Oleh: Dwi Hilda Putri

 

Virus Corona adalah virus RNA positif yang beruntai tunggal yang tidak tersegmentasi. Sebagian besar virus corona menginfeksi hewan. Sebelumnya, hanya ada 6 jenis virus corona yang diketahui menginfeksi manusia, yaitu 229E dan NL63, OC43, HKU1, Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV), dan Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus (SARS-CoV).

Kasus terbaru inveksi virus corona adalah virus yang diisolasi dari saluran pernapasan pasien di Wuhan.  Awalnya, virus baru ini diberi nama sesuai dengan asal kasus pertama muncul, yaitu Virus Wuhan. Kemudian World Health Organization (WHO) menyebutnya dengan 2019-nCoV, dan akhirnya International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV) menamainya dengan SARS-CoV-2. Adapun istilah COVID-19 yang sering kita dengan sekarang adalah kepanjangan dari Coronavirus Disease-19, yang merupakan nama penyakit yang ditimbulkan oleh infeksi SARS-CoV-2.

COVID-19 memiliki banyak kesamaan dengan wabah SARS di Guangdong pada tahun 2003: Penyebaran virus dimulai pada musim dingin. Meskipun, sampai saat ini belum diketahui dengan pasti sumber infeksi virus yang menyebabkan penyakit COVID-19, namun kasus-kasus awal ditelusuri karena adanya kontak dengan hewan liar yang masih hidup di pasar.

Dengan hampir 335,000 kasus COVID-19 di dunia yang dikonfirmasi, tidak ada keraguan bahwa SARS-CoV-2 dengan cepat menyebar di seluruh dunia. Beberapa faktor yang memperparah penyebaran infeksi ini adalah karena kurangnya pengujian yang tersedia, fakta bahwa virus ini sangat menular dan gejala sering tidak muncul hingga dua minggu.

Virus ini menular dan menyebar dalam beberapa cara, yaitu melalui droplet yang dihasilkan dari bersin atau batuk, atau virus yang  menempel pada permukaan, di mana ia dapat hidup selama sekitar 24 hingga 72 jam, tergantung pada bahannya. Berdasarkan cara penularannya, maka sangat penting menemukan strategi penanganan yang tepat untuk mengatasi infeksi ini. Saat ini WHO telah menetapkan COVID-19 sebagai salah satu pandemik abad ini. Kekahwatiran terbesar para ahli setiap kali infeksi pada saluran pernafasan muncul adalah terulangnya endemik influenza 1918 atau dikenal juga dengan flu Spanyol, yang menewaskan lebih kuran 200.000 orang.

Baca juga :  Kisah Suram Tahanan Muslim Saat Ramadhan di Penjara Inggris

Sejak coronavirus atau COVID-19 pertama kali muncul di Wuhan, Cina pada akhir tahun lalu, banyak dari kita mulai belajar bahasa pandemi baru. Frasa seperti ” “Social distance” dengan cepat menjadi bagian percakapan sehari-hari. Penggunaan terminologi seputar COVID-19 yang cukup banyak, kadang dapat membingungkan.  Berikut ini penjelasan dari istilah-istilah tersebut.

Karantina dan isolasi diri

Kedua istilah ini ditujukan untuk orang-orang yang terinfeksi atau pernah terpapar virus. Karena masa inkubasi COVID-19 yang relatif lama, siapa pun yang mungkin terpapar dengan seseorang positif terkena virus atau yang bepergian ke wilayah wabah aktif, dapat diminta untuk mengkarantina diri mereka sendiri dan menghindari kontak dengan orang lain.

Pada kasus COVID-19, biasanya karantina dilakukan selama 14 hari. Jika periode itu berlalu tanpa tanda-tanda gejala, dapat dianggap bahwa orang yang dikarantina tidak terinfeksi.  Perbedaannya dengan isolasi diri adalah, jika seseorang ditemukan positif COVID-19 tetapi tidak menderita gejala cukup serius maka tidak memerlukan rawat inap. Dalam kasus ini akan direkomendasikan untuk mereka mengisolasi di rumah mereka sendiri, menghindari semua kontak dengan orang lain. Lembaga-lembaga kesehatan telah mengeluarkan panduan tentang langkah-langkah yang harus diambil seseorang yang mengasingkan diri, termasuk mengenakan masker setiap kali mereka berhubungan dengan orang lain dan memantau gejalanya.

Social Distancing

Social Distancing/pembatasan sosial bertujuan untuk memperlambat penyebaran COVID-19. Stategi ini ditujukan untuk orang-orang yang belum pernah terpapar dengan COVID-19. Disamping itu, Social Distancing juga penting bagi Carier, yaitu orang yang terinfeksi COVID-19, namun tidak memiliki gejala infeksi coronavirus/asimtomatik. Golongan ini tanpa disadari dapat menjadi pembawa virus dan secara tidak sadar menyebarkan virus ke orang yang berisiko lebih tinggi untuk menderita infeksi yang parah bahkan menyebabkan kematian.

