Laporan: Lauren Frayer, Daniel Estrin, Jane Arraf

 

Selama berabad-abad, umat Hindu berkumpul untuk membakar mayat di sepanjang Sungai Gangga. Orang Yahudi berkabung di rumah selama tujuh hari masa. Sebagian muslim ada yang memenuhi syarat memandikan jenazah.

Namun, pandemi virus corono mengubah ritual pemakaman global ini secara dramatis.

World Health Organization (WHO) mengeluarkan petunjuk penguburan korban COVID-19 pada 24 Maret, menyatakan bahwa jenazah secara umum tidak menularkan virus. Tetapi, disarankan para keluarga tidak menyentuh atau mencium jenazah. Aturan pemerintah tentang social distancing untuk mencegah penyebaran wabah ini juga telah mengubah ritual pemakaman berbagai agama di seluruh dunia.

Beberapa koresponden Nationa Public Radio (NPR) membagikan cerita tentang bagaimana COVID-19 telah mengubah tradisi itu.

Irak: Keterlambatan beberapa hari untuk pemakaman.

Di Irak, lazimnya keluarga berpartisipasi dalam memandikan jenazah dan melaksanakan pemakaman. Jika memungkinkan, jenazah akan dimakamkan pada hari yang sama dengan kematiannya. Bagi Muslim dan Kristen, kematian biasa diikuti dengan tiga hari masa berkabung. Ritual ini dihadiri oleh keluarga, kenalan, tetangga dan kerabat lainnya. Tetapi, dengan pandemi ini, ritual seperti itu tidak lagi diizinkan.

“Membutuhkan delapan hari untuk mengeluarkan jenazah ayahku dari kamar mayat,” kata Abdul-Hadi Majeed yang ayahnya meninggal karena COVID-19 di Rumah Sakit Baghdad pada Maret lalu. “Sangat sulit untuk mengadakan pemakaman,” katanya.

Majeed menyebutkan bahwa jenazah ayahnya berada di antara sejumlah jenazah lainnya yang akan dikuburkan di lapangan, di luar kota Baghdad. Namun, tokoh masyarakat setempat menolak pemakaman di wilayah mereka, takut jenazah itu akan menyebarkan virus.

Jadi paramiliter dengan menggunakan APD mengambil alih proses pemakaman dan melaksanakannya dengan cara Islam di pemakaman di Kota Suci Najaf, selatan Baghdad, sebagai tempat khusus untuk pemakaman korban COVID-19.

India: Aturan kontroversi tentang kremasi

Di India, panduan baru penanganan jenazah diberikan pada 15 Maret. Proses pemakaman kini dibatasi menjadi hanya 20 orang. Prosesi pemakaman umum yang menjadi kunci dari masa berkabung bagi kebanyakan warga di Asia Selatan ini telah berlalu.

Di Kota Suci Varanasi, di tepi Sungai Gangga, seorang pendeta Hindu membacakan potongan doa sebagai penghormatan kepada dewa Gangga, yang dipercaya bersemayam di Sungai itu. Biasanya ribuan orang –termasuk para turis, berkumpul pada saat upacara pada matahari terbit dan terbenam untuk menghormati Dewa Gangga. Sama halnya dengan ritual pemakaman –dengan jenazah dibakar bersama tumpukan kayu besar di sungai itu. Tapi, Gangga kini kosong karena Lockdown.

Kebanyakan orang India yang menganut agama Hindu percaya, bahwa dikremasi di Sungai Gangga, abunya ditebarkan di airnya, bakal memberikan keselamatan. Tetapi terbatasnya transportasi umum dan larangan bepergian selama lockdown, membuat banyak keluarga tidak bisa mengantarkan jenazah atau abu ke sana. Terdapat beberapa laporan yang menyebutkan bahwa abu-abu itu kini menumpuk di krematorium karena mereka tidak bisa mengantarkannya ke Gangga.

Baca juga :  Kumpulkan Camat dan Lurah, Sekda Padang Panjang Bertegas-tegas Soal Suket Domisili dan Aturan Zonasi PPDB 2020

Sebuah perkumpulan pendeta Hindu yang bernama Ganga Sabha, meminta para pelayat untuk menunda perjalanan mereka ke Haridwar, sebuah kota peziarah lainnya di tepi Sungai Gangga.

