Chicago, inioke.com–Chicago mengalami hari paling mematikan dalam tiga puluh tahun terakhir bulan lalu, dengan 31 pembunuhan dalam 24 jam pada 31 Mei.

Kekerasan terjadi ketika protes terhadap kematian George Floyd di Minneapolis memicu kerusuhan dan aksi penjarahan di Windy City.
Selama akhir pekan lalu, 85 orang tertembak dan 25 tewas, menurut Laboratorium kriminal Universitas Chicago.

Kebanyakan dari para korban adalah warga kulit hitam.
Para korban adalah siswa, orang tua, pekerja, menurut data dari Chicago Sun-Times.

“Kami tidak pernah melihat yang seperti sama sekali,” kata peneliti senior, Max Kapustin kepada media. Ia mencatat data dari laboratorium kriminal hanya dari 1961.

“Saya tidak tahu bagaimana menempatkan hal ini pada konteksnya,” katanya. “Hal ini melebih dari apa yang kami lihat sebelumnya.”
Kapustin menambahkan bahwa protes terhadap kematian Floyd oleh polisi mungkin telah menarik sumber daya Chicago Police Department (CPD) dari tugas patroli normal mereka.

“Ketika CPD mengalihkan perhatian mereka ke sektor lain dan kemudian secara tiba-tiba hal ini terjadi, anda juga tidak beruntung akan melihat gambar-gambar yang anda lihat  minggu lalu tentang pembunuhan-pembunuhan yang absurd, orang-orang terluka dan tewas,” katanya.
Hari yang mematikan lainnya dalam dalam sejarah kota itu adalah pada 4 Agustus 1991, ketika 13 orang terbunuh, menurut data.

Baca juga :  Pengecekan suhu tubuh seluruh penumpang di BIM diperketat mulai Senin, alat thermo scanner ditambah

Para peneliti mengatakan kepada BBC bahwa 31 Mei bisa jadi menjadi hari paling mematikan dalam 60 tahun, namun perhatian terhadap data sebelum 1991 bisa saja kurang akurat dibandingkan dengan data digital yang ada setelahnya.

Walikota Chicago menyebutkan bahwa pada 31 Mei, layanan 911 kota itu menerima 65.000 panggilan emergency —50.000 lebih banyak dibandingkan hari-hari biasanya.
Polisi mengatakan kepada the Sun-Times: “level aktivitas yang dialami pada minggu lalu tidak pernah terjadi sebelumnya dan dan departemen (polisi) secara aktif menyelidiki berbagai insiden di kota itu dan bekerja untuk menentukan motif dari kasus-kasus itu.”

Juga ditambahkan, “Secara aktif bekerja untuk mencari keadilan untuk semua penduduk yang terdampak, terutama mereka yang terbunuh dan terluka karena kekerasan yang tidak bertanggung jawab.”

Angelo Bronson, seorang ayah dua anak berusia 36 tahun. Yang ditembak di Englewood ketika dari Washington DC untuk melihat keluarga.

John Tiggs, seorang ayah dari tiga orang anak berusia 32 tahun, sedang dalam perjalanan untuk membayar tagihan teleponnya ketika dibunuh.
Lazara Daniels dan Keishanay Bolden (18), mahasiswa, menjadi korban pada Minggu.

Baca juga :  Pemerintah Swedia Meminta Demonstrasi Secara Daring Selama Pandemi

Angkat pembunuhan di Chicago, adalah yang tertinggi di antara kota-kota lainnya di AS, telah menurun dalam beberapa waktu terakhir. Pada 1990-an, adalah hal yang biasa melihat terdapat 900 kasus pembunuhan setiap tahun. Pada 2018, Chicago mencatat 561 pembunuhan. Pada 2019, terdapat 492 pembunuhan yang tercatat. (patra/bbc)