Aktivitas terbatas di rumah karena lockdown, para perempuan juga menghadapi kesulitan untuk mengakses layanan keluarga berencana.

Sebelum memulai rutinitas berjalan tiga kilometer sehari menuju klinik kesehatan pemerintah dimana ia bekerja sebagai bidan, Stella Marie Alipoon menyiapkan botol air untuk dirinya dan pil pengontrol kelahiran, kondom dan jarum suntik untuk pasien yang akan ditemuinya nanti.
Alipoon melanjutkan pekerjaannya semenjak pertengahan Maret ketika pemerintah Filipina menyatakan lockdown untuk memutus penyebaran coronavirus. Bisnis dan perdagangan menghentikan kegiatannya, semua bentuk transportasi umum dan perbatasan kota dibarikade oleh polisi.

Langkah ini bertujuan untuk memotong penyebaran coronavirus tetapi juga menghentikan para pasien di Caloocan sekitar 8 km di North Manila, dari layanan kelahiran.

“Para pasien menghubungi saya dan mengirimkan pesan bagaimana supaya mereka dapat memperoleh layanan kesehatan untuk kelahiran,” kata Alipoon. “Banyak yang tidak bisa pergi karena tidak ada transportasi publik –atau tidak memiliki uang untuk pergi ke sana. Beberapa tidak yakin apakah klinik ditutup selama lockdown dan tidak ingin perjalanannya beresiko karena infeksi.”

Karena para perempuan tidak bisa pergi ke klinik, Alipoon membawa pelayanan keluarga kepada mereka, menemui mereka di sepanjang jalan untuk memberikan pil kontrasepsi dan kondom untuk persiapan untuk dua atau tiga bulan. Dalam suatu kesempatan, Alipoon menemukan tempat rahasia di belakang toko 7-11 untuk membagi-bagikan hal-hal itu.

“Para perempuan putus asa untuk mengontrol kelahiran. Pasangan mereka selalu di rumah karena lockdown dan mereka tidak mau keintiman yang meningkat menghasilkan kelahiran yang tidak pada waktunya,” kata Alipoon.

Baby Boom

Secara global, United Nations Population Fund (UNFPA) memperkirakan lebih dari 47 juta orang perempuan kehilangan akses terhadap kontrasepsi akibat coronavirus yang mengganggu suplai alat-alat kesehatan yang dapat menyebabkan 7 juta kehamilan yang tidak diinginkan.
Di Filipina, para ahli menyebutkan lockdown berarti lebih dari 5 juta perempuan di Filipina layanan terhadap kesehatan reproduksi mereka akan terganggu.

Baca juga :  Mahyeldi : Kesadaran Masyarakat Masih Kurang

Lebih dari 1.8 juta kehamilan yang tidak direncanakan telah diprediksi tahun ini, University of the Philippines Population Institute (UPPI) dan UNFPA memprediksi baby boom akibat coronavirus dengan tambahan 751.000 kandungan yang tidak diinginkan jika penerapan karantina dilanjutkan sampai akhir tahun.

“Hal ini akan menjadi angka tertinggi di negara itu semenjak 2012,” kata Juan Antonio Perez III, direktur eksekutif Commission on Population dan Development (POPCOM).

Menurut data POPCOM, angka kelahiran tahun itu adalah 1.79 juta dan telah secara berangsur-angsur turun ketika layanan keluarga berencana menjadi diterima secara luas.
Tetapi lockdown menjungkir balikan keadaan.

POPCOM menyebutkan pusat kesehatan pemerintah telah melihat 50 persen kehilangan pasien semenjak Maret, kebanyakan karena kekurangan transportasi publik, pegawai klinik yang terbatas dan berkurangnya jam klinik.

Ekonomi yang memburuk memaksa pemerintah mencabut kebijakan lockdown di seluruh negara pada 1 Juni, kecuali di beberapa daerah tertentu beresiko tinggi. Meskipun sedikit diredakan, tetapi masih banyak yang takut meninggalkan rumah mereka. Dalam beberapa minggu, filipina telah mencatatkan ribuan kasus COVID-19 harian. Seperti pada 12 Juli, terdapat 56.259 total kasus, jumlah tertinggi di Asia Tenggara.
Inisiasi baru

Dalam rangka membuat layanan kesehatan reproduksi lebih mudah dijangkau, departemen kesehatan pada April meluncurkan Keluarga Berencana beroda, sebuah program dimana pekerja kesehatan mengunjungi masyarakat dan menyerahkan suplai untuk tiga bulan agar mengontrol kelahiran.

“COVID-19 telah mengguncang sistem kesehatan kita, mengganggu akses terhadap keluarga berencana. Melalui keluarga berencana beroda, kami membawa layanan ini kepada pasien kami,” kata sekretaris kesehatan Francisco Duque Jumat lalu.

