Padang, inioke.com–Stigma masyarakat yang memiliki ketakutan belebihan, masih menjadi masalah utama penanganan Covid-19. Hal ini terlihat dari adanya penolakan terhadap penguburan jenazah positif Covid-19, lalu adanya pasien yang telah sembuh sangat sulit bergabung dalam melakukan interaksi sosial yang mengakibatkan situasi menjadi semakin parah.

Demikian disampaikan Kepala Laboratorium Biomedik Unand, dr Andani Eka Putra, dalam dialog melalui konferensi video bersama IJTI Sumbar, Minggu (10/4).

Permasalahan lainnya, ungkap dr Andani, anggapan masyarakat bahwa virus Covid-19 sangat mematikan. Berdasarkan anggapan tersebut mengakibatkan para petugas medis menjadi takut dalam merawat pasien positif Covid-19.

“Saya berikan sedikit ilustrasi berdasarkan data yang kami miliki, tidak ada kasus yang muncul pada petugas medis yang berkontak langsung dengan pasien positif Covid-19 di ruangan isolasi. Sebenarnya petugas medis yang beresiko besar terkena dampak Covid-19 adalah petugas medis di puskesmas, petugas medis di IGD dan Poliklinik,” ungkap Andani.

Selanjutnya, ujar Andani, tidak ada satupun petugas medis yang terkonfirmasi positif Covid-19 mengalami keadaan yang berat.

Baca juga :  Bawaslu Padang : Pengawasan Partisipatif Masyarakat Sangat Dibutuhkan

“Dari semua kematian pasien di rumah sakit yang kami temukan, pada umumnya memiliki riwayat penyakit seperti jantung, diabetes, hipertensi dan lain sebagainya, yang tidak serta merta meninggal karena virus Covid-19. Inilah beberapa kondisi yang kami temukan di lapangan,” paparnya.

Ia menyampaikan, dari dua permasalahan utama yang dihadapi tersebut hendaknya pemerintah, akademisi dan pihak-pihak terkait agar mengoptimalkan serta memaksimalkan pendidikan penanganan Covid-19 kepada masyarakat.

“Semoga permasalahan tersebut dapat teratasi dan memudahkan dalam melakukan proses penanganan untuk memutus rantai penularan Covid-19,” pungkasnya. (boy)