Padang, inioke.com–Adanya persoalan serius dalam pemahaman masyarakat yang rendah terhadap new normal. Terkait transisi dari PSBB menuju new normal ada tiga poin penting yang menjadi catatan untuk pemerintah, yaitu, komunikasi pemerintah yang lemah, regulasi sering berubah, dan informasi tidak satu pintu.

“Hal ini mengakibatkan kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang diberikan oleh pemerintah menjadi rendah. Seperti saat sekarang ini masyarakat menjadi abai terhadap protokol kesehatan, karena pelonggaran yang dilakukan hari ini, seakan-akan dalam persepsi masyarakat covid-19 telah berakhir, padahal belum,” ujar dosen Unand,  Najmuddin M Rasul dalam diskusi virtual yang ditaja Soeloeah Institute dengan tema New Normal, Pilkada dan Nasib Pendidikan.

Narasumber lain, Bupati Tanah Datar 2005-2015, M Shadiq, menyampaikan new normal merupakan kebiasaan atau perilaku baru berbasis pada membudayakan hidup bersih dan sehat.

“Cara yang dilakukan dengan rutin cuci tangan pakai sabun, pakai masker saat keluar rumah, jaga jarak aman dan menghindari kerumunan, dengan harapan kebiasaan baru ini harus menjadi kesadaran kolektif agar dapat berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Baca juga :  Mulyadi Beri Sinyal Berpasangan dengan Ali Mukhni dalam Pilkada Sumbar 2020

Untuk konteks Pilkada di masa new normal Direktur Revolt Institute, Eka Vidya Putra, mengutarakan hasil survei yang telah dilakukan Revolt Institute pada 8-10 Juni 2020 dan telah dirilis di inioke.com. 

Revolt Institute merupakan lembaga riset dan konsultan publik, yang telah melaksanakan berbagai riset khususnya survei perilaku memilih sejak tahun 2003. Selain itu Revolt Institute juga acap melakukan kegiatan sosial secara swadaya. Sebagai lembaga riset Revolt Institute berpijak pada prinsip-prinsip ilmiah. Sedangkan tujuan dari Revolt institute yaitu untuk mewujudkan masyarakat yang kritis dan mandiri.

“Untuk mendukung setiap kegiatan riset maupun konsultan publik Revolt Institute memiliki peneliti yang berpengalaman dalam riset ilmiah, pendamping masyarakat dan sebagai aktivis pekerja sosial,” kata Eka, yang juga Pemred inioke.com.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Datar, Riswandi, mengatakan, dalam menyongsong new normal mengupayakan proses belajar mengajar berdasarkan pedoman protokol kesehatan.

“Apabila sekolah kembali dibuka berdasarkan pada kalender akademik, jikalau tidak ada perubahan regulasi kedepannya, maka kami mendorong pihak sekolah untuk mempersiapkan design atau skenario PBM dan infrastruktur pendukung berdasarkan protokol Covid-19. Seperti menyediakan tempat cuci tangan, ruangan kelas di design berdasarkan physical distancing, guru, siswa dan wali murid diwajibkan memakai masker pada lingkungan sekolah, lalu durasi satu jam pelajaran dikurangi dari 45 menit menjadi 30 menit. Kemudian, siswa diminta membawa bekal dan perlengkapan sholat dari rumah” ujarnya.

Baca juga :  Andani Eka Putra : Ibarat Menangkap Harimau Berkeliaran di Luar

Selain dihadiri narasumber, diskusi virtual ini juga diikuti Direktur Hotel Balairung Jakarta dan Ketua HIPMI Sumatera Barat Periode X, Buchari Bachter, dan Dosen LB UIN IB Padang, Nasrul A. (boy)