Baca juga :  Empat Pasien Positif COVID-19 Dirawat di RSAM Bukittinggi

Duque menambahkan data awal menunjukan peningkatan penggunaan pil dan alat kontrasepsi.

Namun sifat dari kontrol kelahiran, kehamilan dan kelahiran bersifat rumit dan sering tidak terduga. Di pemukiman kumuh Baseco, Manila, dimana Mildred Jamandron (24) tinggal, menyebutkan bahwa kebijakan lockdown membuatnya kewalahan.

“Saya tidak tahu dimana saya bisa melahirkan dengan aman. Saya melewatkan dua rumah sakit karena mereka menangani kasus COVID-19. Saya takut untuk melahirkan di sana. Sebuah klinik bersalin menetapkan 11.000 peso (2,9 juta rupiah/ kurs 1 peso = 292 rupiah) yang tidak bisa saya bayar,” kata Jamandron, seorang ibu rumah tangga istri dan seorang dari pelaut.

Pada 4 Juni, ketika Jamandron pergi ke pabrik di pagi hari, ia dihubungi oleh Likhaan Center for Women’s Health, organisasi yang menyediakan layanan kesehatan bagi ibu. Para pekerja di Likhaan mengirimkan kendaraan emergensi mereka dan menjemputnya jadi ia bisa melahirkan dengan selamat di fasilitas mereka.

Mak Calsona, seorang pekerja di Likhaan, mengunjungi Jamandron minggu lalu di rumahnya untuk memeriksa kesehatan kandungan dan memberikan pilihan pengontrol kelahiran. Menggunakan becak motor, ia menempuh jalanan dan air setinggi pergelangan kaki karena saluran air buruk dan air pasang untuk menjangkau Jamandron.
Pengemudi becak memberikan tarif 40 peso (11.000 rupiah) karena jarak dan kewajiban untuk melayani lebih sedikit penumpang karena adanya kebijakan lockdown, yang biasanya tarifnya seperempat dari itu.

‘Beban ganda’

Calsona menyebutkan para perempuan menderita beban ganda karena pandemi

Pada satu sisi, mereka takut untuk pergi ke klinik untuk mendapatkan layanan kesehatan. Pada sisi lain, mereka juga takut hamil selama pandemi yang akan membuat keamanan kesehatan dan kesehatan mereka menjadi tidak pasti,” katanya.

Setelah membayarkan kunjungan Jamandron, Calson menemui dua orang perempuan hamil lainnya dan membawa mereka ke klinik Likhaan untuk pemeriksaan dan mendiskusikan rencana kelahiran. Likhaan memberikan biaya transportasi. “Ini sepertinya jumlah yang kecil -40 peso untuk transportasi. Tetapi hanya itulah jalannya. Ketika anda berpikir untuk membayar transportasi pulang dan biaya mengunjungi klinik secara berulang-ulang. Hal ini menjadi masalah serius untuk mendapatkan layanan.”

Baca juga :  dr Farhaan Abdullah : Perjalanan Warga Negara Irlandia Positif COVID-19 dari Kamboja hingga Padang

Perempuan 14 tahun yang tengah mengandung t bulan itu belum pernah mendapatkan pemeriksaan kehamilan sekalipun. Kajian gabungan UPPI-UNFPA menunjukan bahwa 18.000 gadis-gadis remaja akan hamil pada akhir tahun karena langkah-langkah COVID-19.

Parane menjelaskan bahwa ia takut dan terkejut dengan apa yang akan keluarganya katakan ketika mereka tahu bahwa ia tengah mengandung. Sekarang, ia juga merasa takut. Ia mencoba untuk menemui dokter sebanyak dua kali. Suatu kali, klinik tutup dan lain waktu, tidak ada dokter. Kemudian ia mendengar beberapa klinik meminta pemeriksaan kesehatan dan hasil tes negatif COVID-19 sebelum mengizinkan pasien masuk, jadi ia berhenti mencoba.

“Saya ingin melahirkan di rumah sakit, tapi saya harus berhenti berusaha dan melahirkan di rumah. Saya pikir saya akan memutuskan kapan bayinya dilahirkan,” Parane mengangkat bahu.

Jose Fabella Memorial Hospital di Manila adalah rumah sakit bersalin terdepan di Manila. Sekitar satu dekade lalu, di rumah sakit ini terdapat 40.000 kelahiran pertahun.
Direktur rumah sakit, Dr Esmeraldo Ilem menyatakan keuntungan dari penggunaan alat kontrasepsi dan dilengkapinya pusat-pusat kesehatan sehingga mereka bisa melakukan persalinan sendiri telah menurunkan persalinan di Fabella hingga setengahnya.

Tetapi sekarang rumah sakit sedang bersiap untuk menyambut baby boom karena coronavirus.
“Kamu akan menangani banyak persalinan. Sekarang, adalah periode kehamilan,” kata Dr Ilem.

(Ana P Santos/AL Jazeera, dialihbahasakan oleh Patra)