Oleh: Deddy Arsya

 

Wabah penyakit telah mempengaruhi kehidupan manusia secara luas. Ia dapat merombak tatanan suatu masyarakat atau mengubah alur sejarah. Beberapa perang besar gagal dimenangkan karena suatu pasukan penakluk telah lebih dulu diamuk badai wabah sebelum benar-benar diamuk senjata lawan. Terhentinya penaklukan Alexandre the Great atas dunia timur di tanah Hindustan adalah akibat epidemi menjangkiti pasukannya. Kegagalan Abrahah dan pasukan bergajah dalam  menaklukkan Mekah karena wabah penyakit, dalam kitab suci kaum muslim, Alquran, disebut dengan metafora ‘kerikil dari neraka’. Wabah penyakit juga yang menyebabkan depresi sosial terjadi, yang lebih lanjut meledakkan pemberontakan-pemberontakan di dunia abad pertengahan. Revolusi Prancis di antaranya juga disebabkan karena kegagalan kekuasaan Raja Louis memghampang penyebaran epidemi yang ketika itu melanda hampir sekujur Eropa.

Begitu juga halnya sejarah penaklulan-penaklukan pada awal abad modern. Sebagaimana dicatatkan Jared Diamond dalam buku Guns, Germs & Steel misalnya, bahwa apa yang menyebabkan ratusan ribu tentara Kerajaan Aztek yang terorganisir dan fanatik dapat dikalahkan hanya dengan 100 orang tentara Spanyol yang datang menyerbu? Kecanggihan senjata Eropa, memang, tetapi di sisi lain juga karena wabah penyakit yang telah lebih dulu melemahkan tentara kerajaan itu sehingga penakluk Eropa dapat dengan mudah mengalahkan mereka. Perang di dunia modern lainnya pada abad-abad kemudian juga banyak ditentukan oleh penyakit. Dalam Perang Dunia I dan II, “lebih banyak korban perang yang mati akibat terserang penyakit yang tersebar akibat perang daripada luka karena pertempuran”, tulis buku yang sama. Penyakit, dengan begitu, merupakan kekuatan pembentuk sejarah yang amat menentukan.

***

Dalam khazanah sastra Indonesia, tema epidemi/wabah penyakit hampir tidak digarap para pengarang kita. Hal ini tentu menjadi pertanyaan tersendiri mengenai apa sebab demikian. Namun, dalam perbendaharaan sastra dunia, kita akan menemukan keadaan yang berbeda. Tema ini begitu seksis dan telah melahirkan banyak novel yang menjadi fenomenal dalam sejarah sastra Barat. Tulisan ini akan meriview beberapa novel tersebut secara sederhana.

Baca juga :  Sudah Hampir 100 Orang Kena Corona di Sumbar

La Peste adalah salah satu novel tentang wabah penyakit yang terkenal. Novel karangan Albert Camus ini terbit tahun 1947. Novel ini merupakan novel Albert Camus yang paling populer karena dianggap paling mewakili pemikirannya, yaitu Absurditas. Selain itu, novel ini juga adalah novelnya yang paling laris dan membuatnya semakin terkenal dalam dunia sastra dan filsafat. Novel ini pula yang membuat Camus mendapat hadiah nobel pada tahun 1957. Dalam bahasa Inggris novel La Peste dikenal dengan nama The Plague; dalam bahasa kita diterjemahkan menjadi Sampar oleh Nh. Dhini.

La Peste menceritakan tentang sebuah kota di pinggiran utara Afrika, Kota Oran. Kota tersebut dilanda epidemi mematikan. Lebih dari setengah penghuninya mati terjangkiti epidemi dan mereka yang masih hidup dilanda kekalutan hebat. Gerbang kota ditutup. Mereka yang di dalam tak bisa keluar dan mereka yang sedang ada di luar tak dapat kembali.

Namun, jauh sebelum Camus, Daniel Defoe telah lebih dulu melahirkan novel dengan tema yang sama. A Journal of the Plague Year pertama kali diterbitkan pada Maret 1722. Novel ini adalah pengalaman seorang dari tahun 1665, ketika wabah besar melanda Kota London. Defoe, pengarang kisah petualangan Robinson Crusoe yang terkenal itu, masih berusia lima tahun ketika peristiwa dalam novelnya berlangsung. Kemungkinan novel ini didasarkan pada jurnal pamannya, Henry Foe.

Dalam novel itu, Defoe berusaha keras untuk mengidentifikasi lingkungan tertentu, jalan-jalan, dan bahkan rumah-rumah di mana peristiwa terjadi. Selain itu, ia menyediakan tabel jumlah korban dan membahas kredibilitas berbagai rekening dan anekdot yang diterima oleh narator. Novel ini sering disejajarkan dengan The Betrothed karya Alessandro Manzoni, pengarang Italia, sekalipun akan tampak berbeda dalam gaya penceritaan.

