Masyarakat dunia  sedang menyaksikan aksi protes atas rasisme dan ketidakadilan  ras yang dilakukan polisi. Peristiwa ini telah  menyebar ke lebih dari 140 kota di Amerika dalam sepekan sejak kematian George Floyd.

Para demonstran berbaris di jalan-jalan, mereka juga berkumpul di kedutaan  Amerika di Kanada,  Jerman dan sekitarnya. Semua demi mengekspresikan solidaritas , unjuk rasa di Amerika dan juga untuk menyoroti ketidakadilan yang  sistemik di dalam negeri mereka sendiri.

Media dunia juga menaruh perhatian. Halaman depan dan tajuk rencana  mulai dari media-media di Perancis, Meksiko  hingga Cina membahas kematian Floyd, pula hal kekerasan terhadap para pengunjuk rasa oleh penegak hukum, serta sikap  yang memecah-belah Presiden Donald Trump terhadap aksi protes yang dilancarkan.

Kritik pedas  juga datang dari sekutu lama dan  musuh bebuyutan Amerika, baik yang berkaitan dengan kepemimpinan presiden dan apa artinya Amerika di peta dunia dalam sepekan ini.

Perancis

Di Prancis, dewan editorial surat kabar berhaluan kiri Le Monde menulis,  “minggu ini ada dua pencitraan Amerika yang saling bertolak  belakang”.  Pertama, pencitraan tentang peluncuran roket baru SpaceX dan pendaratannya yang sukses di Stasiun Luar Angkasa;  “a new episode of Amaerica genius in the space race. Kedua, “pencitraan  yang disaksikan oleh jutaan orang di media sosial, tentang seorang pria kulit hitam yang ditelungkupkan di aspal, diborgol dan mati lemas di bawah lutut seorang polisi kulit putih.”

surat kabar itu juga menuliskan tentang Presiden Trump,  yang  tanpa rasa empati terhadap para korban ketidakadilan, dan tidak mencari akar masalah. Ia hanya menyoroti kekerasan para perusuh. Trump tetap dengan taktiknya yang  ia gunakan ketika ia naik ke tampuk kekuasaan: perpecahan dan konfrontasi.

judul koran independent Trump inflame Americ’s Injustice (time.com)

Inggris.

Di Inggris, meskipun pemerintah yang berasal dari  partai Konservatif  telah berusaha untuk meningkatkan hubungan dengan Amerika sejak keluar dari Uni Eropa, namun Menteri Luar Negerinya menolak untuk mengomentari peristiwa yang terjadi di Amerika.

Baca juga :  Polda Sumbar Mulai Laksanakan Operasi Ketupat COVID-19

Tetapi surat kabar mengambil sikap yang lebih kritis. “Trump sedang mencoba untuk membuat narasi memojokan pengunjuk rasa;  narasi kekerasan para demontrans terhadap polisi yang baik,” tulis dewan editorial dari Financial Times.

“Bagi orang Amerika hal itu tidak penting. Satunya cara untuk mengakhiri ketidakadilan rasial di Amerika adalah dengan mengakui bahwa persoalan ras dan ketidakadilan ekonomi saling berkaitan. Jalan keluar dari krisis Covid-19, kekerasan polisi, pengangguran, dan sebagian besar masalah Amerika lainnya adalah dengan saling mengaitkan semua  persoalan tersebut dan itu adalah sesuatu yang presiden tidak mampu lakukan. ”

Halaman depan surat kabar digital Independen mengatakan reaksi Presiden Trump terhadap para demontran telah “inflame America’s injustice”

Jerman

 Salah satu surat kabar terbesar di Jerman, Suddeutsche Zeitung, pada hari Selasa,  memuat judul.”Trump Declares War on America”. Selama beberapa dekade, kurikulum sekolah di Jerman menekankan sejarah negara itu dengan Nazisme. Siswa diajari bagaimana Adolf Hitler, yang terpilih secara demokratis, menggunakan retorika yang memecah belah serta militer untuk mengkonsolidasikan dirinya sebagai seorang diktator.

“Dari semua metode dalam menangani kerusuhan, Trump telah memilih cara yang  buruk,” tulis editorial. “Alih-alih mencoba menenangkan situasi, presiden semakin meningkatkan dan mengancam untuk menggunakan militer terhadap warganya sendiri. Orang Amerika terbiasa dengan polisi kulit putih yang membunuh orang kulit hitam, tetapi kasus ini sangat mengejutkan,” tambahnya, merujuk pada kematian George Floyd.

