Serangkaian demonstrasi pro-demokrasi sedang bergulir di Thailand. Para demonstran berkumpul dan turun kejalan, baik dalam kerumunan kecil maupun besar, hampir setiap hari untuk menuntut reformasi yang luas dan terjadi di setidaknya di 55 provinsi di kerajaan itu.

Gelombang protes ini dimulai oleh aktivis pelajar sejak bulan lalu kini telah mendapatkan dukungan lebih luas di seluruh negeri. Setelah dihantam pandemi COVID-19, negara kerajaan itu terpukul secara ekonomi dan jutaan orang kehilangan pekerjaan. Tuduhan korupsi, penangkapan sejumlah aktivis, dan dampak ekonomi dari pandemi virus corona juga semakin memicu kemarahan publik. Selain itu mereka muntut tatanan politik baru.
Ribuan demonstran bergabung dalam demonstrasi pada 10 Agustus di depan Universitas Thammasat (Bangkok). Para demonstran menyuarakan 10 tuntutan rencana untuk reformasi dan juga menuntut Perdana Menteri Prayuth untuk mundur.

Sekitar 20.000 demonstran berkumpul di Monumen Demonstrasi Bangkok pada Minggu (16/8). Dilansir dari BBC, para pengamat menyebutkan demonstrasi itu, merupakan yang protes anti-pemerintah terbesar semenjak Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha berkuasa pada 2014. Mereka mengibarkan bendera yang bertuliskan: “Jatuh bersama kediktatoran, hidup demokrasi.”

Baca juga :  Seorang ayah di Kabupaten Solok perkosa anak tiri miliki keterbelakangan mental hingga hamil enam bulan

Demonstrasi pada hari Minggu itu menyuarakan tiga tuntutan: pembubaran kedua kamar parlemen; mengganti beberapa undang-undang yang kontroversial; dan mengakhiri kekerasan yang ditujukan kepada mereka yang ingin menyuarakan hak-hak mereka.

Dikutip dari Nikkei, tiga tuntutan ini lebih lembut dibandingkan 10 tuntutan reformasi yang ditujukan kepada kerajaan oleh Student Union of Thailand pada 10 agustus. Tetapi menekankan pesan yang sama: menginginkan Thailand yang beralih ke bentuk pemerintahan demokratis di bawah monarki yang konstitusional.

Sejauh ini, demokrasi berjalanan damai dan tidak berujung pada aksi kekerasan. Namun polisi telah menangkap beberapa aktivis pro-demokrasi. Pada selasa (25/8), Polisi Thailand menyebutkan telah menangkap aktivis pengacara Anom Nampa untuk ketiga kalinya dalam bulan ini, atas tuduhan penghasutan atas demonstrasi politik.

“Polisi membawa Anom Nampa ke kantor polisi untuk membacakan tuntutan atas aksi protesnya pada 10 Agustus lalu dan akan menanyainya lebih jauh sebelum diajukan ke pengadilan,” kata Letjend Amphol Buarapborn kepada Reuters.

Selain itu, Dechathorn Bamrungmuang, seorang anggota dari grup Rap Againts Dictatorship, ditangkap pada Kamis atas tuduhan penghasutan, sebut pengacara. (patra/reuters)

Baca juga :  Cegah Covid-19, Seluruh Anggota DPRD Sumbar dan Pegawai Sekretariat Tes Swab