Bisnis yang baik adalah bisnis yang diurus, sehingga para pengusaha harus fokus dalam membangun sistem dan manajemennya.

Malabar Arham, salah satu restoran top di Kota Padang. Restoran ini telah memiliki beberapa cabang. Selain di Kota Padang, Malabar juga telah membuka satu cabang di Jakarta.

Ciri khas yang ditawarkan Malabar kepada pelanggan adalah penggunaan rempahnya. Menu-menu restoran ini identik dengan rempah dengan resep turun temurun. Martabak Malabar dan nasi goreng adalah menu andalan dari restoran ini. Martabak Malabar memiliki tampilan martabak telur biasanya. Akan tetapi martabak Malabar memiliki bumbu rempah yang lebih kuat dan bisa dinikmati dengan pilihan kuah cuka atau kari.

Namun tidak banyak yang tahu mengenai siapa yang berada di balik restoran ini. Inioke melakukan perbincangan mengenai lika-liku bisnis kuliner dengan Adib Arham, salah satu dari orang yang berada dibalik kesuksesan restoran ini.

Merintis Malabar dan membuka cabang

Menurut Adib Arham, restoran ini dimulai dengan kaki lima di kawasan M.Yamin (Padang) pada 1997. Keluarga Adib Arham adalah keluarga yang memiliki basis pengusaha, mulai dari usaha menjual bahan bangunan, perabot sampai akhirnya hingga kini fokus pada bisnis restoran. Dari Yamin, lokasi restoran kemudian pindah ke Jalan Thamrin Nomor 1, Belakang Pondok, Padang, dekat Masjid Agung Nurul Iman.

Baca juga :  Satu Warga Limapuluh Kota Sembuh dari Covid-19

Ketika mereka menemukan tempat dan melihat bahwa usaha ini layak, maka diputuskan usaha ini menjadi bisnis utama keluarga dan Malabar dijadikan sebagai brand dari restoran yang mereka rintis tersebut. Lalu seluruh keluarga bergabung untuk mengembangkan Malabar Arham.

Cabang kedua Malabar di Bandar Purus di Jalan Ahmad Yani nomor 55 Padang dibuka pada 2015, dan cabang ketiga di Jalan Mahakam (dekat Gor Agus Salim) pada 2018. Kini Malabar tengah mempersiapkan cabang selanjutnya di Ampang (Padang).

“Kemungkinan akan dibuka sekitar satu atau dua bulan ke depan,” kata Adib.

Usaha ini awalnya adalah rintisan keluarga. Kini, usaha Malabar dikelola oleh generasi kedua, yaitu Adib dan saudaranya. Pengelolaan manajemen mulai sumber daya manusia, produksi dan keuangan kini diurus oleh Adib dan saudara-saudaranya.

Pada generasi kedua inilah Malabar mulai mencoba untuk mengembangkan bisnis mereka dengan membuka beberapa cabang sambil tetap memperkuat sistem dalam bisnis mereka.

“Semua cabang yang dibuka berasal dari kami yang mengelola bisnis ini.Saya bersama saudara-saudara sudah ikut lama dalam bisnis ini, sehingga ketika kami secara langsung dalam mengelola, kami hanya akan melanjutkan apa yang sudah ada sebelumnya. Mungkin jika ada bisnis yang macet ketika adanya generasi kedua karena mereka tidak paham mengenai bisnis itu,” jelas Adib.

Baca juga :  1 Unit Ruko di Kawasan Pasar Raya Padang Hangus Terbakar

Ketika ditanya, mengapa Adib lebih senang berada di belakang layar, Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Andalas ini menjawab bahwa selama ini lebih fokus dalam mengurus sistem sehingga tidak sempat untuk muncul di depan.

“Mungkin karena sibuk di belakang ya, untuk mengurus sistem jadinya tidak sempat untuk muncul. Mungkin nanti jika sempat saya akan lebih sering muncul di depan,” ujarnya.

Bisnis yang baik adalah bisnis yang diurus

Bagi Adib, bisnis yang baik adalah bisnis yang diurus, sehingga para pengusaha harus fokus dalam membangun sistem dan manajemennya. Masalah umum yang dihadapi para pebisnis adalah mengenai tata kelola, penjualan dan manajemen yang berantakan. Itu menjadi PR semua pebisnis agar mengelola bisnisnya menjadi semakin baik. Sehingga bisnis itu akan menjadi baik apabila semakin baik dikelola.

Ketika mencoba untuk membuka cabang di Bandar Purus pada 2015, Adib menemukan bahwa cabang ini tidak sesuai dengan ekspektasi. Cabang itu sepi pelanggan meskipun brand Malabar sudah mulai dikenal oleh publik. Membutuhkan waktu lama untuk membangun citra di cabang ini. Untuk itu ia harus memutar otak agar restoran cabang ini tetap survive.

Baca juga :  DPC Gerindra Pasaman Terbitkan SP 1 untuk Anggota Dewan Pelanggar PSBB

“Ya, harus mengkaji ulang ilmu yang lama, buka buku lagi. Butuh waktu sekitar lima sampai tujuh bulan untuk menstabilkan penjualan di cabang baru itu. Tapi untuk cabang ketiga kami sudah cukup kuat sehingga membutuhkan waktu yang lebih singkat untuk membuatnya stabil,” paparnya.

Selanjutnya Adib menyebutkan banyak hal yang harus diperhatikan untuk memulai bisnis kuliner. Banyak yang bisa memasak tapi memiliki kekurangan dalam memasarkan masakannya. Jadi jika sudah memiliki produk yang oke, lalu harus belajar untuk membuat makanannya laku di pasaran. Seandainya ingin memulai bisnis kuliner, harus divalidasi dulu apakah masakan kita sesuai dengan lidah masyarakat.

Adib menekankan pentingnya melakukan riset mengenai selera pasar. Biaya untuk riset memang besar, namun biaya itu tidak sebanding dibandingkan dengan biaya modal dan kerugian setelah tutup karena tidak sesuai dengan selera pasar.

“Banyak bisnis kuliner yang akhirnya tutup karena pebisnis yang hanya mengikuti kata hatinya tanpa melihat kondisi pasar hingga akhirnya usaha mereka sepi,” pungkasnya.

Obrolan menarik inioke dengan Adib ini bisa juga ditonton di kanal YouTube Inioke Podcast. (patra)