Oleh: Maghriza Novita Syahti

 

Pandemi belum juga usai, pekerjaan mendesak pula untuk tetap diselesaikan. Sejak kasus virus COVID-19 di Indonesia meningkat, pemerintah meminta seluruh masyarakat Indonesia untuk membatasi aktivitas di luar rumah, termasuk bekerja, sehingga kebijakan work from home (WFH) diterapkan. Namun, tidak semua jenis pekerjaan yang bersahabat dengan kebijakan WFH ini, sehingga kebijakan ini juga menimbulkan kendala bagi beberapa profesi dan pekerjaan. Berbagai tantangan selama WFH pun dihadapi, seperti sulitnya berkonsentrasi karena ada gangguan dari orang-orang di rumah, koneksi internet yang tidak stabil, batasan waktu kerja yang terkadang kurang jelas, terkendala untuk berkoordinasi dan berkomunikasi dengan rekan tim sehingga kinerja terasa kurang optimal, dan lain sebagainya.

Bagi tim kerja, tentu koordinasi dan komunikasi sangat penting untuk keberhasilan tugas, tak terkecuali komunikasi jarak jauh yang sedang dialami saat ini. Komunikasi ini termasuk hal sepele namun membutuhkan usaha besar dan memberikan dampak yang besar pula. Selain membawa dampak pada produktivitas, komunikasi yang buruk dalam perusahaan juga memiliki dampak negatif lainnya diantaranya tidak efisien dalam menyelesaikan tugas, meningkatkan resiko konflik sesama tim kerja, mempengaruhi semangat kerja, mengurangi inovasi dan ide bagus, yang lebih besarnya dapat menyebabkan proses bisnis berantakan, dan  dampak lainnya yang juga berbahaya.

Baca juga :  PaPanyo Keju Bakal Dapat Izin Edar dari BPOM RI

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengatasi kendala komunikasi dalam tim kerja Ketika WFH tersebut. Kita perlu menentukan ekspektasi yang jelas tentang apa yang kita harapkan dari komunikasi hari ini. Tentukan tujuan komunikasinya apa sehingga kita bisa menetapkan intensitas komunikasi terkait pencapaian tujuan ini efektifnya seberapa banyak. Cara lainnya adalah menetapkan batasan di rumah yang dapat dipahami oleh seluruh anggota keluarga. Hal ini dapat dilakukan untuk meminimalisir resiko sulitnya berkonsentrasi karena gangguan orang di rumah. Namun demikian, penting pula bagi kita untuk tahu waktu untuk memulai dan mengakhiri pekerjaan sehingga keluarga di rumah tidak merasa tersisihkan akibat pekerjaan. Selain dua hal di atas, cara lainnya adalah perlu menekankan saling percaya antar anggota tim kerja. Karantina berkepanjangan juga berpotensi mempengaruhi psikologi dan produktivitas pekerja. Beberapa pendapat ahli menyarankan perusahaan berusaha meneruskan kondisi normal dan sikap saling percaya dalam kondisi yang tidak biasa, misalnya dengan melakukan aktivitas bersama secara daring seperti merayakan keberhasilan tim dalam mencapai target, merayakan ulang tahun, mengobrol ringan sambil memakan cemilan. Tidak kalah penting, agar tidak terjadi miskomunikasi dalam tugas dan penyelesaiannya, simpan catatan rinci tentang kemajuan Anda tentang kemajuan Anda dalam menyelesaikan tugas dengan menggunakan platform yang orang lain dapat mengaksesnya meski Anda sedang offline, misalnya Google Drive.

Baca juga :  CEO SoftBank Son akan Pasok 300 Juta Masker per Bulan ke Jepang

Jika Anda adalah leader, tanggung jawab menyediakan saluran komunikasi yang lancar adalah tanggung jawab Anda. Begitu pula upaya untuk menjaga psikologi dan menjadi penyemangat anggota tim Anda. Penting  untuk menciptakan kondisi kerja seperti itu agar semangat rekan-rekan kerja Anda dapat terjaga. Selain itu, tidak kalah penting untuk memastikan setiap anggota tim melakukan video conference  untuk membangun komunikasi dengan baik pada waktu yang telah disepakati.

Tips penting lainnya adalah usahakan untuk tidak bekerja di atas kasur. Tidak sedikit dari kita yang bekerja di rumah dengan menggunakan atasan rapi, bawahan rumahan, sambil bermalas-malasan di atas kasur. Jika Anda tidak mempunyai ruang kerja di rumah, sebisa mungkin Anda menciptakannya secara khusus. Tidak memiliki ruang kerja bisa menurunkan produktivitas. Kita bisa mencoba cara lain yang lebih bijak, misalnya memindahkan meja samping tempat tidur ke ujung ruangan yang jauh dari gangguan. Selain itu, bisa juga dengan meletakkan laptop Anda di meja dan Anda duduk di kursi tegak, situasi seperti di kantor Anda. Dalam cara ini, Anda perlu mewaspadai sakit di sekitar leher dan punggung.

Baca juga :  Masjid di Payakumbuh Bisa Gelar Salat Jumat Lagi Mulai 5 Juni

 

(Maghriza Novita Syahti, founder & psikolog VIP Consulting)