Agam, inioke.com–Pergerakan kasus positif COVID-19 di Agam semakin berkembang. Setidaknya, sudah 13 orang terinfeksi virus corona di Agam hingga kemarin. Hal ini membuat Bupati Agam Indra Catri semakin gencar melakukan tracing terhadap orang-orang yang pernah kontak dengan para pasien positif tersebut.

Indra Catri menguraikan proses tracing yang dilakukan di Agam dibagi dalam 3 klaster. Klaster 01 (Padang Tarok Baso), klaster 02 (Koto Baru Baso) dan klaster 03 (Lubuk Basung).

“Ketiga klaster tersebut memiliki karakter yang berbeda dan cukup menarik untuk dicermati dan terlihat sangat berpengaruh terhadap pola penyebaran COVID-19 di Agam,” ujarnya.

Dijelaskannya, kasus 01 misalnya, sebagai urang Sumando di Agam, dalam kesehariannya lebih banyak memanfaatkan waktunya bekerja di Payakumbuh. Kalau pulang ke rumah anaknya di Padang Tarok biasanya sudah larut malam dan besok pagi-pagi sudah kembali lagi ke Payakumbuh. Waktunya untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungannya sangat terbatas di Padang Tarok. Hal ini dibuktikan bahwa hanya salah seorang dari dua anaknya yang terpapar COVID-19 di Padang Tarok.

Baca juga :  Menteri Agama Imbau agar Perbanyak Porsi Daging Kurban untuk Masyarakat Terdampak Covid-19

“Beda halnya dengan 02 di Koto Baru Baso. Beliau ini merupakan sosok yang sangat komplit selaku orang Agam. Beliau tokoh di kampungnya. Beliau seorang pengrajin peralatan pancing yang memiliki banyak kontak dan langganan. Beliau juga sosok orang tua yang taat beribadat ke masjid dan memiliki pergaulan cukup luas, baik di pasar maupun di lapau,” ungkap Indra Catri.

Disamping itu, lanjutnya, anak-anak beliau juga termasuk orang-orang yang memiliki jaringan luas di tengah masyarakat, antara lain berprofesi guru dan dokter.

“Pembelajaran yang didapatkan disini adalah jejaring 02 lebih potensial dibandingkan dengan 01 dalam penyebaran COVID-19,” katanya.

Berdasarkan hasil hasil tracing terhadap klaster 02 ternyata rekam jejaknya sangat luas. Fakta lapangan menunjukan bahwa aktivitasnya sangat bervariasi. Melakukan banyak kontak dengan orang lain, dengan sebaran geografis yang luas.

“Beliau tercatat sebagai jamaah shalat jumat dan tarawih di Surau Labuah, sempat singgah di Pasar Koto Baru dan Pasar Baso, serta mengunjungi beberapa toko langganan di Aur Kuning Bukittinggi,” paparnya.

Baca juga :  Ini apresiasi Bupati Pasaman Barat pada 43 keluarga yang mundur dari program keluarga harapan

Beda lagi kasusnya dengan 03, seorang tenaga labor di Puskesmas Lubuk Basung. Dikenal cukup supel dalam pergaulan, memiliki banyak teman, serta memiliki kegiatan usaha tambahan di luar jam dinas dan memiliki banyak kontak pada beberapa kantor di Lubuk Basung.

Selama 10 hari kebelakang, 03 ini tercatat pernah berbelanja Ke Aur Kuning, ke Pasar Padang Baru, dan Pasar Lama Lubuk Basung. Suaminya juga suka bergaul dan banyak teman. Dengan sendirinya juga memiliki banyak kontak dan tersebar luas.

Sebagai seorang driver bus ke Pekanbaru juga sering melakukan perjalanan jauh. Tercatat juga sering berbelanja di Pasar Padang Baru dan Pasar Lama Lubuk Basung.

“Sampai hari ini dari klaster 01 ditemui 1 orang OTG positif dan kita terpaksa men-swab sebanyak 14 orang. Walaupun belum berakhir, dari klaster 02 ditemui sebanyak 11 orang positif dan kita sudah men-swab 110 orang. Sedangkan dari klaster 03 kita sudah men-swab 130 orang, ini baru tahap awal dan kita baru bisa melihat prospeknya bila hasil swab pertama keluar besok,” terang Indra Catri.

Baca juga :  Setelah diperiksa KPU Agam 1.361 KTP dukungan pasangan Suhatril-Toni hangus

Ia mengungkapkan, banyak pembelajaran yang bisa didapatkan dari tiga kasus tersebut. Penyebaran corona sangat tergantung dengan pergerakan orang dan kontak person terutama yang terpapar COVID-19. Makanya kita berlakukan PSBB dan anjuran di rumah saja, jaga jarak, pakai masker.

“Gerakan Anda selamatkan saya dan saya selamatkan Anda, sangat penting untuk diamalkan,” tukasnya. (gyn)