Padang, inioke.com–Gagasan Surau Sydney merupakan gagasan pola hidup lama, sedangkan hari ini pola hidup new normal. Covid-19 yang membuat pola hidup berbeda harus bisa membuka pikiran untuk mengembangkan dan memperdalam agama islam serta budaya Minang dengan cara berbeda dari sebagaimana lazimnya tatap muka di surau.

“Sekarang bisa kita lakukan melalui digital yang dapat mencakup seluruh dunia. Maka Dari sudut inilah saya usul agar kita keluar dari pola pikir lama dan melihat kedepan, sehingga dengan demikian ada unsur baru, bahwa surau penting berkembang di seluruh dunia dengan memanfaatkan teknologi,” kata Profesor Emil Salim dalam diskusi online melalui aplikasi zoom meeting Surau Sydney Australia, Rabu (20/5).

Dijelaskan Emil Salim, pandemi Covid-19 telah mengubah pola hidup masyarakat hari ini, yang sebelumnya aktivitas pertemuan tatap muka, aktivitas kantor, sekolah dan ibadah di masjid sebagai pola hidup normal. Namun, hari ini pola tersebut bergeser kepada pola hidup virtual, seperti contoh aktivitas kantor, proses belajar mengajar, dilakukan di rumah dengan menggunakan teknologi virtual.

“Seminar dan diskusi pun digelar melalui teknologi virtual. Pola hidup baru yang dikenal dengan pola hidup new normal tersebut seperti yang kita lakukan hari ini,” ujarnya.

Baca juga :  Pulang dari Luar Negeri, Warga Sumbar Harap Lapor ke RS Terdekat

Hal senada juga disampaikan oleh tokoh Minang lainnya, Profesor Jurnalis Uddin, mengatakan, Profesor Emil Salim telah membuka bagaimana dimensi lain dari wabah Covid-19. Covid-19 membawa kita kepada era baru, sebenarnya sebelum covid-19 mewabah di dunia ada barang baru muncul yang namanya Revolusi Industri 4.0.

Ketua Aliansi Perguruan Tinggi di Indonesia itu mengkhawatirkan dampak pascapandemi Covid-19 terhadap aspek pendidikan. Pada hari ini kebanyakan orang tua tidak bekerja, bisnis yang tutup, aktivitas yang tidak banyak bisa dilakukan, sehingga tidak dapat membiayai anak-anaknya untuk sekolah dan berkuliah di perguruan tinggi.

“Laporan dari kawan-kawan, salah satu PTS di daerah mengatakan kepada saya bahwa limapuluh persen mahasiswanya tidak membayar uang kuliah. Sedangkan perguruan tinggi swasta sangat bergantung kepada mahasiswa, karena kalau tidak ada uang tidak dapat berjalan. Hal tersebut akan membahayakan masa depan bangsa. Anak-anak pintar dan cerdas tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena orang tuanya tidak mampu membiayai uang sekolah, sehingga akan terjadi perubahan yang sangat besar terhadap dunia pendidikan. Ini menjadi hal yang sangat memprihatinkan apabila kondisi ini tidak ada upaya-upaya dari Pemerintah untuk membantunya,” ungkap Jurnalis.

Baca juga :  Sektor Transportasi Andil Inflasi di Sumbar selama Mei 2020

Diskusi online ini diikuti oleh tokoh dan pemuka masyarakat Minang, seperti Gusrizal Gazahar (Ketua MUI Sumatera Barat), Irman Gusman (Ketua DPD RI 2009-2014), Arcandra Tahar (Komisaris Utama PGN), Nurhayati Subakat (Pengusaha Kosmetik Wardah), Fadli Zon (Anggota DPR RI), Guspardi Gaus (Anggota DPR RI), Profesor Ismet Fanany (Sastrawan Indonesia), dan juga turut hadir Irwan Prayitno (Gubernur Sumatera Barat). Serta dimoderatori oleh Profesor Fasli Jalal (Dewan Pembina MDN-G).

Ketua Surau Sidney Australia, Novri Latif, mengatakan kegiatan diskusi online ini diinisiasi oleh Surau Sydney Australia dan Minang Saiyo bekerjasama dengan Minang Diaspora Network-Global (MDN-G), ACT, PDA Travel. Surau Sydney Australia yang dirancang pada tahun 2015 oleh perantau Minang di sydney, bertujuan agar menjadi wadah bagi generasi penerus keturunan Minang. Tidak hanya ilmu pengetahuan dan keterampilan serta pengalaman di lingkungan minoritas muslim tetapi generasi yang juga memiliki akhlak yang Islami dan bangga dengan jati dirinya sebagai orang Minang.

Selain itu, juga membuka penggalangan donasi untuk pembangunan surau sydney melalui website https://www.surausydney.org.au/program/bantu-bangun-surau-di-sydney-australia atau melalui https://kitabisa.com/campaign/surausydney.

Duta Milineal Minang Sydney, Ranny Rustam, mengatakan, ingin menjaga komunitas Minang yang bersifat global karena itu harus memiliki pemahaman untuk memerankan hal tersebut.

Baca juga :  Supardi : Usulan PSBB Pemprov Sumbar Harus Perhatikan Kontennya

“Kami merasa nilai-nilai keislaman merupakan basis pertama dalam menjaga komunitas Minang dan tidak tercabut dari budaya minang di lingkungan multikultural seperti di Sydney,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, berharap kepada para pemuda di rantau, bahwa filosofi hidup masyarakat Minang “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” dan nilai-nilai dalam Al Quran mencakup yang namanya minhajul hayah yaitu pedoman hidup dalam seluruh aspek kehidupan.

“Budaya minang bersifat universal yang dapat mengikuti perkembangan zaman, baik ilmu, teknologi dan peradaban. Oleh karena itu kepada perantau Minang dimanapun berada, tetap kita bersiteguh untuk menggunakan adat Minang dan insya Allah akan diterima dimanapun,” tutur Irwan.

Ketua MUI Sumbar, Gusrizal Gazahar, mengatakan, surau berperan penting dalam membentuk karakter masyarakat Minangkabau. Di surau terjalin komunikasi lintas batas antara pemuda dengan orang tua, dan berbagai komponen yang berpangkat dengan tidak berpangkat, untuk tujuan beribadah kepada Allah SWT. MUI Sumbar pernah melakukan kajian dan merumuskannya kedalam deklarasi serambi mekkah pada Maret 2016 di Padang Panjang untuk mengembalikan fungsi surau sebagai pusat pembinaan umat. (boy)