Oleh Muhammad Taufik

 

Virus korona telah menghadirkan horror bagi semua masyarakat. Berita yang berseliweran terkadang bercampur antara fakta dan hoak. Parahnya dibumbui dengan pelintiran nilai-nilai teologi atau agama. Akhirnya masyarakat diselimuti ketakutan yang berlebihan.

Ketakutan yang berlebihan memunculkan gejala paranoid yang terekspresi dalam setiap sikap dan tindakan. Paranoid ini nantinya akan memunculkan kepanikan dan membuat mobilitas yang tidak terkontrol, salah satunya adalah panic buying. Panic buying merupakan penimbunan beberapa barang pada saat terjadinya keadaan tertentu sebagaimana kita lihat sekarang. Beberapa barang seperti masker dan handsanitizer hilang dipasaran. Apakah itu habis dibeli oleh orang atau ditimbun oleh orang tertentu untuk meraup keuntungan dengan situasi pasar yang panik. Atau ini merupakan gejala sosiologis dimana masyarakat seolah merebut kendali dan memilikinya ketika mereka tidak memiliki kontrol terhadap peristiwa dilingkungannya sehingga mereka jatuh pada ruang anti sosial. Dalam situasi seperti ini pertanyaannya adalah kelompok masyarakat mana yang sesungguhnya sangat rentan dalam situasi sekarang?

Bagi banyak orang Covid 19 atau Korona adalah horror, mengutip Yasraf, yaitu adalah lukisan dan citra dunia, yang didalamnya manusia menerima eksistensinya sebagai suatu perjalanan di dalam berbagai ancaman kekerasan menuju kematian. Parahnya sekarang masyarakat mulai merasakan kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam menjaga eksistensinya yaitu akal sehat, pengendalian diri dan cinta.

Sesungguhnya horor itu secara alamiah lebih mensasar kelas menengah-bawah tepatnya kelompok miskin.  Hal ini terjadi dengan beberapa pertimbangan pertama, secara sosiologis kelas menengan-atas merupakan masyarakat yang well-educated, literasi tentang hidup sehat baik bahkan sangat baik. Maka pada saat situasi sekarang kelompok masyarakat ini akan melakukan tindakan-tindakan terstruktur dan logis jika ada gejala-gejalan yang mereka rasakan pada tubuh meraka. Mereka akan ke rumah sakit atau ke dokter jika merasakan gejala-gejala yang mengarah terinveksi virus corona. Hal ini semakin didukung dengan kemampuan menyaring dan memperoleh informasi yang tepat dalam penanganan virus ini.

Sebaliknya, masyarakat miskin akan mencoba acuh dan menepis bahkan mengindahkan gejala-gejala yang mereka rasakan karena situasi dan kondisi kehidupan mereka mendorong untuk memilih sikap seperti itu. Bagi sebagian mereka sakit adalah pengeluaran tambahan di tengah himpitan ekonomi. Mereka akan lebih membeli beras dibandingkan masker atau handsanitizer yang harganya sekarang sudah gila-gilan, kalaupun itu ada. Tidak terbayang jika situasi sekarang khususnya di Sumatera Barat semakin parah dan berujung pada lockdown karena semuanya akan lumpuh.

Kedua, kalaupun mereka kelas menengah atas dimasukkan kategori dalam pengawasan dan mengharuskan mereka mengisoloasi diri dirumah dengan tidak bekerja, maka bagi kelompok ini tentu tidak terlalu menjadi persoalan. Mereka akan mengisolasi diri dalam kamar khusus karena kelompok ini kemungkinan besar memiliki rumah yang layak dengan jumlah kamar lebih dari cukup. Jadi mereka bisa mengasingkan diri dalam salah satu kamar tersebut. Kemudian dengan kemampun ekonomi yang kuat mereka tidak mesti pergi bekerja. Tabungan dan asset yang mereka miliki membuat mereka masih bisa bertahan untuk beberapa waktu kedepan.

Baca juga :  Makan Siang Gratis untuk Tukang Ojek dan Petugas Kebersihan dari Pemkab Dharmasraya

Namun, sebaliknya bagi kelompok miskin dan bawah dengan kondisi sebagaimana yang dijelaskan di atas tentu mereka akan sulit mengarantina diri di rumah karena belum tentu mereka memiliki ruang yang cukup di rumah mereka. Bahkan bisa jadi mereka tinggal berdesak-desakan dalam satu ruangan. Di sisi lain mereka tentu akan tetap bekerja karena bagi mereka “kerja hari ini untuk hari ini” adalah realitas yang tidak bisa dibantah. Mereka tidak punya tabungan dan asset yang bisa digunakan sebagai alat bertahan hidup selama menjalani karantina, terjangkit atau positif Korona. Mereka akan terus bekerja di bawah resiko yang selalu mengintai dan kesannya mereka pergi bekerja seolah menjemput “kematian”. Mereka tidak akan peduli karena kehidupan anak istri lebih penting dari itu semua.

