Sebuah gambar menunjukan senjata yang konon digunakan oleh pasukan Tiongkok dalam kerusuhan di perbatasan yang dipersengketakan dengan India pada Senin.

Bentrokan di Lembah Galwan menyebabkan sedikitnya 20 orang tentara India tewas dan meningkatkan ketegangan antara dua negara itu.

Tiongkok tidak menyebutkan adanya korban di pihak mereka dalam peristiwa itu. Kedua pihak saling menuduh karena menyerang lebih dahulu.

Perbatasan antara dua negara itu  memiliki garis yang buruk dan bisa berubah dengan perubahan topografi.

Sebuah gambar yang diserahkan seorang perwira militer India kepada BBC menunjukan senjata yang digunakan dalam bentrokan antara pasukan India dengan Tiongkok (BBC)

Gambar yang muncul pada Kamis (18/6) menunjukan senjata yang tampaknya terbuat dari tongkat kayu dengan paku. Gambar itu diserahkan kepada BBC oleh seorang pejabat militer senior India di perbatasan, yang mengatakan bahwa senjata itu digunakan oleh tentara Tiongkok.

Ajai Shukla, seorang analis pertahanan yang pertama kali mengomentari gambar itu pada twitter, menjelaskan penggunaan senjata semacam itu sebagai tindakan barbar. Absennya senjata api dalam bentrokan itu berdasarkan kesepakatan pada 1996 oleh kedua belah pihak yang melarang adanya senjata api dan bahan peledak di daerah yang dipersengketakan itu untuk menghalangi eskalasi konflik.

Gambar itu telah disebar luaskan di India, menyebabkan kemarahan dari pengguna media sosial. Tidak ada pejabat dari, baik, India maupun Tiongkok yang memberikan komentar.

Baca juga :  India Melarang TikTok, We Chat dan Lusinan Aplikasi Tiongkok Lainnya

Dari berbagai laporan media menyebutkan bentrokan terjadi di punggung sebuah bukit di ketinggian hampir 4.267 meter di hamparan padang rumput, dimana beberapa orang tentara jatuh ke Sungai Galwan yang beraliran deras dengan suhu mendekati nol derajat celcius.

Kematian pertama dalam empat dekade  

Kedua belah pihak telah bentrok di sepanjang perbatasan yang disengketakan dalam beberapa pekan terakhir, tetapi apa yang terjadi pada Senin adalah pertama yang menimbulkan korban jiwa dalam 45 tahun. Laporan-laporan yang belum bisa dikonfirmasi oleh media India menyebutkan setidaknya 40 orang tentara Tiongkok tewas, tetapi Tiongkok belum memberikan informasi mengenai korban. Beberapa tentara India dipercaya masih hilang sampai sekarang.

Juru bicara kementerian luar negeri Tiongkok, Zhao Lijian menyebutkan India menyeberangi perbatasan sebanyak dua kali, “memprovokasi dan menyerang personel Tiongkok yang menyebabkan konfrontasi fisik serius antara penjaga perbatasan dari kedua belah pihak”, disebut AFP news.

Pada Rabu, Tiongkok menegaskan “kedaulatannya atas kawasan lembah Galwan” –klaim yang disebut India sebagai suatu yang “berlebihan dan tidak bisa dipertahankan”.

Masyarakat di kedua negara telah melancarkan protes terhadap sengketa perbatasan di kawasan Himalaya itu, sementara pemerintah menyebutkan mereka sedang beralih untuk mencari resolusi diplomatik secara berhati-hati.

Juru bicara kementerian luar negeri India, Anurag Srivastava menyebut kementerian luar negeri dari kedua negara telah melakukan komunikasi dengan telepon pada Rabu (17/6) terhadap perkembangan dan “sepakat situasinya harus ditangani dengan cara yang bertanggung jawab”.

Baca juga :  Perdana dan Satu-satunya di Sumbar, Kota Padang Panjang Launching PBB-PP Online

“Membuatnya pernyataan berlebihan dan tidak bertanggung jawab sangat berlawanan dengan pemahaman ini,” sebut Srivastava seperti dikutip dari kantor berita India, Press Trust.

Sebuah pernyataan pemerintah India setelah pembicaraan Subrahmanyam Jaishanker dengan Wang Yi menyebutkan pasukan Tiongkok berusaha membangun di wilayah India yang diakui secara de facto dalam Line of Actual Control (LAC).

Pernyataan itu menuduh Tiongkok “telah merencanakan tindakan yang secara langsung bertanggung jawab atas kekerasan dan korban” dan memaksa Tiongkok “untuk melakukan tindakan perbaikan”.

Sementara itu, pernyataan Tiongkok seperti yang disampaikan Wang Yi menyebutkan “Tiongkok sekali lagi menyampaikan protes keras kepada India dan meminta India melakukan investasi… dan menghentikan semua provokasi untuk memastikan hal yang sema tidak terjadi lagi.”

Mengapa tidak ada senjata api?

Lembah Galwan di Ladakh, dengan iklim yang keras dan medan yang tinggi, membentang sepanjang sektor LAC dan dekat dengan Aksai Chin, wilayah sengketa yang diklaim India namun dikuasai Tiongkok.

Ini bukan pertama kalinya dua pasukan nuklir tetangga itu terlibat dalam pertempuran bersenjata yang konvensional di perbatasan. India dan Tiongkok memiliki sejarah perseteruan dan klaim wilayah yang tumpang tindih di daerah sepanjang lebih dari 3.440 km itu, yang dipisahkan dengan buruk oleg LAC kedua belah pihak.

Baca juga :  Pemkab Pessel Harus Beri Ruang Koreksi terhadap Data Penerima JPS Tidak Valid

Tembakan terakhir di sana terjadi pada 1975 ketika empat orang tentara India terbunuh di sebuah daerah terpencil di timur laut negara bagian Arunachal Pradesh. Bentrokan itu disebut pada diplomat sebagai sebuah penyerbukan dan kecelakaan. Tidak ada peluru yang ditembakan lagi semenjak itu.

Akar dari ini adalah perjanjian bilateral pada 1996 yang menyebutkan “tidak satu pihak pun akan menembakkan senjata api… dalam melakukan operasi atau berburu dengan senjata atau bahan peledak dalam jarak dua kilometer dari Line of Actual Control”.

Tetapi terdapat bentrokan dalam bentuk lain di kawasan itu dalam beberapa pekan terakhir. Pada Mei, tentara India dan Tiongkok terlibat baku hantam di Danau Pangong, Ladakh, dan di beberapa ratus kilometer di timur negara bagian Sikkim.

India menuduh Tiongkok mengirimkan ribuan pasukannya ke Lembah Galwan, Ladakh dan menyebutkan Tiongkok menduduki 38.000 kilometer persegi daerahnya. Beberapa kali perundingan yang dilakukan dalam tiga dekade terakhir gagal untuk menyelesaikan sengketa perbatasan dua negara itu. (Patra/BBC)