Pariaman, inioke.com – Sekitar 70 pelajar asal Malaysia belajar seni bela diri silat Minangkabau di Kota Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) yang kegiatan itu merupakan salah satu rangkaian program pengenalan kebudayaan warga setempat kepada warga Negeri Sembilan tersebut.

“Kami ke Pariaman untuk belajar kebudayaan di Pariaman karena memiliki kesamaan dengan Malaysia, salah satunya yaitu silat,” kata salah seorang pelajar asal Malaysia Muhammad Syukran Bin Azman di Pariaman, Jumat malam (6/3).

Ia mengatakan baik silat di Malaysia maupun di Sumbar tidak saja digunakan untuk persambahan suatu acara namun juga untuk seni bela diri.

Namun menurutnya silat di Sumbar lebih agresif dari pada silat di Malaysia sehingga pelajar tersebut tertarik untuk mempelajarinya.

“Bagi kami baik silat Malaysia maupun Sumbar sama-sama menariknya,” katanya.

Sementara itu, Guru Besar Perguruan Silat Harimau Putih Rumah Gadang Pauh Rajo Bijo Kota Pariaman Vedrik Hengky Rajo Bijo mengatakan antara Minangkabau dengan Malaysia memang memiliki banyak persamaan.

“Jadi dasar silat itu dari Datuk Panglima Kumbang yang memiliki lima aliran silat harimau yang salah satunya alirannya dibawa ke Malaysia yaitu balang tigo atau belang tiga,” ujarnya.

Baca juga :  3,8 ton beras disalurkan ringankan petani gagal panen akibat banjir di Pasaman Barat

Ia mengatakan berdasarkan sejarah yang didapatkan oleh aliran silat tersebut silat dibawa ke Malaysia oleh Pandeka Gagok yang merupakan hulu balang dari Puti Maninggo atau Puti Angin.

Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia Kota Pariaman Febrian Mirdani mengatakan kedatangan puluhan pelajar tersebut merupakan kerja sama antara pihaknya dengan Kementerian Pendidikan serta Kementerian Belia dan Sukan Malaysia yaitu program Asian Cultural Heritage.

Ia mengatakan pada kerja sama tersebut pihak kementerian terkait Malaysia mengirimkan pelajar ke Pariaman selama lima hari mulai dari 3 sampai dengan 7 Maret untuk belajar tentang kebudayaan, pendidikan, dan pemerintahan setempat.

Oleh karena itu, lanjutnya dari lima hari di Pariaman hanya dua hari menginap di hotel sedangkan sisanya di rumah orang tua angkatnya yang tersebar di daerah itu.

“Selama tiga hari inilah pelajar efektif belajar kebudayaan warga Kota Pariaman,” kata dia.

Apalagi masing-masing orang tua angkat tersebut memiliki profesi yang berbeda-beda mulai dari nelayan, bertani, berdagang di pasar, hingga pedagang sala lauak yang merupakan kudapan khas Pariaman.

Baca juga :  Angka harapan hidup bayi di Sumbar mendekati 70 tahun

“Jadi sebagai anak tentu mereka juga melihat aktifitas orang tuanya dan mencoba apa yang dilakukan orang tuanya. Ya paling tidak mengantarkan orang tuanya pergi ke tempat kerja,” ujar dia.

Pewarta : Aadiaat MS
Editor: Joko Nugroho
(ANT)