Menutup tahun pandemi ini, Pemerintah Kota Padang Panjang membagikan Bantuan Sosial Tunai (BST) bagi masyarakat terdampak Covid-19, Jumat (18/12). Bantuan yang dirapel tiga bulan tersebut menjadi secercah harapan bagi mereka di ujung tahun ini guna memasuki tahun baru. Menjadi cahaya yang menuntun untuk bergerak meninggalkan tahun yang muram ini. 

Delfiandi (44), warga Kelurahan Sigando, mengucap rasa syukur setelah menerima bansos tunai sebanyak Rp900 ribu itu. Pria yang sehari-harinya bekerja serabutan tersebut, sangat merasakan sekali imbas dari wabah Covid-19 ini.

“Alhamdulillah, saya mengucapkan terimakasih kepada Pemko Padang Panjang dan Pak Wali yang telah menyalurkan BLT tahap 5 ini. Bantuan ini sangat meringankan beban hidup dan memenuhi kebutuhan keluarga,” ucapnya.

Delfiandi mengaku, semenjak pandemi mulai merebak, beberapa proyek pekerjaan bangunan dan “sambatan” dari tetangga untuk membantu pekerjaan serabutan hampir tidak ada.

Praktis, selama dua bulan lebih dirinya tidak ada pemasukan. Tabungan juga tidak punya. Bahkan untuk biaya hidup, dia hanya mengandalkan karib kerabat terdekat.

Saat ini Delfiandi cuma berharap, pandemi cepat berlalu. Sehingga anak-anak dapat bersekolah seperti biasa lagi dan berbelanja warung milik istrinya.

Hal yang sama juga dirasakan Rohani (80) warga Kelurahan Silaing Bawah. Perempuan sepuh itu tidak pernah menyangka, usaha kecil-kecilannya bakal berhenti begitu saja karena Corona. Dirinya tak menduga, betapa dahsyat dampak pandemi ini terhadap roda ekonomi yang telah dirintisnya. Jualan kerupuk talas yang dilakoninya, mati suri dan tak lagi menghasilkan apa-apa. Kini, dia hanya di rumah saja.

Sebelum pandemi, Rohani masih bisa berjual beli. Hasil penjualan kripiknya, masih bisa mencukupi kebutuhannya pribadi. Kini, dia menopangkan hidupnya dari anak dan cucunya.

Rohani mengaku berlega hati bisa menerima bantuan ini. Setidaknya, kebutuhannya bisa terpenuhi untuk beberapa bulan ke depan. Selama pandemi, Rohani lebih banyak di rumah saja. Kerupuk talasnya, tidak lagi diproduksi. Lantaran jual beli tak seberapa, modal usahanya terbenam dan tak bisa diputarkan lagi.

Baca juga :  Wawako Hendri Septa Saksi Pencanangan Zona Integritas WBK dan WBBM oleh BPS Kota Padang

“Sebelum masa pandemi, nenek masih jualan. Tapi sejak pandemi hanya di rumah saja. Karena tidak ada lagi modal untuk dibelanjakan, serta penjualan juga merosot,” cerita warga RT 2 Silaing Bawah ini.

Di samping karena pandemi, masalah kesehatannya yang sering sakit-sakitan, juga memaksa dirinya menyerah. Dia tinggal bersama cucunya, sejak kematian anaknya. Sementara untuk kebutuhan hariannya ia gantungkan pada anak-anaknya yang sudah berkeluarga.

“Dengan adanya bantuan Pemko ini, nenek bersyukur sekali dan merasa bahagia. Bantuan ini telah meringankan beban nenek untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Begitu juga dengan Rujinar Upik yang nampak sumringah. Dia tersenyum bahagia. Selepas antre sebentar menerima bantuan sosial tunai di Kelurahan Silaing Atas, Kecamatan Padang Panjang Barat.

Dihitungnya lembaran merah itu. Genap semuanya Rp900 ribu. Dia berlalu dari lokasi itu. Pulang menuju rumahnya, dengan senyum yang masih merekah.

Wanita berusia 70 tahun yang biasa dipanggil One ini, salah satu penerima bantuan hasil tim verifikasi di lapangan. Dia tinggal bersama anak kakaknya. Kondisi fisiknya renta. Pendengaran pun sudah berkurang pula. Namun, dia masih sanggup bekerja.

“Biasanya One membantu pekerjaan rumah, seperti menyapu, mencuci piring dan kadang memasak,” kata salah seorang cucu dari kakaknya.

Di tengah kekurangan fisiknya yang digerus usia dan penglihatan yang mulai terganggu, One tetap punya kelebihan.

“One tidak bisa menulis dan membaca. Namun untuk berhitung, One bisa diandalkan,” sebut cucu tadi.

Dan itu terbukti. Seperti saat dia menghitung uang BLT yang diterimanya. Dihitungnya sudah-sudah, lalu tersenyum puas. Karena uang yang diterimanya jumlahnya besar. Makanya wajahnya berbinar.

