Padang, inioke.com–Positivity rate (PR) Covid-19 di Sumbar naik sekitar 2-3 persen, walaupun masih di bawah standar WHO 5 persen. Jika angkanya terus meningkat maka Sumbar berada di zona bahaya yang berujung kematian tenaga kesehatan (nakes).

“Saat ini sedang terjadi adu cepat antara penyebaran dengan testing dan tracing. Jika testing dan tracing menang maka kita bisa atasi, jika kalah PR akan semakin naik. Peningkatan PR akan berkontribusi terhadap kematian. Semakin tinggi PR, kematian akan bertambah, tanpa tracing dan testing masif. Secara teori kita akan masuk zona bahaya, dimana PR akan naik lebih dari 15 persen, saat itu kematian nakes akan banyak terjadi,” ungkap Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi FKUA, dr Andani Eka Putra, Selasa (18/8).

Andani menemukan beberapa kasus positif di area wisata dan hotel. Kedua tempat tersebut paling banyak dikunjungi orang luar Provinsi Sumbar yang menjadi sumber utama penyebaran saat ini.

“Saya imbau mari kita periksa secara berkala hotel dan area wisata. Jika tidak mau sebaiknya lockdown saja daerah tersebut. Kita harus tegas dalam hal ini,” tegas Andani.

Baca juga :  Orang Pertama Positif COVID-19 di Agam Kemungkinan Terpapar dari Payakumbuh

Ia meminta pemerintah melakukan aksi nyata, semua orang yang datang dari luar provinsi harus diswab, termasuk orang sumbar sendiri.

“Saya sendiri selalu swab saat datang ke Padang,” ujarnya.

Selain itu, Andani menyampaikan, promkes dan perbaikan edukasi penting dilakukan dengan nyata, jangan hanya beretorika.

“Ini pekerjaan berat, namun jika bersama-sama akan bisa dilakukan. Sekali lagi jangan beretorika. Jadilah kita pekerja, bukan pengamat,” tekannya.

Andani juga mengingatan pers untuk menginformasikan secara masif dalam tiap pemberitaan daerah yang tidak melakukan protokol kesehatan. Pemerintah mungkin dengan sanksi, sedangkan para profesional (IDI, PPNI, IBI, Kesmas, MUI, DMI dan lain-lain) bisa membentuk grup-grup promkes yang masuk ke nagari dan jorong secara langsung.

“Kita harus masif untuk edukasi dan diikuti dengan sanksi. Secara sederhana saya ingin menggarisbawahi bahwa masalah covid adalah masalah kita bersama. Edukasi penting tapi paling sulit dilakukan, sambil menyiapkan ini, testing dan tracing harus maju ke depan. Tanpa edukasi yang baik, maka tracing dan testing ibarat membersihkan lantai yang sumber bocornya tidak pernah diatasi,” pungkas Andani. (ioc)

Baca juga :  Belum Ada Pemkab dan Pemko di Sumbar Mengirim Data Lengkap Penerima BLT