Dalam konferensi melalui video, Jumat 3 April 2020 di Jenewa/Washington, Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva berbicara, krisis hari ini tidak seperti krisis sebelumnya. Menurutnya, bahwa ekonomi dunia saat ini berhenti dan masuk dalam resesi. Kondisi sekarang jauh lebih buruk daripada krisis keuangan global tahun 2008-2009.

Konfrensi yang di lakukan bersama dengan Organisasi Kesehatan Dunia, WHO ini, mengupas, bahwa penyebabnya adalah pandemi virus corona atau COVID-19. Kata Kristalina, Virus ini telah mencemplungkan dunia ke dalam resesi yang akan “jauh lebih buruk” daripada krisis keuangan global satu dekade lalu.

Sampai jumat Rueters telah mencatat lebih dari 1 juta orang telah terinfeksi COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut juga mengakibatkan lebih dari 53.000 orang meninggal dunia.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pelaksana IMF juga menjelaskan bahwa IMF, bekerja sama dengan Bank Dunia (World Bank) dan World Health Organization (WHO) menyarankan kepada China dan kreditor bilateral resmi lainnya untuk menangguhkan penagihan utang dari negara-negara termiskin setidaknya, selama satu tahun sampai pandemi mereda.

Baca juga :  COVID-19, Wajah Beragama dan Kepatuhan

Kini dapat dirasakan bahwa pertumbuhan pasar dan perkembangan ekonomi sangat terpukul oleh krisis saat ini. Kata Kristalina Georgieva, ia mencatat bahwa hampir 90 miliar dolar dalam investasi telah mengalir keluar dari pasar negara berkembang, jauh lebih banyak daripada selama krisis keuangan bahkan beberapa negara juga menderita penurunan tajam harga komoditas.

Presiden Bank Dunia David Malpass, pada saat bersamaan mengatakan, COVID-19 diperkirakan akan menyebabkan resesi global secara umum yang kemungkinan akan menghantam negara-negara paling miskin dan paling rentan.

Oleh sebab itu hampir setengah dari 189 anggota IMF (90 negara) telah meminta dana darurat dari IMF untuk menanggapi pandemik. Dan IMF siap menggunakan sebanyak 1 triliun dolar (financing capability) sebagaimana dibutuhkan dan ini sudah mulai disalurkan kepada Negara yang meminta, tukasnya. (Taufik/Reuters/Al Jazeera)