Baca juga :  Mulyadi Instruksikan Fraksi Demokrat se Sumbar Awasi Penyaluran Bantuan Terdampak COVID-19

“One sangat berterimakasih kepada RT dan pemerintah, karena telah mengizinkan One menerima uang bantuan ini,” katanya singkat.

Rasa syukur juga tersirat dari raut wajah Zulmiati (57) warga Kelurahan Ganting, Kecamatan Padang Panjang Timur. Bagi janda empat anak ini, BST yang disalurkan lewat jasa Bank Nagari itu turut meringankan bebannya memenuhi kebutuhan hidup.

“Alhamdulillah, terimakasih pemerintah, terima kasih Pak Wali,” katanya.

Dampak pandemi Covid-19, sangat terasa mempengaruhi omzet warung lontong sayur milik Buk Jun (panggilan Zulmiati-red). Langganan dari anak kos MAN Gunung yang kerap berbelanja, kini sudah tak ada lagi.

“Anak kos sudah tidak ada lagi, mereka belajar online,” sebutnya.

Di awal Covid-19, warga Tabek Gadang RT 11 itu pernah menutup warungnya selama dua bulan lantaran sedikit sekali yang berbelanja. Buk Jun, kemudian, memilih menjadi buruh tani, di ladang milik orang lain. Namun ia tidak meninggalkan jualan kopi dan lontong sayur yang memang menjadi mata pencaharian utamanya.

“Biasanya omzet sebelum corona 200 ribu. Sekarang tidak sampai 100 ribu. Untuk makan saja susah,” tuturnya.

Buk Jun berharap corona cepat berlalu. Anak-anak bersekolah seperti biasa, menghampiri warung miliknya.

“Sangat terasa dampak corona bagi kami. Untunglah ada bantuan, meringankan beban kami,” katanya.

Hari pertama Rp495 juta disalurkan kepada 550 Warga

Hari pertama penyaluran bantuan sosial tunai (BST) tahap 5 di Kota Padang Panjang, terealisasi senilai Rp495 juta yang diterima 550 penerima manfaat. Dari semestinya 583 penerima di 4 kelurahan, tercatat 33 orang tidak hadir mengambil bantuannya.

Dari data yang dirilis Dinas Sosial PPKB PPPA, penerima manfaat yang paling banyak tidak bisa datang sesuai jadwal ada di Kelurahan Silaing Bawah. Dari 216 yang terdata, 17 orang di antaranya berhalangan hadir. Hanya 199 penerima manfaat yang datang dan mendapatkan bantuan dengan total tersalurkan Rp179,1 juta.

Baca juga :  23 ekor Hewan Kurban Diserahkan Pemkab Dharmasraya dan LKKS

Sedangkan di Silaing Atas, tersalurkan bantuan Rp105,3 juta yang diterima 117 orang dari 124 yang terdata. Tercatat 7 orang yang tidak datang mengambil haknya tersebut.

Sementara itu di Ganting, ada 5 warga yang juga tidak datang ke kelurahan untuk menjemput bantuan yang disalurkan melalui petugas Bank Nagari tersebut. Di Ganting ini, disalurkan Rp131,4 juta untuk 146 orang yang tiba dari semestinya 151 penerima manfaat.

“Sedangkan di Sigando tersalurkan Rp79,2 juta untuk 88 orang penerima manfaat dari semestinya 92 orang. Artinya ada 4 orang yang berhalangan datang,” jelas Kepala Dinas Sosial PPKB PPPA, Osman Bin Nur, didampingi Kabid Pelayanan, Penanganan dan Rehabilitasi Sosial, Medi Rosdian, Jumat (18/12).

Bagi yang berhalangan datang sesuai jadwal yang telah ditetapkan, kata Osman, hanya bisa mengambil langsung ke Bank Nagari pada 21-23 dan 28-29 Desember. Selain membawa KTP dan KK, juga harus membawa rekomendasi terdaftar sebagai penerima BST dari dinas, serta rekening Bank Nagari.

“Kami imbau, untuk warga kelurahan lain yang akan disalurkan bantuannya pada Senin-Rabu mendatang untuk mengupayakan hadir di kelurahan sesuai jadwal. Sehingga tidak disibukkan lagi dengan mengurus administrasi untuk pembayaran penundaan ke Bank Nagari,” imbaunya.

Sementara itu Medi menambahkan, dari pantauan pihaknya, pelaksanaan penyaluran bantuan hari pertama berjalan dengan lancar di 4 kelurahan tersebut. “Dengan berbagai ekspresi, masyarakat memperlihatkan kebahagiaannya. Semoga bermanfaat dan benar-benar digunakan untuk pemenuhan kebutuhan pokok,” ucapnya. (ioc/dihimpun dari berbagai rilis)