Agam, inioke.com — Relawan Tanggap Covid 19 Jorong Baso, Kenagarian Tabek Panjang, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam bersama-sama dengan masyarakat, didukung  para perantau, melakukan kegiatan tanggap wabah Covid 19. Kegiatan berupa penyemprotan disinfektan, pengumplan data dan kampanye bahaya Covid-19 melalui baliho. Kegiatan juga disertai dengan aksi memantau perantau yang pulang kampung.

Demikian disampaikan Ketua Relawan yang juga Ketua Pemuda setempat, Muhammad Alfaisal Sutan Malenggang,  didamping Sekretarisnya Afriadi, kepada inioke.com, Minggu, 12 April 2020.

“Ini kegiatan kali kedua, setelah penyemprotan pertama dilakukan minggu 5 April lalu,” kata relawan yang biasa dipanggil Lenggang itu.

Sebagai informasi, bahwa Baso merupakan daerah perlintasan (jalan nasional) dan kota satelit diantara Kota  Bukittinggi dan Kabupaten 50 Kota, juga memiliki Pasar terbesar untuk wilayah Agam Timur. Di Baso pun terdapat Puskesmas yang memiliki Unit Gawat Darurat dan ruang rawat inap. Di Baso pula terdapat beberapa kantor resmi pemerintahan, seperti Kantor Urusan Agama, Bank-bank serta kantor pos. Tidak jauh dari Pasar Baso ditemui kampus Institut Pemerintan Dalam Negeri (IPDN) yang memiliki ribuan mahasiswa.

Baca juga :  Masuk Mentawai, Wagub Sumbar Diperiksa Ketat

“Oleh sebab itu Jorong Baso, yang memiliki 8500 KK, termasuk wilayah yang padat dan sangat rawan, bahkan memiliki potensi penyebar virus yang tinggi karena lalu lalang masyarakat dari pelbagai daerah, perlu mendapat perhatian serius,” tegas Imran Pangaduan, Sutan Mudo yang menjadi pengarah dalam tim relawan ini.

Menurut Wesdimar dan Doni Suhendri sebagai Pembina Relawan Tanggap Covid 19, kegiatan ini langsung didampingi Bupati Agam, Indra Chatri Dt Malako Nan Putiah. Daerah yang disasar adalah rumah penduduk, pasar, los-los terbuka dan kios-kios yang jumlahnya ratusan.

Relawan aksi lawan corona di Jorong Baso, Agam

“Kita menggunakan mobil L 300 dengan tangki yang sudah dibuat khusus  dan memiliki daya tampung lebih kurang 1000 liter air. Kemudian relawan akan bergerak ke rumah-rumah penduduk, los-los, kios-kios dan kantor-kantor  yang jumlahnya lebih dari 1000 unit sambil penyemprotkan disinfektan,” lanjut Wesdimar.

Memantau Perantau

Para relawan juga melakukan pemantauan para perantau yang pulang kampung, sebagai antisipasi penyebaran wabah virus corona. Kepada warga, relawan meminta perantau yang baru pulang agar mengisolasi diri selama 14 hari. Jika tidak diindahkan, relawan akan mengabil tindakan tegas. Hal ini karena Baso telah disepakati menjadi daerah dengan pembatas sosial berskala kecil (PSBK). Semua harus ikut aturan bersama.

Baca juga :  Ledakan Kasus COVID-19 di Sumbar Diprediksi Akhir Mei Nanti, Waspadalah!

 

Untuk kelancaran aksi, relawan membuka posko di Jalan Simpang Batu Sangkar. Selain posko sebagai pusat informasi, relawan juga menyebarkan baliho imbauan bahaya virus dan penanggulanngannya ke seluruh jorong “Ada sekita 15 baliho berukuran 1,5 x 2 meter yang disebar di tempat-tempat strategis di sekitar Baso,” lanjutnya

Semua kegiatan yang dilakanakan oleh relawan memanfaatkan swadaya masyarakat dan potensi dari rantau. Masyarakat dengan semangat membantu relawan dengan uang atau menyediakan bahan-bahan yang diperlukan . Begitu juga para perantau Baso, yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Anam Suku Baso (IKAMBA) yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan ada yang dari luar negeri ikut berpatisipasi dalam kegiatan melawan virus ini. (Taufik)