Idenya,  Social Distancing dilakukan dengan cara sebanyak mungkin tetap berada di dalam rumah. Pada kondisi yang mendesak, dimana diperlukan untuk pergi ke luar, sangat disarankan untuk menghindari kelompok-kelompok besar (pemerintah federal Amerika merekomendasikan agar orang tidak berkumpul dalam kelompok yang lebih besar dari 10 orang) dan menjaga jarak dengan orang lain (menurut WHO minimal  sekitar 1 meter). Sejak pemerintah menghimbau masyarakat untuk melakukan gerakan social distancing, banyak kegiatan yang melibatkan orang banyak, seperti seminar/ konference, perta pernikahan dan lainnya terpaksa dibatalkan. Meskipun risiko terinfeksi coronavirus sedikit lebih rendah pada orang dalam klompok kecil, namun dibeberapa tempat, kebijakan untuk menutup beberapa tempat hiburan, mall restoran dan lain-lainnya juga dikeluarkan.

Baca juga :  UU Omnibuslaw Cipta Lapangan Kerja dan Ketimpangan

Penggunaan istilah Social Distancing oleh beberapa ahli psikolog dan pekerja sosial dianggap bermakna  membuat jarak sosial. Rekomendasi yang meminta untuk menjaga jarak sosial dengan orang lain, akan menimbulkan rasa bosan, padahal berada dekat dengan teman-teman dan komunitas akan membuat hidup menyenangkan. Perasaan tidak nyaman akan mengarah ke stres dan berujung pada penurunan sistem imunitas.

Ide utama dari Social distancing  adalah menghindari kontak fisik dengan orang lain. Hal ini kemudian mendorong ahli untuk mengadopsi istilah ” phisic distancing”. Gagasannya sama, bahwa masyarakat diminta untuk menghindari kontak fisik, namun juga mengingatkan pentingnya menjaga kontak sosial. Kontak sosial melalui email, telepon, konferensi video, dan bentuk komunikasi lainnya penting untuk menghindari perasaan kesepian dan terisolasi.

Stay-at-Home adalah istilah yang berkaitan dengan Sosial distancing yang juga sering didengar. Istilah ini mengharuskan masyarakat untuk tinggal dirumah dengan pengecualian terbatas : misalnya bepergian untuk mendapatkan perawatan medis atau membeli makanan. Berkaitan dengan pengecualian terbatas ini, beberapa profesi atau lembaga jasa mulai mengeluarkan  kriteria Essential Services. Biasanya pada daerah yang mengalami suatu wabah yang cukup besar, semua layanan yang tidak penting ditutup sementara. Itu menimbulkan pertanyaan tentang apa yang memenuhi syarat sebagai esensial. Dibeberapa daerah Essential Services biasanya diperuntukan bank, pompa bensin, apotek, dan toko kebutuhan sehari-hari. Berkaitan dengan penanganan COVID-19 yang melibatkan banyak tenaga medis, saat ini pelayanan kesehana juga menetapkan kriteria Essential Services. Beberapa spesialis (seperti mata, kulit kelamin dan lain-lain) sudah mengeluarkan kriteria layanan yang dapat diberikan sebagai kriteia pengecualian terbatas. Pengecualian terbatas tidak saja diberlakukan pada pelayanan jasa, tapi juga aktifitas perjalanan. Nonessential Travel diterapkan agar masyarakat tidak melakukan perjalanan yang tidak penting. Beberapa kebijakan dilakukan untuk mendukung Nonessential Travel ini seperti pembatasan jam pengoprasioan alat transportasi umum dibeberapa kota.

Baca juga :  Fenomena "Homo Homini Lupus" di Tengah Wabah Covid-19

Lockdown

Secara umum, lockdown  adalah protokol darurat yang biasanya digunakan untuk mencegah orang atau informasi meninggalkan suatu area. Lockdown pada kasus coronavirus adalah kondisi dimana suatu negara melarang populasi meninggalkan daerah tersebut dalam upaya untuk mencegah penyebaran virus. Begitu juga sebaliknya, lockdown juga mencegah orang memasuki wilayah yang dikunci. Beberapa negara telah menerapkan lockdown sebagai strategi untuk mengendalikan virus.

Penetapan satus lockdown hanya dapat dibuat oleh seseorang yang memiliki otoritas di wilayah tersebut. Karena, kebijakan lockdown harus memperhatikan implikasi terhadap keadaan ekonomi, sosial, dan keamanan.

Masih terlalu dini untuk mengatakan seberapa efektif strategi lockdown terhadap coronavirus dapat efektif menangani. Belajar dari Italia, sebagai negara yang paling parah terkena dampak setelah Tiongkok, sejak menerapkan lockdown, infeksi masih terus meningkat. Salah satu penyebabnya adalah karena orang-orang masih dapat keluar dari prosedur lockdown yang ditetapkan.

Terlepas dari pro-kontra tentang pelaksanaan dan pemilihan strategi penanganan COVID-19 ini, perlu tidak nya social distancing diikuti dengan kebijakan lockdown. Social distancing adalah hal yang betul-betul harus dilakukan. Jarak fisik adalah alat intervensi dan mitigasi, cara untuk mengurangi dampak virus pada masyarakat melalui kontak pribadi yang terbatas. Strategi ini tidak akan menghilangkan virus, tetapi membuatnya lebih mudah untuk ditangani. Social distancing mengurangi jumlah infeksi dan membuat penyebarannya membutuhkan jangka waktu yang lebih lama. Hasilnya adalah lebih sedikit infeksi dan lebih sedikit kematian.

Penulis, Dosen Universitas Negeri Padang