Padang, inioke.com–Kota Padang diharapkan jangan sampai masuk fase erupsi tahapan pengelolaan pandemi Covid-19. Hal ini sangat diwanti-wanti Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Dr dr Andani Eka Putra. Menurutnya, agar tak masuk ke dalam fase itu, Dinas Kesehatan Kota Padang harus berkolaborasi dengan laboratorium.

“Tugas kita jangan sampai masuk ke fase itu (erupsi atau eksponensial), caranya melalui kolaborasi Laboratorium dengan Dinas Kesehatan,” ujarnya.

Dijelaskan Dr Andani, saat ini Padang berada di fase patogenesis. Dimana di fase ini kejadian infeksi masih berada di bawah 40 persen. Kasus berat dan kematian masih sedikit, survailance dan diagnostik masif, penanganan awal di rumah sakit, dan pertempuran di lapangan.

“Di Padang angka kematian masih kecil, di kisaran empat persen dari jumlah kasus,” tuturnya.

Sedangkan di fase erupsi, angka kematian relatif cukup besar. Mencapai tiga ribu orang sehari. Angka positif Covid-19 pun mencapai 50 persen. Hal ini terjadi di luar negeri seperti di Italia maupun negara lain.

Baca juga :  Pekerja Pabrik PT Bumi Sarimas Indonesia Tuntut Pembayaran Gaji dan THR

“Mari kita edukasi masyarakat. Dengan kolaborasi antara Dinkes dan Laboratorium menjadi kunci, prinsipnya memutus mata rantai,” ujarnya.

Gagal paham mengenai Covid-19

Andani juga menyebut selama ini terjadi gagal paham mengenai corona virus disease 19 (Covid-19). Menurutnya, gagal paham dan salah kaprah terhadap Covid-19 itu mengakibatkan kesalahan dalam menanangani virus tersebut.

“Masalah utamanya bagaimana cara kita memahami Covid-19. Hampir semua lini, mulai dari masyarakat, aparatur pemerintah, dan tenaga kesehatan gagal paham mengenai virus corona,” tegasnya.

Ia melihat, selama ini terjadi ketakutan dan kecemasan tenaga medis saat menangani pasien Covid-19. Tenaga medis menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang berlapis-lapis, sehingga sulit bernafas. Begitu juga saat melakukan penguburan jenazah pasien Covid-19.

“Bahkan ada petugas medis yang meninggal karena sulit bernafas akibat berlapisnya APD yang digunakan,” jelasnya.

Kemudian Andani juga melihat penggunaan cairan disinfektan yang berlebihan dan tidak pada tempatnya. Disinfektan disebar di jalanan. Bahkan ada bilik disinfektan yang cairannya ditembakkan ke tubuh manusia, sehingga nantinya akan berakibat kepada iritasi dan kanker kulit.

Baca juga :  Tanah Datar buatkan film pendek cagar budaya, kerja sama dengan IAIN Batusangkar

“Untuk kulit ada antiseptik, seharusnya disinfektan disebar di gagang pintu, meja, dan tempat yang mudah tertempelnya virus. Karena itu, untuk memutus mata rantai ini perlu sosialisasi masif di tengah masyarakat, bagaimana masyarakat patuh mengenakan masker, tes PCR masif semua komponen tanpa Rapid Test, pemberdayaan nagari, dan lainnya, dengan memahami itu semua baru kita bisa bersahabat dengan Covid-19,” pungkasnya. (ioc)