Novel lain dengan genre serupa yang lahir lebih belakangan adalah The Speckled Monster. Jennifer Lee Carrell, pengarang novel ini, membawa pembaca kembali ke awal abad ke-18. Dia menceritakan kisah Lady Mary Wortley Montagu dan Dr. Zabdiel Boylston, dua tokoh iconoclastic yang membantu menyelamatkan London dan Boston dari penyakit mematikan. Kedua tokoh ini hampir tidak selamat dari amuk cacar. Mereka lalu mencemooh obat abad ke-18 dengan meminjam pengetahuan rakyat dari budak Afrika—seorang perempuan yang dalam keadaan panik untuk melindungi anak-anak mereka berhasil menemukan formulasi penawar cacar dari bahan-bahan alami. Dari perjuangan heroik merekalah ilmu modern imunologi serta vaksinasi muncul.

Baca juga :  Indra Catri : Tuduhan yang Ditujukan pada Kami Tidak Berdasar Fakta Hukum

Novel ini mengekplanasikan bagaimana cacar tumbuh subur di tengah kawasan urban abad ke-18. Pertumbuhan kehidupan perkotaan yang belum pernah terjadi pada abad sebelumnya, diperparah lagi oleh desain kota-kota abad pertengahan (biaya pembangunan kota yang besar menyebabkan pemimpin mereka merancang kota menjadi lebih kecil; kawasan kota dilindungi tembok-tembok tinggi untuk mempertahankannya dari musuh, dan populasi kota terus tumbuh dalam dinding itu). Hal ini membuat perkembang penyakit menular menjadi gambang terjadi. Beberapa di antaranya mengerikan, seperti cacar. Kota-kota pelabuhan seperti London dan Boston merasakan wabah ini menjadi momok yang berulang-ulang: kedatangan kapal yang sakit, awak yang lemah secara imunitas selama pelayaran, telah mengirim penduduk ke dalam ketakutan dan menyebabkan pulau-pulau tertentu dipilih sebagai stasiun-karantina—sekalipun kebijakan ini memberikan manfaat yang kecil terhadap upaya menghambat laju penyebaran wabah. Buku ini adalah fiksi sejarah yang menghibur dan memikat. Perinciannya pada umumnya jujur. Sekalipun penerbit Plume (seri Penguin) tanpa malu-malu menyebutnya sebagai “Sejarah”, namun ini betul-betul sebuah karya fiksi-historis. “Carrell membuat tokoh sejarah menjadi hidup,” begitu tertulis Library Journal.

Novel tentang wabah penyakit lainnya yang lahir tidak berselang lama adalah The Barbary Plague: The Black Death in Victorian San Francisco. Marilyn Chase, pengarang novel ini, mengisahkan wabah penyakit pes di Victoria San Francisco. Novel ini adalah sebuah thriller kehidupan nyata yang beresonansi dalam berita utama hari itu. Novel ini membawa pembaca ke Boomtown Gold Rush tahun 1900. Dengan pemahaman yang mendalam mengenai kesehatan masyarakat, politik, ras, dan geografi, Chase menunjukkan bagaimana satu kota menang atas kemungkinan yang paling menakutkan dan mematikan dari wabah penyakit.

Baca juga :  Patung Mantan PM Winston Churchill dirusak Saat Demonstrasi Black Live Matter di Inggris

Kisah novel ini bermulai ketika sebuah kapal bernama Australia berlabuh di San Francisco pada tahun 1900. Kapal itu membawa tikus terinfeksi yang menyebarkan epidemi ke kota. Epidemi ini mengamuk secara sporadis selama lima tahun. Chase, seorang reporter Wall Street Journal, menunjukkan bagaimana penyakit ini pertama kali menghantam Chinatown dan menjelaskan bahwa kebanyakan San Fransiskan membantah wabah, sementara yang lain menyalahkan penduduk pecinaan (pejabat kota bersembunyi di balik kekhawatiran tentang pariwisata dan reputasi kota). Pejabat kesehatan publik pertama yang ditugaskan untuk membendung epidemi, Joseph Kinyoun, tidak memiliki strategi dan kebijaksanaan yang diperlukan untuk menghentikan laju wabah. Hanya ketika Rupert Blue, seorang pejabat baru, ditugaskan untuk kasus ini setelah wabah kedua lima tahun kemudian, maka epidemi ini dapat dibendung.

***

Dalam novel-novel yang telah kita ulas, kebanyakan telah menunjukkan itu kepada kita, bahwa epidemi/wabah penyakit tidak menyebabkan manusia kehilangan harapan. Dokter Rieux, salah satu tokoh penting dalam novel Camus, La Peste (Sampar) misalnya, telah menunjukkan harapan itu kepada kita. Di tengah kecamuk badai wabah, dia dapat dengan lebih tenang berujar: “… salah satu cara membuat orang menyatu bersama-sama ialah dengan memberikan sampar kepada mereka. Coba saja lihat sekeliling Anda!”

Memang, selama Kota Oran menanggungkan epidemi sampar, warganya justru lebih sering tumpah-ruah ke jalan-jalan untuk menghabiskan waktu bercengkerama satu sama lain, membagi kesedihan, atau sekedar berseloroh tentang hal yang remeh-temeh. Selama sampar pula, justru kedai-kedai kopi di kota selalu dipenuhi warga sekedar untuk saling bertemu—hal yang sama sekali tidak akan ditemui sebelum epidemi melanda. Warga kota seakan-akan disatukan dalam ikatan emosional sebagai mereka yang senasib dan semalang. Di tengah kematian massal akibat wabah, manusia toh masih dapat berbahagia.

[Deddy Arsya]