“Setelah pelarangan ini (lockdown), semua orang bisa datang ke Haridwar untuk ritual penaburan abu,” kata Pradeep Jha, presiden dari perkumpulan itu. Lebih lanjut ia mengatakan, “Pendeta kami akan melaksanakan ritual untuk kedamaian dan keselamatan bagi jiwa-jiwa yang telah meninggal.”

Aturan baru pemerintah India juga melarang memandikan dan membalsemkan jenazah COVID-19. Selain itu mencium dan memeluk jenazah juga dilarang demi mencegah penyebaran virus. Aturan dibuat dengan hati-hati tanpa menyebutkan agama tertentu. Tetapi memandikan jenazah secara khusus dilakukan oleh Muslim, yang berjumlah sekitar 180 juta orang di India dan menghadapi diskriminasi agama di masa lalu.

Di Mumbai, pemerintah setempat mengumumkan bahwa semua dari 19 mayat korban COVID-19 harus dikremasi. Perintah ini juga mengatakan bahwa pemakaman kota berada di daerah padat penduduk yang bisa meningkatnya resiko kontaminasi.

Kremasi adalah hal yang umum dilakukan oleh Hindu yang mayoritas namun hal ini ditentang keras dalam Islam.

Barulah setelah politisi Islam ikut campur, aturan ini ditarik kembali. Muslim bisa tetap menguburkan jenazah mereka setelah aturan ini dibatalkan.

Ada satu tradisi pemakaman di India yang dilarang melibatkan banyak orang namun tetap diizinkan: Pemakaman langit yang dilakukan oleh penganut Zoroaster dan beberapa aliran Buddha Tibet. Dalam ritual ini, jenazah didoakan dan diletakan pada daerah tinggi atau puncak gunung dan dibiarkan dimakan oleh binatang.

Pakistan, Turki dan Irlandia: Berduka di kejauhan

Di Pakistan, provinsi Punjab, dikeluarkan pedoman yang mewajibkan mereka yang memandikan jenazah muslim untuk mengenakan alat pelindung diri. Dewan ulama terkemuka juga meminta umat Islam Pakistan untuk mempraktikkan sosial distancing ketika mereka melakukan doa bersama untuk menghormati orang mati.

Baca juga :  PSBB Diperpanjang Lagi, Pemko Padang Perketat Orang Masuk di Perbatasan

Tidak jelas seberapa luas hal ini dipahami oleh masyarakat, tetapi sebuah video yang dibagikan di sebuah provinsi di Pakistan, menunjukan bahwa para jamaah dengan hati-hati berdiri menjaga jarak ketika menyalatkan seorang korban COVID–19 yang akan dikuburkan.

Di Turki, pemakaman telah berganti menjadi penguburan dari kejauhan. Hanya keluarga dekat saja yang diizinkan terlibat dalam ritual memandikan jenazah, dan kerabat yang paling dekat yang menghadiri pemakaman, dengan imam yang menyembahyangkan dari jarak yang aman, dengan memakai masker. Pemerintah melarang para pelayat untuk mendekati peti mati.

Di Irlandia, orang-orang yang ingin menunjukan belasungkawa melakukannya dengan aturan baru. Pekan lalu, seorang tetua meninggal di sebuah desa di County Kerry. Orang-orang Katolik yang berjalan lebih dari satu kilometer menuju pemakaman setempat –menerapkan pembatasan sosial sejauh beberapa meter satu sama lain, dalam ritual yang direkam dan dibagikan secara luas di media sosial.

Perancis dan Brazil: Tidak lebih sepuluh pelayat.

Berbagai negara membatasi jumlah pelayat yang menghadiri pemakaman. Baik di Brazil dan Perancis, pemerintah membatasi jumlah pelayat sebanyak sepuluh orang. Di Brazil, para pelayat harus menjaga jarak dua meter –sangat kontras dengan ritual pemakaman tradisional, yang sering berlangsung seharian dan dihadiri oleh ratusan orang.

Israel: Mengucapkan selamat tinggal dari balik kaca, Shiva Virtual

Beberapa rumah sakit Israel menawarkan alternatif kepada keluarga yang tertahan karena Corona untuk melepas kerabat mereka. Sheba Medical Center, membangun sebuah kaca untuk jenazah, dan keluarga bisa melihatnya sekilas. Keluarga berdiri di sisi lain dari dinding dan mengintip jenazah melalui jendela.