India

Tanggapan Trump memicu kecaman keras oleh dunia internasional jika ia dianggap sebagai pemimpin “negara non-barat,” kata sebuah komentar di harian berbahasa Inggris terbesar kedua di India, The Hindu. “Bayangkan jika ia adalah “presiden non-barat”, sementara ia menyebut para pengunjuk rasa sebagai” penjahat”, mengancam akan menembak mereka dan menggunakan militer untuk melawan mereka.

Baca juga :  Bobolnya Tokopedia dan Pentingnya Perlindungan Data Warga Negara

Setelah membersihkan para demonstran yang damai dengan paksa, ia kemudian berfoto di depan tempat ibadah, mengangkat kitab suci, ” katanya. “Bahkan saat ini, negara yang menjadi contoh atas perilaku kekerasan atas para demontran, kebrutalan polisi, dan presiden yang mengancam, tidak lain adalah Amerika Serikat”

India tidak asing dengan kerusuhan sosial. Pada bulan Februari, kerusuhan di ibukota New Delhi menyebabkan lebih dari 50 orang tewas, kebanyakan dari mereka adalah anggota minoritas Muslim. Itu adalah kekerasan agama terburuk dalam kurun beberapa tahun.  Polisi dan pemerintah nasionalis Hindu yang berkuasa dianggap menutup mata. Di Twitter, beberapa orang India, baik di India maupun di perantauan,  mengajak para pendukung pemerintah berbagi pesan kecaman tentang kematian George Floyd,  sambil menasehati orang yang sama atas kegagalannya mengutuk kekerasan agama di jalan-jalan Delhi.

Cina

 Di Cina, salah satu rival terbesar Presiden Trump, para pejabatnya mengutuk “standar ganda” Amerika karena Amerika pernah mengkritik pemerintah otoriter China dalam menangani  pengunjuk rasa di Hong Kong.

Dengan nada kesal media pemerintah China juga mempertanyakan kesungguhan komitmen Amerika tentang hak asasi manusia (HAM) ketika merespon unjuk rasa saat ini.

People’s Daily, surat kabar utama Partai Komunis Tiongkok, menerbitkan kartun yang menampilkan seragam seorang petugas polisi di bawah Patung Liberty yang retak dengan tagline “Beneath human rights”

Global Times, sebuah tabloid yang dikelola oleh Partai Komunis Tiongkok, membandingkan perilaku presiden Trump dengan Barack Obama tentang penanganan polisi terhadap demontran dengan kekerasan dan brutal.

Baca juga :  Wisuda ke 58, Senator Sumbar Apresiasi Universitas Tamansiswa Padang

“Pengganti Obama, Donald Trump, tidak melakukan apa pun untuk menenangkan para pengunjuk rasa. Ini sejalan dengan kebiasaannya, berbicara keras tetapi sedikit bertindak.”

Dalam pemilihan umum, suara dari komunitas kulit hitam tidak terlalu signifikan bagi Trump. Trump mendapatkan hanya 8 persen pemilih Afrika-Amerika empat tahun lalu. Pemilih kulit hitam selalu menjadi basis Partai Demokrat. Jadi ketika protes meningkat di seluruh negeri, Trump memainkan permainan politik lama yang sama dengan mempermalukan Walikota Minneapolis yang berasal dari Partai Demokrat

Pakistan

 Di Pakistan, yang memiliki hubungan militer yang lama dengan Amerika, surat kabar negara itu, Dawn, membuat  tajuk rencana di bawah  judul “Trump on the Warpath”

 “Apa yang ditunjukan oleh Trump adalah bahwa dia tidak akan mentolerir kritik atau evaluasi terhadap dirinya, dan bahwa dia tidak peduli seberapa tidak sopan tindakannya, dia akan serang balik,” tulis dewan editorial.

Tidak hanya sikap ini yang tidak dapat diterima dalam demokrasi, itu juga pengingat untuk semua orang bahwa seorang pemimpin yang meledak-ledak dan otoriter sedang berada di pucuk dan memegang kendali negara adidaya. Pada saat dunia memerangi pandemi yang telah melanda sistem kesehatan dan melumpuhkan ekonomi, presiden Amerika Serikat mengeluarkan mainannya dari kereta bayi untuk menyampaikan suatu  pesan berbahaya yang sarat dengan ancaman.

Meksiko

Di Meksiko, surat kabar La Jornada menyampaikan keprihatinan tentang skala kerusuhan yang bisa mencapai utara perbatasan. “Amerika, tampaknya berada di tepi jurang dengan resiko yang tidak terkirakan sebelumnya bagi penduduknya sendiri, tetapi juga untuk seluruh dunia.

Dan tampaknya tidak akan mungkin bahwa kegilaan kekuasaan di Gedung Putih saat sekarang akan membantu masyarakatnya keluar dari bencana. (Taufik/time.com)