Padang, inioke.com—Bupati Agam, Indra Catri, akhirnya bicara tentang tuduhan yang dialamatkan kepadanya dan Sekda Martias Wanto terkait pencemaran nama baik Anggota DPR RI Mulyadi melalui akun facebook Mar Yanto. Indra Catri sangat menyesalkan dalam Surat Pernyataan dan Surat Permohonan Maaf Eri Syofiar, yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Sumbar, menuduhnya sebagai atasan yang memerintahkan dan menyutujui melakukan perbuatan tersebut.

“Tuduhan yang ditujukan pada kami merupakan pernyataan yang tidak berdasar fakta hukum, karena kasus ini sedang dalam proses penyidikan oleh Kepolisian RI di Polda Sumbar. Tuduhan pada Kami yang disampaikan Eri Syofiar dalam surat permohonan maaf dan surat pernyataannya belum layak untuk disampaikan ke publik karena kasus ini masih dalam proses penyidikan. Saya pun merasa tidak etis untuk mengomentari apa yang masih dalam proses penyidikan tersebut,” ungkap Indra Catri dalam konferensi pers di Padang, bersama penasehat/kuasa hukumnya, Ardyan dan Rianda Seprasia, dari Kantor Advokat dan Konsultan Ardyan, Rianda Seprasia & Partner, Minggu (5/6).

Baca juga :  New Normal, Objek Wisata di Agam Kembali Dibuka

Ardyan dan Rianda Seprasia dari Kantor Advokat dan Konsultan Ardyan, Rianda Seprasia & Partner

Sebetulnya, lanjut Indra Catri, sejak beberapa hari yang lalu ia diminta para pendukung, simpatisan dan pengacaranya untuk melakukan konferensi pers ini. Namun, ia menolak karena khawatir akan terjebak dalam polemik yang kontra produktif. Bahkan, katanya, bisa-bisa ia dituding memframing persepsi publik terhadap kasus akun Mar Yanto yang saat ini sedang disidik oleh pihak kepolisian.

“Tapi setelah melihat demikian viralnya berita tentang peristiwa permintaan maaf Eri Syofiar terhadap Mulyadi beberapa hari ini, saya pikir ada baiknya juga menyampaikan beberapa hal kepada publik, agar publik mendapatkan berita yang relatif berimbang. Sekaligus menjawab kerisauan yang kini timbul di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Agam atas tuduhan yang dialamatkan pada Bupati dan Sekretaris Daerah-nya. Termasuk pula untuk mengurangi tekanan terhadap diri saya, para simpatisan, serta pendukung saya,” paparnya.

Ia mengungkapkan, sebagai warga negara yang baik, patuh dan kooperatif terhadap hukum serta penegakan hukum, telah memenuhi panggilan Kepolisian Negara RI untuk diperiksa sebagai saksi dalam perkara tersebut. Ia juga mengajak semua pihak untuk menghormati proses hukum yang sedang berjalan dengan senantiasa menghormati asas praduga tak bersalah (presumption of innocence).

“Langkah selanjutnya terhadap tuduhan Eri Syofiar kepada saya, sepenuhnya saya serahkan kepada Penasihat Hukum atau Kuasa Hukum yang telah saya tunjuk. Saya ingin bekerja yang lain, dan tidak mau menghabiskan waktu dengan tuduhan tak berdasar ini.  Oleh karena itu, saya mengajak kepada semua pihak khususnya warga Kabupaten Agam, simpatisan, dan pendukung saya dimanapun berada untuk selalu bersabar dan menahan diri. Marilah kita hormati proses hukum yang sedang berjalan saat ini,” pungkasnya.

Baca juga :  KPU Melawan Corona

Sementara itu, Ardyan mengatakan, dalam kasus ini, pihaknya fokus pada tuduhan Eri Syofiar terhadap Bupati dan Sekda Agam. Dimana, tuduhan yang disampaikan dalam surat pernyataan dan permintaan maaf itu, Eri Syofiar menuduh Bupati Agam yang memerintahkan membuat akun facebook bodong tersebut serta mengunggah beberapa foto Mulyadi dengan perempuan disertai kalimat di statusnya.

“Tuduhan itu disampaikan kepada Bupati sebagai atasannya, bukan Indra Catri secara pribadi. Artinya, yang dituduh itu pejabat negara, atau jabatan yang melekat pada Indra Catri. Kemudian, Eri Syofiar juga menyampaikan, bahwa Bupati menyuruhnya meminta persetujuan Sekda untuk melakukan hal tersebut. Ini kan terbalik. Seharusnya, Sekda yang meminta persetujuan Bupati,” tutur Ardyan.

Selain itu, Ardyan juga menegaskan, dalam kasus ini hanya mengurus persoalan hukum antara kliennya Indra Catri dengan Eri Syofiar. Ia dan rekannya Rianda, tidak akan masuk dalam wilayah politik yang disangkutpautkan antara Indra Catri dan Mulyadi menjelang Pilkada 9 Desember 2020 ini. Dimana keduanya sama-sama memiliki basis suara di Kabupaten Agam.

Baca juga :  Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan Kunci Tatanan Hidup Normal Baru

Politisi asal Agam, Taslim, yang juga hadir dalam konferensi pers tersebut, melihat kasus ini dari sisi politik sebagai hal biasa.

“Saling ganjal dan sikut di awal itu biasa dalam politik. Mematahkan lawan sebelum sampai di oktagon itu juga sering terjadi,” ujar mantan Anggota DPR RI ini. (ioc)