Padang, inioke.com–Banyak salah kaprah terhadap penyemprotan disinfektan ke tubuh manusia. Diyakini hal tersebut bisa membunuh virus corona yang menempel di baju. Padahal, cairan alkohol dan klorin dalam disinfektan tersebut berbahaya bagi tubuh. Bahkan bisa memicu penyakit berbahaya seperti kanker.

Untuk itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) tidak menyarankan penyemprotan tersebut. Melalui laman Instagram @who, disebutkan bahwa penyemprotan disinfektan ke seluruh tubuh seseorang tidak bisa membunuh virus yang terlanjur masuk ke dalam tubuh.

Sebaliknya, penyemprotan tersebut justru bisa merusak pakaian yang dikenakan, bahkan melukai tubuh orang yang menerima tindakan tersebut.

“Menyemprotkan zat-zat semacam itu dapat merusak pakaian atau selaput lendir (seperti mata, mulut),” tulis WHO dalam informasi tersebut.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, mengatakan, cairan disinfektan kurang efektif melindungi manusia dari virus corona. Disinfektan hanya ampuh menghilangkan mikroorganisme yang menempel pada benda-benda mati.

“Sifatnya hanya sementara. Disinfektan ini adalah senyawa kimia yang digunakan di dalam proses dekontaminasi yang membunuh mikroorganisme, virus, bakteri pada obyek permukaan benda mati,” kata Wiku dalam konferensi persnya, di Graha BNPB, Jakarta, Senin (30/3), seperti dikutip kompas.com.

Baca juga :  Infeksi COVID-19 Secara Global Melampaui 1 Juta, Amerika Penyumbang Terbesar

Terkait dengan penyemprotan cairan disinfektan itu, Dokter spesialis paru, Jaka Pradipta, dalam wawancara live bersama kumparan mengatakan tujuan utama penyemprotan itu untuk benda-benda mati agar virus corona mati. Misalnya lantai, meja, peralatan medis, atau permukaan benda yang sering disentuh.

Dia menjelaskan, jika virus corona sudah masuk ke dalam tubuh seseorang, virus itu tidak akan bisa dihilangkan meski dilakukan dengan penyemprotan cairan disinfektan. Maka dari itu, Jaka menyarankan tidak perlu untuk menyemprotkan cairan disinfektan kepada manusia.

“Ketika sudah masuk ke dalam tubuh disemprot pakai apa saja dia tidak akan sehat, dia tidak akan bersih,” ujarnya.

Jaka menilai, sudah banyak orang yang sudah salah kaprah dengan penyemprotan cairan disinfektan. Karena sudah disemprot, mereka merasa bersih dari virus sehingga kecil kemungkinan mereka akan tertular virus corona.

“Yang salah kaprah sekarang adalah alat ini digunakan saat mau masuk gedung, saat mau masuk ke sebuah tempat yang akhirnya mereka merasa aku sudah bersih kok, jadi aku enggak harus social distancing lagi, aku bisa dekat-dekatan sama orang lain karena kan kitas udah disemprot. Nah jangan sampai kita berpikiran seperti itu,” ungkapnya.

Baca juga :  KPU Sumbar Inventarisir Permasalahan Tahapan Pilkada Lanjutan Pasca COVID-19

Sementara itu, penularan virus corona ke manusia tidak hanya terjadi dari virus yang ada pada benda mati, tetapi juga antara manusia.

Selain itu, penyemprotan cairan disinfektan kepada manusia juga memiliki risiko yang buruk bagi kesehatan. Jaka menuturkan, jika ada orang yang memiliki alergi dengan cairan disinfektan, dapat menyebabkan kanker.

“Kemudian dalam jangka waktu panjang bisa menyebabkan kanker karena zat itu berbahaya. Kita enggak tahu berapa tahun, setahun dua tahun, tapi semakin kita terpapar terus, semakin kita sering masuk ruangan, disemprot maka risiko itu ada. Bahkan WHO melakukan statement bahwa kita berhak untuk menolak apabila kita mau disemprot gitu karena itu adalah hak kita terutama kita yang alergi gitu yang langsung merah kulitnya kita boleh untuk menolak itu,” tuturnya.

Meskipun begitu, kata Jaka, tujuan peyemprotan disinfektan ini sudah baik dan tepat untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Namun tidak di sarankan untuk disemprot ke tubuh manusia. Ketika semua orang disuruh #dirumahaja di saat itulah dilakukan penyemprotan di fasilitas umum, seperti jalan, taman, kantor, pasar dan sebagainya. (GY/pelbagai sumber)

Baca juga :  Desrio Putra Ajak Masyarakat Patuhi Imbauan Pemerintah