Kelompok miskin adalah kelas yang sesungguhnya memiliki tingkat kerawanan yang paling serius karena situasi sosio-ekonomi mereka akan memiliki dampak yang luas terhadap perkembangan kengerian ini. Kehidupan kelompok ini dikelilingi oleh situasi yang bukan mereka kehendaki namun sesuatu yang melekat secara sosiologis dan politik (nasib dan kebijakan) pada mereka. Kelompok ini mesti menjadi perhatian pemerintah lebih serius. Mereka umumnya tersebar di pemukiman miskin, pasar-pasar, bantaran sungai, daerah-daerah pinggiran dan lain sebagainya.

Baca juga :  Padang Panjang Dapat Tempat Karantina Tambahan di Pusdiklat Baso

Apa yang terjadi saat ini merupakan tantang bagi semua elemen terutama pemerintah yang memiliki kewajiban memberikan rasa aman dan kesehatan bagi setiap masyarakat. Oleh karenya masyarakat dan pemerintah pertama, lebih proaktif dalam memfungsikan lembaga RT, RW atau lembaga-lembaga tingkat keluruhan untuk memonitor dan mengecek seluruh warga terutama pada wilayah padat penduduk dan wilayah miskin serta memastikan mereka semua dalam kondisi aman dan sehat. Kedua, menghidupkan posko darurat setiap kelurahan yang nanti menjadi penyambung kebirokrasi yang lebih tinggi jika masyarakat mengalami gejala, dikarantina, terjangkit, dan sebagainya. Sekaligus itu bisa sebagai posko data terhadap penanggulangan dan pemantauan perkembangan virus. Ketiga, pemerintah mesti melakukan pengecekan atau operasi pasar terhadap gejala panic buying dan melakukan inspeksi kepada toko, warung, mini market, supermarket dan mall untuk memastikan tidak ada penimbunan dan tentu melakukakan penindakan jika terjadi pelanggaran hukum.

Modal Sosial di tengah Bencana?

Dunia sekarang membawa awan gelap, terang adalah doa banyak orang. Namung disamping doa ada tindakan yang memungkinkan untuk dilakukan bersama untuk melawan virus ini. Modal sosial yang dimiliki semestinya bisa mengurangi beberapa hal yang menimpa pribadi, keluarga dan masyarakat. Moda sosial merupakan sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat dalam bentuk norma-norma atau nilai-nilai yang memfasilitasi dan membangun kerja sama melalui jaringan interaksi dan komunikasi yang harmonis dan kondusif. Modal sosial terutama hadir sebagai alternatif bentuk modal lain seperti modal ekonomi, modal politik, modal budaya dan moda sosial. Modal sosial, dalam fathy, 2019,  memfokuskan pada upaya mendayagunakan relasi-relasi sosial. Konsep ini muncul dari pemikiran bahwa masyarakat tidak mungkin dapat secara individu mengatasi berbagai masalah yang dihadapi. Diperlukan kebersamaan dan kerjasama yang baik seluruh anggota. Modal sosial berakar pada kepercayaan, norma, jaringan informal dan percaya relasi sosial adalah sumber daya yang berharga.

Baca juga :  Adib Arham, Sosok di Balik Sukses Malabar

Model praktek modal sosial dalam situasi seperti ini adalah dalam bentuk menyapa, berbagi makanan jika ada tentangga yang terhalang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya karena mungkin mereka bekerja sebagai buruh harian. Membangun posko peduli di setiap RT dan RW yang memantau seluruh kondisi dan keadaan anggota warga. Menumbuhkan lagi semangat gotong royong yang mungkin selama ini terabaikan karena sibuk dengan nasib dan pekerjaan. Saatnya sekarang merajut kembali jika tenunan relasi sosial terabaikan selama ini. Arisan-arisan dalam kelompok masyarakat mesti tetap diaktifkan, tentu dalam bentuk virtual (online). Ikatan pertetanggaan diperbaharui dalam bentuk-bentuk virtual sehingga kegiatan yang selama ini offline menjadi online sehingga semua anggota masyarakat tetap mengetahui perkembangan anggotanya.  Berbagi masker dan handsanitizer sebagai bentuk menumbuhkan kepeduliah. Dengan modal kerjasama dan kepercayaan yang dibangun masyakarat menciptakan kapasitas adaptif dalam membangun kedamaian, ketentraman dan saling berbagi. Kapasitas adaptif itu membentuk peraturan dan kesepakatan baru untuk menjaga keberlanjutan kegiatan masyarakat. (kusumastuti, 2015)

Modal sosial memiliki gagasan sentral yaitu ikatan sosial yang menjelaskan bahwa jaringan merupakan aset yang sangat bernilai yang membangun kohesi sosial karena nantinya akan mendorong suasan kerjasama untuk saling membantu, bahkan relasi ini memiliki potensi ekonomi dengan saling berbagi. Pemerintah telah melakukan tindak-tindakan apakah lockdown, karantrina wilayah atau apalah namanya. Sebagai masyarakat awam kita mendukung saja apa yang dilakukan oleh pemerintah. Namun sebagai warga meski memiliki inisitif juga dengan situasi seperti ini sebagai bentuk membantu bangsa ini keluar dari cobaan. Hari-hari esok adalah milik kita, Hari ini adalah perjuangan, bersama kita musanah Corona, mengutip lagu heroik dari Polri.Wallahu a’lam bishawab (*)

Muhammad Taufik, Wakil Pemimpin Redaksi inioke.com