Penyakitnya yang harus dijauhi, bukan orangnya.

 

Entah bagaimana perasaan Aswiliarti disaat berjuang melawan virus mematikan di tubuhnya, ia malah dikabarkan meninggal dunia. Kabar itu tidak hanya membuat terkejut rekan-rekannya. Tetapi yang lebih perih itu keluarganya, suami dan anak-anaknya.

“Mama gak boleh meninggal kata anak-anak saya sambil menangis. Mendengar anak-anak menangis, saya mendapat semangat luar biasa. Saya harus sembuh, saya harus sembuh, anak-anak butuh saya,” kenang Weli, begitu perempuan asal Pesisir Selatan itu akrab disapa.

Tangis anak-anaknya tersebut, membuat Weli bangkit dari keterpurukannya setelah dinyatakan positif COVID-19. Ia berjuang dengan tekad untuk sembuh demi keluarga, suami dan anak-anaknya. Sebelumnya, ia masih down dan shock, sehingga berpengaruh pada tubuhnya yang tidak mau makan. Namun, harapan anak-anak agar ia tetap hidup, karena mereka masih membutuhkannya membuat Weli berusaha keras menelan semua makanan yang ada. Mengonsumsi berbagai vitamin dan obat, serta melaksanakan berbagai saran kesehatan untuk memperkuat daya tahan tubuhnya, sehingga virus corona tersebut tidak berdaya.

Tidak hanya anak-anak dan keluarga yang menyemangati Weli. Pimpinannya, Bupati Pesisir Selatan, Hendra Joni, bersama istri, Lisda, juga ikut memberi semangat melalui video call. Para dokter, perawat hingga petugas kebersihan RSUP M Djamil, tempat ia dirawat, juga menyemangatinya untuk sembuh.

“Saya terharu, begitu banyak orang yang menyemangati saya untuk sembuh. Bahkan, seorang cleaning service yang belum saya kenal dekat ikut memberikan semangat setiap masuk membersihkan ruangan. Saya sangat berterima kasih sekali atas motivasi ini,” tuturnya.

Baca juga :  Hendri Septa Tinjau Pengerjaan Drainase Jalan Salak Ujung Gurun

Tidak hanya mengikuti anjuran kesehatan, ia pun memutus kontak dengan dunia luar agar bisa fokus pada upaya penyembuhan. Digantinya nomor ponselnya, hanya keluarga yang tahu. Sehingga tidak ada yang bisa mengontak selama isolasi, kecuali keluarga.

Akhirnya, perjuangan Weli untuk sembuh ini membuahkan hasil. Perempuan 44 tahun itu bisa bernafas lega setelah dinyatakan sembuh dari COVID-19 dan diperbolehkan pulang, Kamis (9/4), setelah melewati 18 hari perawatan di ruang isolatasi RSUP M Djamil Padang.

Bermula dari pelatihan di Padang

Penelusuran riwayat Weli terpapar COVID-19 bermula dari pelatihan kesehatan di Padang pada 11-13 Maret lalu. Ia salah seorang peserta dari Dinas Kesehatan Pesisir Selatan dengan instruktur dari Kementerian Kesehatan, Jakarta. Sempat pula diisukan, ia sekamar dengan peserta asal Malaysia, sehingga virus tersebut ditularkan dari sana. Namun, ia membantah ada peserta dari Malaysia dalam pelatihan itu. Ia sekamar dengan peserta dari Pasaman Barat, dan temannya itu negatif.

Pulang pelatihan, sebagai salah seorang Tim Akreditasi Puskesmas di Pesisir Selatan, ia bertemu banyak orang. Sepulang dari Padang, Weli singgah di Puskesmas Tarusan, kemudian mengikuti pertemuan di Salido. Begitu banyak orang yang ditemuinya setelah itu. Diantaranya, Pasien 02 yang bertemu dengannya di Puskesmas Tarusan. Selanjutnya, pasien 03 dan 04 juga pernah melakukan kontak dengan Weli, karena sama-sama bertugas di Dinas Kesehatan Pesisir Selatan.

Baca juga :  55 Orang Terkonfirmasi Positif COVID-19 di Sumbar

Dinyatakan Positif COVID-19

Setelah bertemu banyak orang tersebut, kesehatan Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Pesisir Selatan itu mulai menurun. Ia demam, batuk dan sesak napas. Dikiranya demam biasa dan sesak napas karena asma. Namun, penyakitnya itu tak kunjung hilang, bahkan makin parah. Akhirnya, ia berkonsultasi dengan kakaknya dr Andani Eka Putra, yang juga Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi FK Unand. Kakaknya menyarankan untuk diperiksa ke rumah sakit. Sesuai saran kakaknya itu, Weli memeriksakan diri ke RSUD M Zein Pesisir, Selatan pada 23 Maret.

“Dari pemeriksaan di sana, hasil rontgen saya ada bercak putih di paru-paru. Saya dicurigai COVID-19 dan dirujuk ke RSUP M Djamil,” ucapnya.

Di Padang, ia mengetahui hasil labornya langsung dari dr Andani, kakaknya.

“Sampel pertamanya saya dan ternyata sampel pertama positif. Saat menanyakan hasil labor, abang menjawab, hasil labor jangan dipikirkan kamu istirahat aja dulu, anggap saja cuti panjang. Namun, saya bilang, saya mau pulang. Abang menjawab, kamu tu positif, sambil tertawa. Saya merasakan perasaannya bagaimana mengatakan itu, saya yakin beban yang ada di dirinya luar biasa,” kenangnya.

Baca juga :  Sedang Hamil, Pasien Positif COVID-19 dari Bukittinggi Meninggal

Weli menambahkan, mendengar hasil labor dari sang kakak, ia pun menangis. Tidak terima kalau  positif COVID-19.

“Abang bilang, ngapain menangis, apa dengan menangis itu sembuh, yang membuat sembuh itu semangat, banyak makan dan ingat anak-anak,” tuturnya.

Setelah itu, ia ingat suami dan anak-anaknya, serta orang yang pernah kontak dengannya. Beruntung, suami dan anak-anaknya negatif setelah diperiksa. Termasuk salah seorang staf terdekatnya yang sering kontak  juga dinyatakan negatif.

“Alhamdulillah mereka negatif. Tetapi sedih juga ada beberapa rekan yang positif,” katanya.

Sejak itulah, ia menjalani perawatan di ruang isolasi RSUP M Djamil. Dengan tekad yang kuat dan dukungan dari orang-orang di sekelilingnya, ia berhasil sembuh. Ia berpesan, salah satu obat mujarab bagi orang yang positif COVID-19 adalah dukungan keluarga dan orang sekitarnya. Jangan sampai, pasien positif itu drop kondisi fisiknya.

“Satu hal yang saya tekankan kepada masyarakat, tidak ada yang mau terkena corona termasuk orang yang positif ini. Jangan diskriminasi mereka. Suami dan anak saya mengalami itu. Dia sampai menangis, orang tidak mau dekat dia, beli lontong pun orang tidak mau menjual. Penyakitnya yang harus dijauhi, bukan orangnya,” pesan Weli. (GYN)