arab Melayu (Jawi). Pada halaman sampul kitab ini tertulis, “Inilah Risalah yang Mengandung Beberapa Cerita . Mi’raj Nabi SAW dan Cerita Mu’adz RA, Cerita Wafat Nabi SAW dan lain-lain Cerita Pengajaran. Dikarang oleh Seorang al-Faqir al-Miskin Muhammad Sulaiman Al-Rasuli  ibn al-Marhum al-Syeikh Muhammad Rasul al-Ma’ruf ….. Dan, pada Akhirnya Tiga Risalah dengan Bahasa Arab, Pertama al-Qual al-Kasyif fi l-Raddu ‘ala Man I’taradha ‘ala Akabir al-Muallif, Kedua Abthal Hazhzhi Ahli l-‘Ashabiyah fi Tahrim Qira’at al-Qur’an bi l-‘Ajamiyah; Ketiga Izalat al-Dhalal fi Tahrim al-Idza’i wa l-Su’al ……”

Beberapa hal yang menarik dari Syair Mikraj karya Inyiak Canduang, pertama, sebelum masuk kisah Mikraj terlebih dahulu diawali dengan pentingnya ilmu tauhid sebagai dasar utama untuk memahami kisah Isra Mikraj. Dapat dikatakan bahwa Inyiak Canduang lebih menekankan aspek akidah dan tauhid dalam memaknai kisah Isra Mikraj. Pada bagaian awal syair dinyatakan: Wahai saudara handai dan tolan/ mana yang jauh dalam pikiran/ percaya saja hendaklah iman/ janganlah munkir kita sekalian. Ya sahabat taulan saudara/ kabar Mikraj kalau dibaca/ ilmu tauhid baca mulanya/ jangan terlanggar kita padanya.

Kedua, munculnya beberapa teks yang tidak pernah ada dalam karya Isra Mikraj lainnya dalam khazanah kesusastraan Melayu. Misalnya, kisah Qorun yang hendak memfitnah Nabi Musa melalui seorang perempuan fasik karena enggan membayar zakat. Kemunculan teks ini menarik untuk menelusuri keluasan bacaan Inyiak Canduang.

Syair Mikraj ini cukup panjang dan mendominasi isi kitab Enam Risalah (halaman 5-66). Inyiak Canduang mengakhiri kisah Mikraj dengan bait syair seperti ini: Daripada Tuhan turun firman/ wa ma ja‘alna ar-ru’ya itunya bayan/ Allati urinaka pula kemudian/ cobalah lihat dalam Quran. Kabar Mikraj sudahlah tamat/ hamba tuliskan mana yang dapat/ Alhamdulillah ada tersurat/ kepada Nabi hamba selawat. Alhamdulillah rabbil‘alamin/ washalatu wassalam ditulis rajin/ ‘ala Muhammad sayyidul mursalin/ wa ‘ala alihi wasahbihi ajma‘in.

 Tradisi Bersastra dan Beragama

Syair-syair—termasuk Syair Mikraj—yang dikarang oleh Inyiak Canduang tidak lain dimaksudkan untuk syiar Islam. Syair sebagai media dakwah Islam (syiar) di Nusantara memiliki pengaruh besar, terutama dalam proses penanaman nilai-nilai keislaman. Islam yang berkembang di Nusantara adalah Islam yang bermazhab Syafii dengan ajaran tasawuf yang kuat. Kasidah Burdah dan Barzanji, misalnya, dipakai oleh kalangan sufi untuk menanamkan nilai-nilai Islam—kecintaan terhadap Nabi Muhammad—kepada penduduk Nusantara. Dalam konteks ini, para ulama sufi juga melakukan penyalinan dan penulisan serta penggubahan teks-teks keislaman sebagai media untuk penyebaran ajaran Islam. Melalui karya tersebut, para ulama sufi mewacanakan nilai-nilai Islam hingga masuk ke sanubari penduduk Nusantara (Abdul Hadi W. M., 2000).

Fenomena tersebut juga terjadi di kalangan ulama Minangkabau, utamanya pada akhir abad XIX hingga permulaan abad XX. Penyalinan, penggubahan dan penulisan teks keislaman ke dalam bentuk syair tidak lain dimaksudkan untuk mempribumikan ajaran Islam; memudahkan proses transmisi berbagai pengetahuan keislaman. Dalam rangka inilah, banyak ulama Minangkabau memilih genre syair untuk berkarya. Beragam pengetahuan keislaman seperti fikih, tasawuf, hadis, dan bahkan polemik keagamaan (juga sosial-budaya) digubah menjadi bentuk syair. Salah seorang yang cukup intens dalam kepengarangan syair adalah Inyiak Canduang.

Syair-syair yang terkandung di dalam naskah-naskah (manuskrip) karya Inyiak Canduang dan ulama Minangkabau lainya itu merupakan sumber penting. Dengan warna bahasa dan estetika lokal, ulama tersebut telah menyemarakkan dinamika Islam Minangkabau. Mereka mampu mengemas pengajaran, pengetahuan dan bahkan perdebatan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Melalui syair-syair tersebut dapat menjelaskan tradisi bersastra dan beragama di kalangan ulama Minangkabau. Pastinya, melalui syair-syair tersebut, juga dapat memberi gambaran tentang dinamika kehidupan beragama dan bermasyarakat di Sumatera Barat (baca: Minangkabau) pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Dari semua itu dapat diungkap nilai-nilai yang relevan dan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan sekarang.

Akan tetapi, sayangnya naskah-naskah syair karya ulama Minangkabau tidak mudah ditemukan. Keberadaannya masih tersebar di berbagai tempat di Sumatera Barat, khususnya di surau-surau tarekat. Barangkali, inilah yang menjadi faktor utama minimnya kajian terhadap karya-karya jenis tersebut. Penyebab lainnya dimungkinkan juga karena syair-syair tersebut masih ditulis dengan aksara Arab dan Arab Melayu (Jawi), sehingga sedikit rumit dan memakan banyak waktu untuk mengkajinya. Penyebab lainnya, seperti yang dikatakan Suryadi (2004: 2), bahwa ada kecenderungan peneliti, baik para sarjana Barat maupun Timur, lebih menyenangi teks-teks sastra yang panjang atau prosa sejarah. Adapun syair-syair Islam kurang mendapat perhatian.

Pramono adalah: Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Universitas Andalas