Padang, inioke.com–Dibukanya kembali tempat-tempat wisata, setiap daerah di Sumbar diharapkan untuk melakukan tes swab minimal 200 orang setiap hari. Termasuk pada stakeholder dalam bidang jasa. Seluruh pegawai hotel, pegawai restoran, supir taksi, pedagang, semuanya harus dilakukan tes swab dan tetap mengikuti protokol kesehatan.

Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, menyampaikan, apabila tidak terus diawasi, lalai dengan kebijakan maka bisa saja akan terjadi ledakan baru. Menindak hal ini perlu dilakukan promosi dengan tagline wisata tanpa covid. Serta perlu lakukan tahap-tahap seperti persiapan, penyusunan kebijakan dan eksekusi lapangan.

“Harapan untuk kedepannya apabila ada klaster baru lagi, kita harus langsung dengan cepat melakukan tracking terhadap keluarganya dan kerabatnya. Kalau tidak ada obatnya, covid akan terus bertambah. Maka dari itu semuanya tergantung pada pengendalian kita,” ungkapa Irwan Prayitno, dalam konferensi video bersama Wakil Gubernur, Nasrul Abit, dengan Bupati/Wali Kota se Sumbar, kemarin (6/7).

Dalam konferensi video evaluasi penerapan Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman Covid-19 (TNB PAC) di Sumbar tersebut, Gubernur membicarakan empat Agenda kepada seluruh Bupati/Wali Kota. Empat Agenda tersebut yaitu tentang Kajian Epidemiologi, Evaluasi Pelaksanaan Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman Covid-19, Penanganan Covid-19, serta Persiapan Menghadapi Tahun Ajaran Baru Pendidikan.

Baca juga :  Malaysia akan Usir Jurnalis Al Jazeera

“Alhamdulillah melihat kondisi kita saat ini, sampai tanggal 6 Juli 2020 perkembangan positif Covid-19 di Sumatera Barat di bawah satu persen,” ucap Irwan Prayitno.

Ia menyampaikan, Pemprov Sumbar telah melakukan kebijakan – kebijakan yang terkait dengan sistem kesehatan untuk mengantisipasi gelombang baru covid-19, yaitu pengendalian penanggulangan covid-19 dengan bantuan Bupati dan Wali Kota, bansos untuk masyarakat yang terdampak, pengendalian pertumbuhan ekonomi seperti mulai dibukanya perjalanan wisata dan memastikan tetap produktif saat covid, seperti perbaikan IT untuk masyarakat.

“Yang terpenting bagaimana upaya untuk mengedukasi masyarakat senantiasa disiplin menerapkan protokol kesehatan secara ketat, agar kita bisa produktif dan aman dari Covid-19,” sebut Irwan.

Kajian Epidemiologi

Apabila dibandingkan dengan luar negeri dan Indonesia, Sumbar sudah yang terbaik. Pada awalnya memang terdapat korban jiwa karena kurangnya kesiapan APD dan perlengkapan lainnya. Namun setelah sarana dan prasarana lengkap semua prosedur dapat dijalankan dengan baik. Kesembuhan meningkat menjadi 80,4 persen.

“Angka ini akan terus berubah, namun Sumbar tetap jauh dari Nasional. Masyarakat yang terjangkit saat ini di rumah sakit sudah tinggal hitungan jari. Bahkan rumah sakit sudah mulai dibuka untuk umum dan tidak terpaku pada covid lagi,” tukas Irwan.

Baca juga :  Pandemi Covid-19, BRI Syariah Tetap Beri Pembiayaan Kredit Ritel dan Mikro

Sebelumnya, Sumbar secara Nasional pernah menduduki peringkat ke 5 pasien terbanyak covid-19. Saat ini Sumbar menduduki peringkat ke 17, terendah di Indonesia.

“Bisa jadi akan semakin turun jika upaya pengendalian dilakukan semakin maksimal. Terlebih memasuki masa new normal harus lebih teliti lagi. Tidak mungkin kita dirumah terus. Sampai kapan akan seperti ini? Banyak masyarakat yang menuntut karena tidak bisa melakukan ibadah, berdagang, dan sebagainya,” tuturnya. (ioc)