Tahun ini, perayaan Ramadan dan Idul Fitri sungguh sangat berbeda.

Shalat Idul Fitri tetap dilakukan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi meskipun keduanya tetap ditutup karena lockdown. Kegiatan ini akan dilakukan dengan pengawasan dan kepatuhan penuh terhadap tindakan standar kesehatan,” kata Saudi Press Agency (SPA) seperti dikutip dalam Khaleejtimes.com.

Sebelumnya, diberitakan bahwa Penjaga Dua Masjid Suci, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, memberikan persetujuan untuk menggelar shalat Id di dua Masjid Suci tersebut. Hal ini disampaikan Presiden Jenderal Dua Masjid Suci ini, Sheikh Abdul-Rahman bin Abdulaziz Al Saud.

Shalat Idul Fitri dilaksanakan di Masjidil Haram di Mekkah dengan tetap melaksanakan physical distancing.

Shalat Idul Fitri dilaksanakan di masjidil Haram hanya diikuti oleh pengurus tanpa jemaah luar. Bagi masyarakat umum, pemerintah menyarankan untuk melaksanakan shalat Idul fitri di rumah masing-masing. Tempo melaporkan bahwa pemerintah Arab Saudi menayangkan ibadah Idul Fitri dari Ka’bah di Mekkah.

Idul fitri dirayakan oleh Muslim dengan Shalat Idul Fitri, diikuti dengan khutbah. Shalat dilaksanakan di Masjid atau tanah lapang.

Baca juga :  Menjaga Keselamatan serta Kesehatan Penyelenggara dan Pemilih Tiap Tahapan

Berbagai organisasi Muslim mencari alternatif teknologi dan virtual untuk tetap menjaga tradisi itu tetap hidup, seperti khotbah virtual, perayaan di media sosial.

Setelah shalat, orang-orang akan saling mengunjungi. Anak-anak mengenakan baju baru, dan sering mendapat hadiah. Makanan dan minuman disiapkan untuk menyambut kolega yang akan datang berkunjung.

Namun saat lockdown ini, orang-orang tidak dapat bepergian secara bebas. Coronavirus telah membuat muslim harus menegosiasikan perayaan Idul Fitri.

Meski begitu, banyak muslim yang tetap merasakan kesedihan pada Idul Fitri tahun ini.

“Pada satu sisi, ada kebahagiaan ketika bulan puasa berakhir, tapi kali ini akan sangat aneh rasanya ketika mengingat bagaimana kita merayakan tahun-tahun yang lalu… dimana kita berkumpul, berdandan pada pagi hari, dan melaksanakan Shalat,” Kata Fuad Musa, Muslim di Islamic Centre onf Chile di Santiago, Chili kepada Al Jazeera.

Di Tiongkok, Muslim di sana merayakan Idul Fitri secara daring lewat aplikasi Weibo (Media sosial populer di Tiongkok). Mereka mengunggah foto-foto tahun lalu dan berharap bisa merayakan Idul Fitri pada saat normal.

Baca juga :  Kemenag dan Dewan Masjid Indonesia Canangkan Gerakan Teladan Berkurban Nasional 2020

“Eid Mubarak! Saya berharap epidemi ini bisa dikalahkan segera dan kita bisa menikmati perayaan seperti sebelumnya!” sebut salah seorang Netizen dilansir dari lama Globaltimes.cn.

Ritual-ritual silaturahmi juga dilaksanakan secara daring. Meskipun epidemi membuat Idul Fitri berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kami masih bisa merayakannya dari kejauhan tidak bisa menghentikan hati kami untuk tetap berdekatan,” tulis seorang pengguna Weibo lainnya.

Hal yang menarik dilakukan oleh The Council of American-Islamic Relations (CAIR), yang menggunakan platform daring untuk membuat Muslim Amerika merayakan Idul Fitri.  Dilansir dari Al Jazeera, acara yang bertajuk #QuaratEid ini mengajak muslim untuk mengirimkan foto atau video untuk diunggah oleh staff CAIR secara daring, termasuk sosial di media.

“Idenya adalah untuk mengambil gambar, dan menyoroti sesuatu yang positif, sesuatu yang anda syukuri pada Idul Fitri yang tidak biasa ini… membagikannya dengan teman-teman dan masyarakat sesuatu yang menyenangkan,” kata Edward Mitchell, direktur CAIR, kepada Al Jazeera.