Jakarta, inioke.com–Para milenial memiliki peran besar dalam mencegah dan melakukan kesiapsiagaan coronavirus disease 2019 atau covid – 19. Setiap orang bisa menjadi penyebar virus dengan kode SAR-CoV2 ini. Kesadaran terhadap penyebar potensial perlu mendapatkan perhatian bersama.

“Kita harus mulai dari kita sendiri. Kita tidak sedang berperang dengan cepat tapi kita berperang dengan diri sendiri. Ya, itulah kenapa saya di sini untuk menyadarkan kita semua, ya anak muda ini supaya lebih aware, kalau kita ini sebenarnya adalah kunci juga untuk menghentikan penyebaran virus ini,” ucap Staf Khusus Presiden, Adamas Belva Syah Devara, dalam telekonferensi di Graha BNPB, Jakarta Timur, Senin (23/3).

Adamas meyakinkan di hadapan milenial bahwa virus Corona tidak menyebar dengan sendirinya. Menurutnya, generasi milenial berpotensi sebagai generasi penular terbesar. Melihat data di Korea Selatan, ratusan ribu orang yang melakukan tes terdapat 25.000 hingga 300.000 orang. Hasil tes tersebut menunjukkan 30% kasus positif pada orang dengan usia 20 hingga 29 tahun.

Baca juga :  Menjaga Keselamatan serta Kesehatan Penyelenggara dan Pemilih Tiap Tahapan

“Ini tiga kali lebih besar daripada grup selanjutnya atau age group selanjutnya, 30 – 39 (tahun) dan dua kali lebih besar daripada age group 40-49 (tahun). Jadi mayoritas itu sebenarnya yang sakit itu anak muda,” kata pendiri Ruang Guru tersebut.

Selain itu, Adamas meminta generasi milenial untuk saling menjaga kesehatan mental, terus bersosialisasi dengan orang lain memanfaatkan teknologi meski tengah menjalani social distancing atau menjaga jarak aman sebagai bagian dari peran dan sumbangsih anak muda kepada negeri dalam mencegah terjadinya penyebaran COVID-19.

“Tidak ada social distancing, generasi milenial adalah yang paling terpapar dengan problem mental health seperti depresi, merasa kesepian dan lain-lain,” katanya.

Menurutnya, meski melakukan jaga jarak secara fisik, namun generasi milenial masih bisa dan tetap harus melakukan tindakan sosial dengan memanfaatkan teknologi seperti menggunakan konferensi telepon menghubungi teman-temannya untuk memeriksa apakah ada yang merasa kesepian dan lain sebagainya.

Bisa juga, kata dia, dalam melaksanakan fungsi manusia sebagai makhluk sosial anak-anak muda dapat bermain game bersama dengan menggunakan video conference atau layanan obrolan lainnya.

Baca juga :  99 Orang Positif COVID-19 di Kota Padang hingga Hari ini

Alasan mengapa harus dilakukan kegiatan sosial semacam itu adalah meningat bahwa COVID-19 tidak hanya memiliki dampak akan kesehatan fisik dan memperlambat ekonomi negara tapi juga harus diperhatikan tentang dampaknya bagi kesehatan mental manusia.

“Karena ia ada economy impact, ada health impact tapi mental health ini juga penting. Jadi jangan menyebarkan hoaks, fungsi edukasi harus jalan dan yang ketiga coba cek teman-teman pastikan mereka oke,” tegas dia.

Dia juga meminta khusus kepada generasi muda untuk menahan diri, terus melakukan jaga jarak dengan tidak keluar dari rumah jika tidak mendesak. Hal itu harus dilakukan karena generasi muda merupakan salah satu kelompok umur paling besar yang tertular COVID-19 meski tidak memiliki gejala berat.

Meski tidak memiliki gejala mereka masih tetap bisa menginfeksi ke orang-orang rentan seperti kelompok lanjut usia atau mereka yang memiliki penyakit penyerta.

Lebih lanjut menurut Adamas, sebagai anak muda sudah seharusnya memiliki kewajiban untuk stop menyebarkan informasi yang tidak benar dan melakukan segala arahan yang sudah dianjurkan pemerintah terkait pencegahan penyebaran COVID-19. Dalam hal ini yang menjadi fokus adalah untuk menolong sesama.

Baca juga :  Meninggalkan WHO, Justru Akan Membuat Amerika Sakit dan Sendirian

“Ayo bertanya pada diri sendiri, apa yang bisa saya lakukan untuk negeri? Menyalakan lilin lebih baik daripada menyalahkan kegelapan,” tutupnya.

Di sisi lain, Juru Bicara Gugus Tugas Achmad Yurianto mengingatkan pada Sabtu lalu (21/3) bahwa data Kementerian Kesehatan dan data global menunjukkan bahwa kelompok usia muda memiliki daya tahan lebih baik dibandingkan dengan mereka yang berusia lanjut.

Ia menegaskan bahwa bukan berarti kelompok yang usia muda ini tidak bisa terkena. Bisa terkena dan tanpa gejala inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor cepatnya penyebaran ke orang lain karena mereka terkena tanpa gejala dan kemudian tidak melakukan isolasi diri. (IO/BNPB)