Oleh: Pramono

 

Euforia peringatan tahun baru (selalu) menyisakan sampah; sampah apa saja. Tiap tahun, selalu begitu. Keesokan hari, setelah malam perayaan tahun baru, semua media memberitakan masalah tersebut. Tiap tahun, selalu begitu. Ternyata, tak pernah ada perubahan pada kita, meskipun semua merasa hal seperti ini tidak baik.

Naskah ini tidak ada kaitannya dengan permasalahan tersebut. Tetapi, berkaitan dengan sesuatu yang penting sebagai tanda pergantian tahun baru, yakni almanak.

Satu almanak atau penanggalan Masehi yang pernah diusahakan oleh ulama Minangkabau awal abad XX adalah Almanak Sanawiyah (almanak tahunan). Almanak dalam bentuk buku ini diterbitkan oleh penerbit Tsamaratoel Ichwan, Bukitinggi pada 1935.

Sampul buku almanak sanawiyah

Buku setebal 60 halaman ini ditulis dengan Jawi dan diusahakan oleh Jana’id Muhammad. Pada bagian depan buku tertulis: “Almanak Sanawiyah untuk tahun 1354 / 1935 -1936 / Dihisab oleh Jana’id Muhammad / Atas Pimpinan Yang Mulia Inyik Syekh Jamil Jambek / Bukitinggi / Dengan Perjalanan Bulan Dengan Matahari / Disuratkan Pula di Dalamnya Waktu-waktu Sembahyang yang Lima / Drukkerij Tsamaratoelichwan Bukttinggi / 1935.

Baca juga :  Banyak Tempat Penyimpanan Ribuan Naskah Tersebar di Rumah dan Surau di Sumatera Barat

Menarik kemudian nama Syekh Jamil Jambek yang disebutkan sebagai “pemimpin” dalam penerbitan almanak tersebut. Ia adalah satu di antara beberapa ulama Minangkabau ahli falak; murid dari Syekh Thaher Jalaluddin yang juga dijuluki sebagai al-Falaki. Apria Putra (2011) menyebutkan bahwa salah satu karya Syekh Jamil Jambek dalam bidang ilmu falak dan masih dalam bentuk manuskrip adalah “Muqaddimah fi Hisabil Falakiyah Mukhtashar Mathla’ assa’id fi hisabat al-Kawakib”  yang berisi tentang Kusuf dan Khusuf, kiblat dan lainnya.

Selain Jana’id Muhammad, Syekh Jamil Jambek dan Syekh Thaher Jalaluddin merupakan ulama yang terkemuka dalam perdebatan masalah hisab di Minangkabau. Permasalahan hisab, khususnya penentuan Ramadhan dan Idulfitri, merupakan salah satu wacana yang diperdebatkan di kalangan ulama Minangkabau pada awal abad ke-20.

Dalam konteks itu, mudah ditafsirkan pentingnya kehadiran buku Almanak Sanawiyah pada masanya. Buku ini (sekaligus) menjadi “suara” ulama golongan Kaum Muda berkenaan dengan polemik hisab. Almanak ini selain digunakan sebagai acuan tentang tanggal, juga berisi jadwal sholat berdasarkan hitungan putaran bulan dan matahari.

Baca juga :  Nasrul Abit : "Tungku Tigo Sajarangan Jan Diasak"

Menariknya, pada bagian pendahuluannya disebutkan bahwa penentuan waktu berpedoman dengan jadwal kereta api. Menurut penulisnya, jam yang terpakai di Sumatera Barat pada saat itu lebih cepat 12 menit dibandingkan dengan jam yang digunakan dalam jadwal kereta api. Dituliskan seperti ini: “Adapun jam yang terpakai bagi hisab almanak ini ialah jam yang terpakai pada kereta api. Pada ini, waktu di Sumatera Barat yang mana jam kereta api ini 12 menit telatnya (terkemudian).”

Keterangan tersebut tentu saja menjadi informasi penting bagi khalayak luas pada masa itu, terutama berkaitan dengan jadwal salat, khususnya jadwal salat lima waktu. Dalam hal ini, penulisnya menganjurkan, “Dan lagipula Tuan-tuan dan Anku-anku, lebih mudah membetulkan jam kepada jam kereta api daripada membetulkan jam sendiri.”

Selain itu, almanak ini tidak hanya membantu untuk memberi acuan hari apa, tanggal berapa. Tetapi, lebih dari itu, pada bagian awal buku ini diuraikan tentang fenomena alam tentang gerhana matahari dan bulan. Dalam daftar tanggal di bagian kolom terakhir ditulis “peringatan” yang kolomnya dikosongkan. Tujuannya untuk diisi keterangan oleh pemilik almanak, terutama catatan-catatan rencana kegiatan atau ingatan kejadian atau peristiwa; semacam buku agenda juga. Almanak ini merupakan almanak yang sangat informatif dan bernilai sejarah. (*)

Baca juga :  DPRD dan Pemko Padang Panjang Bahas KUA-PPAS di Akhir Pekan

 

Pramono, Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Universitas Andalas