Oleh: Reno Fernandes

 

Pendemi Covid 19 bisa saja berdampak buruk bagi sistem pendidikan berbagai negara di dunia ini, namun tidak bagi Indonesia keberuntungan membawa kita terbebas dari pengaruh buruk Covid 19 tersebut. 

 

Pandemi COVID-19 yang merupakan kiamat kecil bagi sebahagian besar negara di dunia. Krisis kesehatan ini menjadi akar terjadinya masalah pada institusi sosial salah satunya adalah institusi pendidikan.

Akibat wabah ini, negara maju hingga negara dunia ketiga mengambil langkah Social Distancing yang berujung pada penutupan sekolah dan pengalihan pembelajaran dari tatap muka menjadi pembelajaran online. Menurut (Viner et al., 2020) dalam artikelnya yang berjudul “School closure and management practices during coronavirus outbreaks including COVID-19: a rapid systematic review” penutupan sekolah dinilai sangat efektif mengurangi laju perkembangan penyebaran Covid-19. Namun pada sisi lain agenda penutupan sekolah tersebut juga diprediksi akan mempengaruhi keberlangsungan institusi pendidikan.

Perubahan pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran online menurut Press release yang dikeluarkan oleh UNESCO berjalan tidak efektif. Fakta yang terjadi Setengah dari jumlah total peserta didik di seluruh negara yang terdampak Covid 19 yaitu sekitar 826 juta siswa  tidak memiliki akses ke komputer rumah tangga dan 43% (706 juta) tidak memiliki internet di rumah, pada saat pembelajaran jarak jauh berbasis digital digunakan. Keadaan ini bertambah runyam mengingat minimnya kecapakan guru di negara berkembang terhadap penguasaan teknologi informasi dan komunikasi yang dapat digunakan untuk kepentingan pembelajaran.

Covid-19 tidak hanya berdampak pada pembelajaran namun juga berdampak kepada standar kualitas lulusan. Dimana hampir pada setiap negara di dunia, wabah ini bertepatan dengan periode penilaian sekolah. Dampaknya sangat banyak pelaksanaan ujian  ditunda dan bahkan  dibatalkan. Sebagaimana kita ketahui evaluasi dalam sistem pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting karena evaluasi merupakan suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh peserta didik. Dengan ditiadakannya evaluasi ini maka kualitas pembelajaran dan kualitas lulusan tidak dapat dilihat dengan baik.

Baca juga :  Hari Pertama Puasa Ramadan, Orang Pertama Positif COVID-19 di Payakumbuh

Sama seperti yang dilakukan oleh banyak negara didunia indonesia sebagai negara yang terdampak wabah virus Covid 19. Indonesia melakukan penutupan sekolah dan penghentian beberapa ujian sebagai alat evaluasi pendidkan. Kebijakan tersebut Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran corona virus disease (covid- 19). Adapun kebijakan tersebut berisi tentang pembatalan ujian nasional, proses pembelajaran dirumah, tentang tata pelaksanaan ujian sekolah, proses kenaikan kelas, penerimaan peserta didik baru dan pengalihan dana operasional sekolah untuk kepentingan penanggulangan Covid-19. Pertanyaan yang muncul dari  kebijakan tersebut sejauh mana mempengaruhi kualitas pendidikan di Indonesia? Uraian lebih lanjut pada artikel ini akan menjawab pertanyaan sejauh mana kebijakan pendidikan dimasa covid 19 memperngaruhi kualitas lulusan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Agar lebih fokus permasalahan yang dibahas mengenai pembatalan ujian nasional dan kebijakan proses belajar dari rumah.

Covid 19, Ujian Nasional dan Kualitas Lulusan

Pelaksanaan ujian nasional di Indonesia selama ini selalu mengalami perdebatan pro dan kontra dimana selalu ada kelompok yang mendukung pelaksaan ujian nasional dan ada kelompok yang kontra yang menginginkan ujian nasional dihapuskan. Menteri pendidikan dan kebudayaan saat ini Nadiem Makarim adalah kelompok yang kontra terhadap pelaksanaan ujian nasional. Dalam kebijakan merdeka belajarnya menteri pendidikan dan kebudayaan akan menghentikan ujian nasional dan menggantinya dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Asesmen ini terdiri dari kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter.

Wabah covid 19 seakan memuluskan langkah penghentian ujian nasional lebih cepat dari perencanaannya, semula direncanakan tahun 2020 adalah tahun terakhir pelaksanaan Ujian Nasional dan pelaksanaan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter baru dilaksanakan pada tahun 2021. Pertanyaan yang muncul dari peristiwa ini adalah bagaimana mengukur kualitas lulusan. Jawabannya ada pada skeman Ujian Nasional itu sendiri.

Satu hal yang harus kita fahami adalah pelaksanaan ujian nasional pada tahun ini direncanakan masih mengacu kepada kebijakan yang dikeluarkan oleh menteri pendidikan Anis Baswedan dimana ujian Nasional tidak menjadi satu-satunya penentu kelulusan siswa, kelulusan siswa ditentukan oleh  nilai yang dikeluarkan oleh sekolah berdasarkan gabungan nilai ujian nasional dan ujian sekolah. Beruntungnya Indonesia wabah covid datang setelah Ujian Sekolah/Ujian Sekolah Berstandar Nasional sudah selesai dilaksanakan pada tanggal 9-14 maret 2020. Kondisi ini berarti penilaian atau evaluasi untuk siswa kelas akhir sekolah dasar dan menengah sudah terlaksana. jadi meskipun Ujian Nasional tidak diadakan kualitas lulusan sudah dapat diukur dari penilaian US/USBN.

