Oleh: Pramono

 

Hampir seluruh wilayah Sumatera Barat (minus Mentawai) merupakan tempat asal (sumber) naskah. Baik di wilayah darek maupun rantau terdapat skriptorium yang pernah menjadi pusat kecendekiaan orang-orang Minangkabau masa lampau. Saat ini, selain sudah banyak yang sudah ‘menyeberang’ ke berbagai negara, seribuan naskah masih dapat ditemukan di berbagai tempat di Sumatera Barat.

Selain surau, beberapa rumah gadang juga memiliki koleksi naskah (Pramono)

Seribuan naskah itu sebagian besar masih tersebar di tangan masyarakat sebagai koleksi pribadi dan kaum. Hanya sebagian kecil saja yang tersimpan di lembaga formal. Museum Nagari Adityawarman merupakan lembaga yang memiliki koleksi terbesar di Sumatera Barat, yakni sekitar 70-an naskah; disusul Ruang Labor Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (60-an naskah); Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat (30-an naskah); Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol (10-an naskah).

Di antara tempat keberadaan naskah yang penting di tengah masyarakat adalah surau. Keberadaan naskah itu sekaligus bukti bahwa surau pernah menjadi institusi penting dalam proses transmisi berbagai pengetahuan Islam.

Di surau itulah para ulama dari masing-masing golongan tarekat membangun jaringan guru-murid sehingga tercipta saling-silang hubungan keilmuan yang sangat kompleks. Seiring dengan penyebaran  paham keagamaan Islam di surau-surau tersebut, tradisi penulisan dan penyalinan naskah pun tumbuh subur. Para syaikh, ulama, buya, atau ungku yang mengajar di suatu surau, menyalin dan menulis naskah.

Baca juga :  Sapi Kurban Presiden Seberat 1,088 ton Diserahkan kepada Pengelola Masjid Istiqlal

Pada perkembangan berikutnya, baik ulama atau guru di sebuah surau maupun murid-muridnya banyak melakukan penyalinan naskah. Penyalinan naskah yang dilakukan ulama biasanya dilakukan atas permintaan murid atau orang lain. Adapun penyalinan yang dilakukan oleh murid-murid di suatu surau biasanya dimaksudkan untuk memiliki isi naskah. Salinan naskah tersebut nantinya akan dibawa pulang ke kampung halaman setelah ia “menamatkan pendidikan” di surau tempatnya belajar.

Kondisi seperti itu sekaligus memberikan gambaran bahwa surau bukan sekadar tempat belajar membaca Alquran atau belajar adab, melainkan surau juga merupakan tempat berlangsungnya segala aktivitas intelektual, center for excelent (Suryadi, 2000 & Azra, 2003). Lebih dari itu, pada masanya, surau layaknya “universitas” yang memiliki ciri khas bidang keilmuan (keahlian). Misalnya, Surau Tuanku Koto Tuo Kamang menjadi tujuan bagi orang-orang yang ingin mempelajari ilmu alat (Bahasa Arab), karena Tuanku Koto Tuo adalah ulama yang terkenal dalam penguasaan ilmu alatnya.

Selain surau, beberapa rumah gadang juga memiliki koleksi naskah, seperti Rumah Gadang Mandeh Rubiah di Pesisir Selatan dan Rumah Gadang Balun di Solok Selatan. Memang, dilihat dari segi jumlah tidak sebanyak koleksi naskah yang terdapat di surau. Namun demikian, dari segi kandungan isi (teks), naskah-naskah yang tersimpan di rumah gadang tersebut sangat lokal yang berkaitan dengan silsilah, tambo dan teks kesejarahan yang lainnya.

Baca juga :  Nama Penerima Bantuan di Situjuah Batua Ditempel di Tempat Umum

Sebagai warisan budaya tertulis, naskah-naskah itu merupakan khazanah budaya yang penting. Di dalam naskah terkandung beraneka ragam teks yang dapat digunakan untuk penelitian keagamaan, falsafah, kesejarahan, kesusastraan, kebahasaan, persoalan adat-istiadat, perundang-undangan, dan kajian-kajian dengan sudut pandang yang lain.

Sayangnya, kekayaan tersebut belum maksimal digali oleh banyak peneliti di negeri ini. Ditambah lagi banyak naskah yang sudah rusak dan mendekati kerusakan. Banyak faktor yang menyebabkan kerusakan itu terjadi, terutama faktor sikap pemilik naskah, umur naskah, cuaca dan bencana alam. Faktor lain yang juga sangat mengancam keberadaan naskah itu adalah adanya praktik jual beli naskah yang dilakukan oleh pewaris naskah dengan pihak luar negeri.

Beragamnya sikap pemilik naskah juga menjadi penghambat untuk usaha penyelamatan naskah. Tidak sedikit para pemilik naskah yang masih menganggap naskah-naskah miliknya sebagai benda keramat yang harus disimpan rapi, kendati isinya tidak pernah diketahui dan dimanfaatkan oleh khalayak umum. Akan tetapi, ada pula pemilik naskah yang menganggap naskah yang dimilikinya tidak bernilai, sehingga peneliti sering mendapati naskah-naskah rusak parah dan tidak dapat diselamatkan lagi.

Baca juga :  Mahasiswa KKN Unand Diharapkan Berperan Mencegah Covid-19 dan Stunting di Nagari

Upaya preservasi dan konservasi naskah-naskah koleksi masyarakat di Sumatera Barat akan memberikan citra kepustakaan di negeri ini. Upaya mulia ini akan dapat menampik tudingan miring tentang sikap kurang sadarnya kita terhadap pentingnya pengarsipan dokumen-dokumen yang menyangkut perjalanan sejarah bangsa.(*)

Pramono, Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Minangkabau FIB Universitas Andalas