Saya analogikan, kalau ada harimau, satu ekor didalam kandang dan yang lain berkeliaran di ruang terbuka, mana yang perlu ditangkap?

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah ditempuh oleh Pemprov Sumbar untuk mendisiplinkan masyarakat agar patuh pada protokol kesehatan. Kepatuhan masyarakat ini penting untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Namun, tidak semua masyarakat mau tunduk pada aturan PSBB yang dilaksanakan lebih dari sebulan, dengan dua kali perpanjangan tersebut. Habis PSBB ini, masyarakat Sumbar akan memasuki era hidup normal baru (new normal).

Mengulas tentang PSBB dan hidup normal baru, inioke.com melakukan wawancara khusus dengan dr Andani Eka Putra, Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand, beberapa waktu lalu.

Melalui laboratorium yang dipimpinnya, Andani dan tim setiap hari memeriksa tes swab orang-orang yang berhasil ditelusuri dari kontak dengan terkonfirmasi positif Covid-19. Setiap hari pula, ia memberikan laporan kepada Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sumbar. Direktur Umum dan Sumber Daya RS Unand ini juga menemukan metode pool test untuk kluster penyebaran Covid-19. Pool test ini memungkinkan pemeriksaan swab dengan cepat dan biaya lebih murah.

Berikut wawancara inioke.com dengan dr Andani terkait pelaksanaan PSBB dan era normal baru.

Apa kendala utama sehingga PSBB tidak dipatuhi oleh masyarakat?

Kita bisa sama-sama melihat, diterapkannya PSSB, ternyata longgar juga, orang berjualan juga, kantor-kantor juga tetap bekerja, orang-orang tetap berkeliaran, secara umum tidak bisa ditahan. Kendala utamanya adalah sosial ekonomi. Artinya, bagaimana orang-orang memikirkan belanja dan makannya. Kalau tidak ada transaksi ekonomi, bagaimana orang akan bertahan hidup. Memang dilematis PSSB ini, tapi bagi kami yang sudah disampaikan ke Gubernur, yang paling penting itu adalah petugas Dinas Kesehatan, petugas laboratorium, untuk disupport memutus rantai penyebaran.

Baca juga :  Aidinil Zetra: Calon Petahana Diuntungkan dengan Keputusan Pilkada 9 Desember

Apa ancaman terburuk dari dampak Covid-19 terhadap perilaku masyarakat di Sumbar? Apalagi melihat kluster pasar raya adalah kluster terbesar penyebaran Covid-19 di Sumbar.

Saya analogikan, kalau ada harimau, satu ekor didalam kandang dan yang lain berkeliaran di ruang terbuka, mana yang perlu ditangkap? Tentu yang ada di ruang terbuka. Kalau kita menangkap harimau yang banyak berkeliaran di luar kandang, bagus apa tidak? Tentu bagus. Jadi begini, kita analogikan harimau yang di dalam kandang itu adalah orang yang ada di rumah sakit, yang sudah dinyatakan positif dan dikarantina. Sementara harimau yang berkeliaran di luar sana kita analogikan orang-orang tanpa gejala. Kalau kita anggap banyak, maka kita tangkap harimau yang berkeliaran di luar itu. Tentu merupakan suatu pekerjaan yang bagus, artinya kita bekerja untuk memutus penularan Covid-19 tersebut. Jadi pemahamannya adalah yang kita lakukan saat ini sudah bagus. Kita berupaya untuk memutus mata rantai penularan. Yang dilakukan saat ini adalah bagaimana cara kita menangkap sebanyak mungkin orang untuk dilakukan pemeriksaan.

Baca juga :  Hari Pertama PSBB, KI Sumbar Pleno Virtual Monev Badan Publik

Apakah ada kendala dalam pemeriksaan kluster Pasar Raya Padang?

Ada, kendalanya adalah masyarakat itu tidak mengerti, pemahaman masyarakat itu rendah, sehingga mereka tidak mau memeriksakan diri mereka. Saya sudah bicara dengan Kepala Dinas Perdagangan Kota Padang, saya minta kumpulkan sampel orang pasar raya sebanyak banyaknya untuk kita periksa. Pedagang tersebut justru tidak datang untuk memeriksakan dirinya. Kalau dari segi pemerintah saya rasa sudah cukuplah sosialisasinya.

Bagaimana pandangan terhadap new normal yang dianggap masyarakat sebagai herd imunity?

New normal tidak ada hubungannya dengan herd imunity. New normal adalah suatu perilaku pola hidup kembali pada kewajaran baru setelah kita melewati fase krisis. Konsep new normal ini sebenarnya sudah lama, sudah ada semenjak kiris ekonomi di Amerika dulu. New normal ini pun harus memenuhi beberapa syarat, salah satunya, negara atau daerah itu telah bisa mengontrol penyebaran infeksi virus. Kemudian, sebuah negara tersebut memiliki sistem yang bagus dalam penanganan Covid. Itu syarat yang paling penting menurut WHO untuk penerapan new normal. Pertanyaannya, kalau kriteria ini tidak terpenuhi apa akibatnya? Jika new normal tidak memenuhi syarat-syarat tadi sama seperti pembiaran masyarakat tumbang satu persatu, baru itu dikatakan dengan herd imunity. Tetapi selama kita bisa menjamin suatu sistem tersebut bisa berjalan dengan bagus dalam pengendalian Covid, kebijakan tersebut adalah kebijakan yang rasional. Sekarang kita lihat secara nasional, apakah kita sudah mampu mengendalikan penyebaran virus, ternyata belum bisa karena banyak persoalan ODP yang belum bisa ditangani. Apalagi yang berstatus ODP atau OTG, hampir 85 persen orang yang terinfeksi adalah OTG. Makanya semakin banyak yang kita tangkap, itu semakin bagus, karena bisa mendekteksi secepat mungkin. Jadi new normal itu harus didukung oleh sistem pengendalian infeksi. Caranya, kita mempunyai fasilitis untuk tracing, memiliki fasilitas untuk tes, fasilitas untuk isolasi, dan mempunyai fasilitas pelayanan kesehatan dan pengobatan. Asal ada variabel tersebut, maka new normal bisa kita terapkan. Ini juga bisa untuk membuktikan data kita bagus dan indikator-indikator yang kita punya juga bagus.

Baca juga :  705 Sampel Swab : Positif 11 Orang, Sembuh 23 Orang dan Negatif 671 Orang

Pelaksanaan hidup normal baru (new  normal) di Sumbar  dimulai hari ini (1/6) oleh Kota Bukittinggi. Sementara, kabupaten/kota lain akan menerapkannya selepas PSBB, 7 Juni nanti. (Heru Permana Putra)