Di beberapa rumah sakit Israel, seperti Sheba Medical Center, jenazah korban Corona diletakan di dalam kotak kaca. Dengan begitu, para kerabat dapat mengucapkan selamat tinggal (Sheba Medical Center)

Otoritas pemakaman dibatasi sampai 20 orang, dan melarang kebiasaan lama dimana sekop digilirkan kepada para pelayat untuk ikut menimbun makam. Artinya, mereka tidak akan memegang sekop yang sama untuk menghindari penyebaran virus. Namun pada beberapa pemakaman, para tamu bersikeras untuk menjaga tradisi lama untuk menghormati jenazah dengan mengambil tanah dengan tangan. Jenazah COVID-19 dibungkus dengan kantong plastik untuk menjaga mereka yang menangani jenazah. Di Israel jenazah dibungkus dengan kain kafan dan tubuhnya dikuburkan langsung ke makam. Peti mati adalah hal yang tidak umum digunakan dalam pemakaman di sana.

Baca juga :  BPN Tanah Datar Serahkan 450 Sertifikat PTSL

Warga Israel tidak lagi menerima tamu untuk shiva, masa berkabung keluarga selama seminggu yang dihadiri oleh keluarga, teman dan kerabat lainnya. Kini mereka harus berkabung sendirian di rumah. Beberapa orang melaksanakan pertemuan shiva melalui panggilan video, tetapi banyak Yahudi ortodoks harus menyerah untuk memanjatkan doa-doa berkabung, kaddish, karena harus dilakukan oleh minimal sepuluh orang. Para rabbis yang lebih liberal mengizinkan untuk memanjatkan doa-doa melalui panggilan video.

Beberapa korban COVID-19 di Eropa mengunjungi Israel untuk pemakaman, mengikuti tradisi Yahudi untuk dikuburkan di Tanah Suci. Tetapi hal ini tidak berlaku bagi Yahudi di Amerika Serikat, kata seorang pejabat Israel kepada NPR. Maskapai United Airline yang melayani penerbangan langsung AS-Israel untuk pengiriman jenazah telah dilarang beroperasi. Seorang Rabbi ortodok di New York telah mengizinkan pemakaman di AS sampai pengiriman dibolehkan kembali dan jenazah akan diangkat dan dikuburkan kembali di Tanah Suci.

Cina: Menyimpan abu jenazah.

Di epicentrum virus Corona, Wuhan, keluarga yang mengalami lockdown tidak bisa mengambil abu kremasi kerabat mereka dalam dua bulan di akhir Maret untuk menaburkannya di makam. Dalam festival Qingming, ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan berziarah kubur.

Untuk menghindari kerumunan, otoritas Wuhan meminta keluarga untuk menyimpan slot untuk abu jenazah kerabat mereka sebelum dikuburkan, sambil ditemani oleh petugas setempat.

Filipina: Kremasi dalam 12 jam dengan beberapa pengecualian

Pada 3 April, petugas pemakaman dengan APD, jenazah yang diduga meninggal karena virus Corona dikremasi di pemakaman publik Manila (Ezra Acayan/Getty Images).

Di Filipina, pemerintah memutuskan bahwa korban COVID-19 harus dikremasi dalam 12 jam, dengan pengecualian daerah yang melarang kremasi. Jika jenazah itu adalah Muslim, maka jenazah itu harus dibungkus kantong dan dikubur di dekat pemakaman Muslim, dengan cara Islam, juga dalam waktu 12 jam.

Pemakaman cepat itu tentu bertentangan dengan tradisi pemakaman Kristen di Filipina yang mayoritas Katolik dan mempercayai bahwa kebangkitan “lamay” akan berlangsung sekitar tiga sampai tujuh hari.(Dialihbahasakan oleh Haldi Patra dari https://www.npr.org  dengan judul “Coronavirus Is Changing The Rituals Of Death For Many Religions.”)

——-

Catatan Redaksi: Koresponden internasional NPR Diaa Hadid, Emily Feng Julie McCarthy, Philip Reeves dan Eleanor Beardsley berkontribusi dalam laporan ini masing-masing dari Islamabad, Wuhan, Istanbul, AS, Rio de Janeiro dan Paris. Produser NPR Sushita Pathak berkontribusi dari Mumbai, dan Awadh al-Taee serta Ahmad Qusay dari Baghdad.