Limapuluh Kota, inioke.com—Pemberlakuan lockdown atau kuncitara akibat COVID-19 oleh Pemerintah India hingga 14 April mendatang berdampak besar pada petani dan pengumpul atau tauke gambir di Kabupaten Limapuluh Kota. Beberapa di antara tauke tersebut menghentikan pembelian, sehingga petani gambir tidak bisa menjual hasil kerjanya.

Seorang tauke gambir, Sepdi Tito menyebut kuncitara yang dilakukan India membuat pasokan gambir dihentikan, karena tidak ada yang menampung komoditi ekspor itu di India saat ini. Hal ini, kata Sepdi membuat keuangan para tauke menipis.

“Siapa yang masih ada uang masih membeli (gambir), kalau yang sudah tidak ada, kemungkinan tidak membeli,” ujarnya, Kamis (2/4).

Tidak jelasnya pangsa pasar di India, menurut Sepdi, para tauke terpaksa membeli gambir dengan harga yang cukup rendah dari petani. Bahkan, ada yang membeli hingga Rp13.000 dan Rp14.000. Sementara, Sepdi masih membeli gambir Rp15.000 perkilogram.

“Dengan harga segitu, mereka masih bisa menghasilkan Rp50.000 sampai Rp60.000 perhari. Setidaknya, mungkin petani masih bisa bertahan,” jelasnya.

Baca juga :  Kasus Pertama, 3 Orang Dinyatakan Positif COVID-19 di Solok Selatan

Setelah kuncitara selesai di India, juga belum ada kepastian ekspor gambir akan bergairah lagi. Septi mengumpulkan sekitar 20 ton gambir setiap minggu. Saat ini, katanya, ada sekitar 104 ton gambir yang tertahan dan belum bisa dikirim ke India.

Harga gambir termurah

Idel, petani gambir asal Nagari Simpang Kapuak, Kecamatan Mungka, menyebut gambir merosot jauh tahun ini, bahkan yang termurah dalam setahun terakhir. Kondisi ini sangat berpengaruh dengan penghidupannya. Menurutnya, tidak hanya ia yang merasakan kesulitan hidup akibat harga gambir yang murah ini, hampir semua penduduk Nagari Simpang Kapuak merasakannya. Sebab, sebagian besar penduduk nagari itu mengantungkan hidup dari hasil ladang gambirnya. Akibatnya, tidak ada pilihan lain bagi petani selain menambah hutang.

“Kalau tidak berhutang bagaimana bisa membeli beras dan kebutuhan lain,” jelasnya.

Idel menceritakan, dalam beberapa bulan terakhir, para petani kesulitan menggantungkan hidup dari hasil panen gambir. Dengan harga yang berkisar Rp23 ribu sampai dengan Rp27 ribu, petani masih cukup kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi dengan harga sekarang yang hanya berkisar Rp13 ribu sampai Rp15 ribu perkilogram. Seharga demikian, petani hanya bisa mengantongi Rp42 ribu sampai Rp53 ribu sehari untuk dibawa pulang.

Baca juga :  Terapkan PSBB, Sisa Cadangan Pangan Pemerintah Pessel hanya 5 ton

“Dalam seminggu itu kita bisa menghasilkan gambir sekitar 20 hingga 25 kilogram. Kalau harganya Rp15 ribu tentu tidak cukup untuk hidup kita sehari-hari,” ungkap Idel.

Hal yang sama juga dirasakan petani lainnya, Angga. Ia pun kesulitan memenuhi kebutuhan hidup dengan harga gambir yang merosot tajam tersebut. Meskipun sudah berhemat, katanya, tetap saja tidak mencukupi. (GYN)