Oleh: Ikhsan Yosarie

 

Pasca konfirmasi kasus pertama pasien positif virus corona atau Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret lalu, ketika dua orang di Indonesia dipastikan terinfeksi Covid-19, kepanikan sontak melanda masyarakat. Imbas dari kepanikan tersebut, secara eksplisit kita melihat bahwa fenomena Homo Homini Lupus, yang ar­tinya manusia ada­lah serigala bagi se­samanya, tengah tertontonkan ditengah wabah pandemic Covid-19.

Pertama, kita melihat bagaimana harga produk kesehatan seperti hand sanitizer dan masker yang naik secara tidak wajar, karena naik berkali-kali lipat dari harga normalnya. Kenaikan ini sudah terjadi tidak lama setelah kasus positif Covid-19 terjadi di Indonesia. Hal ini terlihat di beberapa toko online. Seperti dikutip Kompas.com (https://money.kompas.com/read/2020/03/03/100129426/harga-sekotak-masker-di-online-shop-tembus-rp-17-juta), di Shopee, harga 1 box masker dengan merek Sensi Mask dijual seharga Rp 900.000. Satu box tersebut berisi 24 pack dengan isi total 144 lembar masker.

Sementara di penjual online lainnya, harga masker dengan merek yang sama dijual Rp 300.000 per box dengan isi 50 lembar. Masih dengan masker bermerek Sensi bahkan dijual seharga Rp 899.000 per box dengan isi 50 lembar. Harga masker di Bukalapak tak jauh berbeda. Harga masker Sensi dijual di kisaran 450.000-500.000 per box dengan isi 50 lembar. Sementara jenis masker N95 relatif cukup mahal. Harganya berada di atas Rp 1 juta per box. Contohnya, sekotak masker N95 dengan jenis 3M 8210 yang dijual Rp 1,7 juta untuk isi 20 pcs.

Baca juga :  Beberapa Kebijakan Kontroversi Pemerintah di Tengah Wabah Covid-19

Fenomena Homo Homini Lupusnya bukan hanya terletak pada oknum tertentu yang memainkan harga atau melakukan penimbunan barang untuk dijual ketika harga sudah benar-benar melambung, sehingga harga pasaran menjadi tidak normal. Tetapi juga pada masyarakat kelas atas yang dengan kemampuan finansialnya, ditambah kecemasan berlebihannya, memborong produk-produk kesehatan tersebut, sehingga menyebabkan kelangkaan. Di sisi lain, masyarakat kelas bawah yang pada harga normal biasa membeli 1-2 helai masker, kini hanya bisa tertunduk tidak mampu lagi membeli dengan jumlah serupa, padahal situasi tengah genting dalam konteks pencegahan dan perlindungan diri sendiri.

Kedua, selain hand sanitizer dan masker, banyak orang mulai mencari alcohol swab dan juga surgical gloves yang dapat digunakan untuk membersihkan barang-barang di sekitar. hal itu justru dikecam oleh sejumlah dokter. Salah satu dokter yang mengecam penggunaan alcohol swab bukan untuk keperluan medis ialah I Made Cock Wirawan dengan nama akun Twitter @blogdokter (https://www.wartaekonomi.co.id/read277566/masyarakat-borong-alat-medis-dokter-menjerit-terus-kami-pakai-apa). Dalam akunnya, Made berujar “Kalian paham gak sih? Kalau kalian borong masker, alcohol swab, surgical gloves sampai habis di pasaran. Trus kami yang petugas medis ini menggunakan apa untuk menolong saudara kalian yang sakit? Tolonglah pengertiannya”.

Baca juga :  Cek Kosong Pelibatan TNI Mengatasi Terorisme

Kecaman ini tentu wajar, karena kecemasan yang tak berketentuan justru berpotensi mengarahkan segala akibat kepada kelompok lain, dalam hal ini tenaga medis. Sifat-sifat demikian mencerminkan bagaimana egoisnya mereka yang berkemampuan finansial, sehingga hanya memikirkan bagaimana agar mereka selamat. Di sisi lain, masyarakat lainnya terkatung-katung karena tidak memiliki kemampuan dan barang-barang serupa. Padahal jika tenaga medis tidak bisa menggunakan APD lantaran persediaan habis diborong masyarakat umum, tentu petugas medis yang akan lebih rentan sakit dan tertular. Pertanyaannya, jika banyak tenaga medis tertular, maka siapa yang akan mengobati masyarakat umum?

Dan yang ketiga adalah fenomena panic buying alias belanja berlebihan. Fenomena ini memberikan dampak yang cukup parah, terutama bagi yang membutuhkan. Banyak barang-barang, terutama sembako dan kebutuhan rumah, habis dalam waktu singkat. Akibatnya banyak masyarakat yang tidak kebagian. Mereka melakukan “penimbunan” bahan-bahan kebutuhan pokok di rumah masing-masing sampai krisis reda. Di sisi lain, tidak semua masyarakat mendapatkan kesempatan serupa, terutama karena keterbatasan kemampuan finansial. Kelompok masyarakat yang mampu melakukan hal ini tentu masyarakat menengah ke atas. Dengan kemampuan finansialnya, memborong barang-barang tertentu dengan jumlah banyak bukanlah menjadi persoalan. Mereka seakan mengambil barang-barang penting dari tangan orang-orang yang sebenarnya jauh lebih membutuhkan, seperti kelompok menengah kebawah.

Baca juga :  Menata Ulang Narasi Otoritarianisme

 

Semua Orang Ingin Selamat

Kita semua mahfum, bahwa setiap orang berupaya untuk memenuhi rasa amannya dan melindungi dirinya dari Covid-19. Dengan hasrat tersebut, mereka melakukan pelbagai hal. Tapi, agaknya beberapa fenomena diatas mencerminkan satu hal, yakni kita lupa bahwa yang ingin selamat dari Covid-19 bukan hanya salah satu atau sebagian masyarakat saja, tetapi seluruhnya.

Selain itu, wabah Covid-19 ini bukan hanya membuka kembali wajah ketimpangan sosial dan finansial kita, tetapi juga wajah egois dan homo homini lupus kita. Dengan sikap ini keselamatan kita justru berarti ketidakselamatan orang lain, kemampuan kita berarti ketidakmampuan orang lain, dan milik kita berarti ketidakmilikan orang lain. Di sisi lain, melalui wabah Pandemi ini kita kembali diajarkan untuk peduli dan untuk lebih melihat bagaimana kondisi orang-orang disekitar kita, ketimbang hanya mengikuti nafsu pribadi belaka. (*)

Penulis adalah Peneliti HAM dan Sektor Keamanan SETARA Institute