Baca juga :  Hendri Septa : Hari Jadi PAN ke 22 Momentum Kader untuk Berperan dalam Pembangunan

Dalam catatan sejarah mengenai ujian nasional sebenarnya semenjak tahun 2014 nilai ujian nasional juga tidak berpengaruh terhadap kesinambungan pendidikan peserta didik. Misalnya dalam penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri nilai UN tidak dimasukkan sebagai salah satu indikator penilaian. Misalnya pada jalur SNMPTN persyaratan seleksinya dilakukan  berdasarkan hasil penelusuran prestasi akademik dengan menggunakan rapor dan portofolio akademik. Begitu juga pada jalur penerimaan mahasiswa lainnya seperti SBMPTN dan Jalur Mandiri, nilai Ujian Nasional tidak dihiraukan. Kelulusan calon mahasiwa  diambil berdasarkan hasil tes yang dilakukan oleh panitia seleksi.

Melihat penjelasan diatas dapat disimpulkan sebenarnya ujian nasional di Indonesia beberapa tahun belakangan ini tampaknya juga tidak memiliki peranan yang signifikan dan menjadi referensi terhadap kualitas pendidikan dan pembelajaran. jadi meskipun Ujian Nasional tidak dilaksanakan akibat wabah COVID-19, hal itu sama sekali tidak akan mempengaruhi kualitas lulusan pendidikan kita.

 Covid 19,  Belajar dari Rumah dan Capaian Pembelajaran

Pertanyaan kedua yang akan dijawab melalui analisis dalam tulisan ini adalah apakah Belajar dari Rumah akibat wabah Covid 19 akan mempengaruhi capaian pembelajaran? jawaban yang akan saya berikan adalah kondisi wabah ini tidak akan mempengaruhi capaian pembelajaran sama sekali. Kenapa demikian?

Kurikulum 2013 merupakan pedoman pendidikan di Indonesia yang mengacu pada Indonesian Partnership for 21 Century Skill Standard yaitu standar pendidikan  yang menekankan pada penguasaan keterampilan 4C (Critical-Thinking and Problem-Solving Skills, Communication and Collaboration Skills, Creativity and Innovation Skills), literasi teknologi informasi dan komunikasi, dan penguatan pendidikan karakter (Afandi et al., 2019).

Baca juga :  25 Santri Asal Pesisir Selatan Dikarantina Sekembali Belajar dari Jawa Timur

Dalam menjalankan kebijakan kurikulum tersebut guru juga dituntut memiliki keterampilan abad 21. Menurut International Society for Technology in Education dalam (Daryanto and Karim, 2017) ada 5 kategori keterampilan yang harus dikuasai Guru pada abad 21 ini diantaranya: 1) Mampu memfasilitasi dan menginspirasi belajar dan kreatifitas peserta didik ; 2) Merancang dan mengembangkan pengalaman belajar dan assesmen era digital; 3) Menjadi Model Belajar dan bekerja di era digital; 4) Mendorong dan menjadi model tanggungjawab di era digital; 5) Berpartisipasi dalam pengembangan dan kepemimpinan profesional.

Dalam rangka mengimplementasikan kurikulum tersbut pemerintah telah memberikan berbagai macam pelatihan, seminar maupun program pendidikan profesi guru sebagai upaya peningkatan kapasitas kepada guru. Jadi dalam rangka melaksanakan Surat edaran menteri pendidikan dan Kebudayaan dalam menghadapi Covid 19 terkait dengan Proses Belajar dari  melalui pembelajaran daring/jarak jauh adalah sesuatu yang dapat dilaksanakan oleh Guru saat ini baik secara daring (online learning) maupun luring (Modul, Penugasan, LKS) dengan menggunakan pendekatan pembelajaran yang berorietasi student centre learning seperti model pembelajaran berbasis project yang sudah biasa digunakan oleh guru dalam mengajar.

Indikator lain yang dapat digunakan untuk menambah keyakinan kita bahwa Covid 19 tidak akan mempengaruhi capaian pembelajaran adalah berkaitan dengan alokasi waktu minggu efektif pada semester januari- juni 2020. Dimana sampai saat sekolah secara tatap muka dihentikan,  pembelajaran disekolah sudah sudah berjalan sebanyak 13 dari 17 Minggu yang direncanakan semester ini.  Jadi pendemi Covid 19 hanya akan mempengaruhi 4 minggu pertemuan dan tentunya jumlah tersebut tidak akan terlalu signifikan mempengaruhi ketercapaian pembelajaran.

Kita Optimis untuk itu, Ayo semangat para pendidik dan peserta didik di Indonesia. Selamat hari pendidikan nasional(*)

 Reno Fernandes, Dosen Sosiologi Pendidikan Universitas Negeri Padang dan Peneliti Revolt Institute