Uni Emirat Arab mengumumkan bahwa mereka telah menghapus blokade ekonomi terhadap Israel Pada Sabtu (29/8).  Dengan itu, kedua negara itu mengharapkan kerja sama di bidang pertahanan, kesehatan, pertanian, pariwisata dan teknologi.
UEA dan Israel mengharapkan keuntungan ekonomi dari kesepakatan ini, hal ini menjadi yang pertama kalinya terjadi antara negara-negara Arab dengan Israel dalam lebih dari dua puluh tahun terakhir.

Dengan kesepakatan ini, UAE merupakan negara Arab ketiga, setelah Mesir dan Yordania, yang telah menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.
Sementara itu, Palestina merasa kecewa dengan perkembangan itu, cemas karena akan melemahkan posisi Pan-Arab yang menuntut penarikan Israel daerah pendudukannya dan penerimaan kewarganegaraan Palestina sebagai imbalan atas hubungan normal dengan negara-negara Arab.

Di lain pihak, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan langkah UEA itu sebagai pengkhianatan terhadap dunia Muslim.

Seperti dilansir dari Al Jazeera, Khamenei dalam pidatonya pada Selasa (1/9), menyebutkan kesepakatan itu —yang disebut sebagai tikaman dari belakang oleh Palestina, akan mencoreng wajah UEA selamanya.

Baca juga :  Indeks kerawanan Pemilukada Sijunjung urutan ke-20 nasional

“Mereka mengizinkan rezim Zionis memasuki wilayah mereka dan melupakan Palestina. Ini merupakan arang di muka para orang-orang UEA… saya harap mereka sadar dan mempertanggung jawabkan apa yang telah mereka lakukan.”

UEA tidak begitu peduli terhadap komentar Khamenei. Dikutip dari Al Jazeera, pejabat luar negeri Jamal al-Musharakh menyebutkan, “Jalan menuju perdamaian dan kemakmuran tidak ditempuh melalui penghasutan dan ujaran kebencian… retorika seperti itu kontraproduktif untuk perdamaian di kawasan ini.”

UEA telah berusaha menjadikan perjanjian ini untuk memaksa Israel menangguhkan rencananya untuk mencaplok sebagian besar wilayah Tepi Barat —yang menurut PM Israel hanya sebagai pendudukan itu hanya untuk sementara waktu.

Menteri Luar Negeri UEA, Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan mengatakan ia ingin memastikan kembali komitmennya kepada komunitas Palestina “untuk mendirikan negara Palestina merdeka yang beribukota di Yerusalem Timur.”

“Kami akan tetap memendukung Palestina karena basis sejarah yang berasal dari keyainan yang menagkar dalam, keyakinan tidak tergoyahkan yang tidak akan pernah teegoyahkan oleh pertimbangan apapun,” kata Abdullah seperti yang dikutip Al Jazeera. (patra)
 

Baca juga :  Wali Kota Padang Panjang Apresiasi Manasik Haji Sepanjang Tahun