Oleh Pramono

 

Menarik, melihat potensi naskah-naskah koleksi Surau Calau.

Tepatnya 14 September 2011, Kelompok Kajian Poetika bekerja sama dengan TUFS Jepang dan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) mendapat akses untuk melakukan preservasi naskah-naskah koleksi Surau Calau. Terbukanya akses ini tidak dapat dilepaskan dari “perjuangan” M. Yusuf (filolog FIB Universitas Andalas) membangun silaturahmi dengan tokoh dan masyarakat pemilik surau.

Penulis dengan naskah Khutbah Koleksi Surau Calau

Surau yang terletak di Jorong Subarang Sukam, Kenagarian Muaro, Kabupaten Sijunjung ini memiliki koleksi 99 naskah. Jumlah ini dapat dipastikan hanya sebagian kecil dari seluruh koleksi yang pernah ada. Hal ini dibuktikan dengan ditemukan juga tumpukan naskah yang tersimpan di dalam kardus dan karung yang tak lagi dapat diselamatkan.

Dalam khazanah pernaskahan Minangkabau, Surau Calau merupakan surau yang istimewa, baik dalam hal jumlah koleksi maupun kandungan isi naskah-naskahnya. Dalam hal jumlah, koleksi naskah di surau ini merupakan koleksi terbesar bila dibandingkan dengan surau-surau lain di Sumatera Barat. Dalam hal isi, naskah-naskahnya mengandung teks yang beragam, seperti keagamaan, pengobatan tradisional, kesusastraan dan kesejarahan.

Baca juga :  Gedung Penyimpan Arsip dan Buku Dinas Perpustakaan Pessel Terbakar

Adalah Syekh Abdul Wahab (w. 1869), seorang ulama yang berasal dari Tanjung Bonai Aur, yang merintis Surau Calau menjadi pusat kecendikiaan ulama-ulama Tarekat Syattariyah pada awal abad ke-19. Pada masanya, Syekh Abdul Wahab telah menjadi magnet bagi orang-orang dari penjuru negeri untuk datang dan belajar berbagai ilmu keagamaan di Surau Calau.

Dari naskah-naskah yang tersisa sekarang, membuktikan kepada kita bahwa pada masa lampau tradisi intelektual pernah tumbuh subur di Surau Calau. Baik jumlah dan keragaman teks juga memberi kesan bahwa surau tersebut tidak hanya menjadi tempat belajar Alquran dan hadits, tetapi juga tempat belajar tentang masalah adab dan sastra. Naskah-naskah itu merupakan tinggalan kebudayaan dari tradisi intelektual yang panjang; yang darinya dapat diungkap berbagai hal yang dapat dimanfaatkan untuk kehidupan masa kini.

Tuanku Umar St Tuanku Mudo Memperlihatkan beberapa koleksi Surau Calau

Surau yang terletak di pinggir sungai Batang Sukam ini telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya. Di kawasan surau ini juga terdapat pemakaman atau yang biasa disebut dengan tampat. Di tampat inilah Syekh Abdul Wahab dan para syekh penerusnya dimakamkan. Pengaruh dan kewibawaan Syekh Abdul Wahab dan penerusnya membuat tampat ini selalu diziarahi oleh penganut tarekat Syattariyah.

Baca juga :  Bupati Pesisir Selatan Minta Camat dan Wali Nagari Lebih Gencar Sosialisasi Penanganan COVID-19

Setiap tahun, pada malam ke-10 Syafar, ribuan orang dari berbagai wilayah datang untuk berziarah ke tampat tersebut. Penziarah tidak hanya berasal dari Sumatera Barat saja, tetapi juga berasal dari daerah Jambi, Bengkulu, Palembang dan Riau. Tradisi ziarah, atau yang dikenal dengan basafa ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Malahan, tidak sedikit pula penziarah yang datang di luar jadwal basafa tersebut.

Dengan demikian, koleksi naskah Surau Calau memiliki potensi untuk dikembangkan. Keragaman teks yang terkandung di dalam naskah-naskah tersebut dapat disunting agar terbaca untuk khalayak luas. Teks kesusasteraan, kesejarahan dan pengetahuan lokal (pengobatan tradisional) dapat dipilih untuk disunting dan diterbitkan. Hasil terbitan itu dapat menjadi buah tangan para penziarah yang datang ke Surau Calau. Revitalisasi teks-teks klasik ini dapat dijadikan model untuk naskah-naskah lain yang masih tersebar di tangan masyarakat. Tentu saja dengan memilih terlebih dahulu teks-teks yang dianggap relevan untuk kehidupan masa kini.

Selain itu, naskah-naskah yang ada dapat disusun dan dipajang dalam sebuah ruangan khusus, layaknya sebuah museum mini. Museum mini ini dapat menjadi daya tarik yang menarik untuk menjadikan Surau Calau sebagai tempat kungan wisata baru, utamanya wisata religius.  (*)

Baca juga :  Pelayanan RSUP M Djamil Terapkan Protokol COVID-19 Mulai Hari ini

Pramono, Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Minangkabau FIB Universitas Andalas