Padang, inioke.com–Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Sumatera Barat, Prof Ganefri mengajak kepada semua pihak, agar jangan terpancing dan terprovokasi dengan isu-isu yang dapat memecah belah bangsa. Apalagi saat ini, banyak informasi-informasi liar yang beredar di media sosial yang sulit dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Negara kita adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang multi kultural, multi etnis, multi agama, mari kita bersatu dengan tetap menghargai perbedaan di antara kita masing- masing. Masyarakat kita himbau untuk tidak ikut terprovokasi oleh informasi-informasi yang justru mengarah ke percahan,” ujar Ganefri kepada media, Sabtu (21/11).

Lanjut Ganefri yang juga Rektor Universitas Negeri Padang (UNP) dua periode, justru mengajak masyarakat untuk menangkal isu-isu yang disebarkan oleh pihak yang tidaknbertanggungjawab. Karena dapat memecah belah persatuan dan kerukunan umat.

“Siapapun yang berpotensi untuk memecah belah bangsa ini harus kita lawan,” tegas Ganefri.

Ganefri mengajak semua masyarakat agar tetap bersatu ditengah perbedaan dan menjaga kebersamaan serta memperkuat silaturahmi.

“Mari kita jaga Negara Kesatuan Republik ini, kita bersatu ditengah perbedaan dan jaga kebersamaan,” ajak Ganefri.

Baca juga :  Semakin Meningkat, Sudah 81 Orang Kena Corona di Sumbar

Prof Ganefri juga menghimbau kepada semua pihak untuk terus mawas diri, apalagi di tengah pendemi 19 covid yang terus masih mewabah di Negeri Indonesia.

“Mari kita jaga, agar wabah ini tidak terus menular dengan cara menjaga jarak menghindari kerumunan- kerumunan dan selalu memakai masker kemanapun kita berada,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Halalah Zikir H Boy Lestari Datuk Palindih menilai, kegaduhan dan pro kontra kembali terjadi di republik ini, sejak kepulangan Habib Rizieq Shihab ke Indonesia. Bahkan pengumpulan massa yang terjadi dengan mengabaikan protokol kesehatan, berpotensi menimbulkan penyebaran covid-19 lebih meluas.

Bahkan Boy Lestari Dt Palindih yang juga Ketua DPD Perjuangan Bravo Lima Sumbar itu melihat, lebih banyak mudarat daripada manfaatnya kerumunan masa tanpa memperhatikan protokol kesehatan. Justru pengerahan masa dan berkerumun saat pandemi sesuatu yang sangat dilarang dalam agama, karena lebih besar mudarat dibandingkan manfaatnya.

“Jika kumpulan massa tersebut menyebabkan semakin menyebarnya virus Corona, maka sama halnya kita tidak menyayangi orang lain, sementara Islam ini ada untuk Rahmat sekalian alam, dimana membawa kesejukan serta obat bagi siapa saja mahluk di muka bumi Allah. Islam juga sangat melarang adanya pengrusakan dimuka bumi Allah, dalam Alqur”an dinyatakan tegas dan tegas untuk hal tersebut,” ungkap H Boy Lestari.

Baca juga :  DPRD Sepakat Buat Perda Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman Covid-19

Boy Lestari juga menilai, adanya pengrusakan diberbagai tempat oleh kelompok massa yang menamakan diri FPI merupakan pelanggaran atas perintah Allah, dan juga aturan negara kesatuan Republik Indonesia. Masyarakat jangan sampai ikut terpancing dan terprovokasi oleh hal-hal tersebit.

“Islam itu sejuk dan menyejukkan siapa saja, tidak kasar apa lagi arogan, Islam tidak pernah mengajak perang apalagi mengagap remeh pimpinan negara, Islam itu damai dan pemaaf, kalau ada yang mengatakan ia pengikut Rasul tapi arogan, kasar, sok jagoan, nantangi orang, menyalahkan orang, dan sebagainya, itu tidak benar karena ajaran Rasul bukan seperti itu,” tegas Buya Boy lagi.

Karena itu, Buya Boy Lestari berharap pada pemerintah, agar bisa menertibkan organisasi mengatasnamakan agama, tapi praktiknya berlawanan dengan sesungguhnya, karena dapat merusak hubungan berbangsa dan bernegara. (rilis)