Oleh Deddy Arsya

 

Sudah nyaris tiga bulan masa berdiam di rumah berlangsung. Selama itu, lebih banyak aktifitas kita terjadi hanya di udara, di ruang maya. Anak-anak sekolah dan mahasiswa pulang ke kampung masing-masing tidak untuk bekerja membantu ibu-bapak mereka di ladang, tapi mengurung diri dalam kamar mereka untuk terlibat dalam perkuliahan daring yang padat. Pekerja kantoran tidak lagi masuk kantor seperti biasa dengan tinggal di rumah saja bersama keluarga tetapi mereka lebih sering sendiri, terpisah dengan anggota keluarga lain, bersibuk diri di bilik-bilik kerja online. Setengah yang lain juga sibuk berselancar dari webinar ke webinar.

Apa efek work from home bagi pikiran dan cara berpikir kita?

Selama bekerja dari rumah, internet semakin menjadi pakaian yang sulit ditanggalkan dari diri kita. Sebelum itu tentu saja juga sudah, tapi tampaknya semakin kuat bergayut di pundak setengah orang di masa pandemi ini. Dan di internet itulah, informasi berseliweran seperti burung di langit ketika panenraya. Grup-grup whatshapp semakin bertambah berkali-kali lipat. Dan di sana buku-buku elektronik, terusan-terusan link dan hasil googling, bertebaran sampai membuat kita mabuk. Seolah-olah mengepung kita dari mana-mana.  Beberapa library dan lembaga penyimpan dokumen meng-open-acces-kan koleksi mereka dengan gratis. Lalu, diskusi-diskusi daring juga datang silih-berganti dan telah pula menjadi tren baru.

Baca juga :  Pemrov Sumbar Siapkan Stimulus Ekonomi UMKM dalam Fase Recovery Bencana Corona

Kini kita semakin memiliki koneksi kepada jauh lebih banyak dokumen dan orang.

Inilah masa di mana informasi berlebih.  Seperti gelombang di lautan yang tak habis-habis.

Kita mungkin merasa lebih pintar sekarang. Informasi begitu banyak datang.

Tapi, di saat yang sama kita mesti juga waspada.

Pertama, akses cepat ke timbunan informasi, alat pencarian yang ampuh itu, telah menggantikan kemampuan kita untuk duduk-diam dan membolak-balik halaman buku dan majalah.

Buku dan majalah berdebu belaka di rak-rak. Untuk apa lagi bersusah-payah membaca 215-372 halaman jika kita dapat dengan mudah memperoleh informasi yang sama dan setara hanya dengan memindai sebuah hamalan web?

Selama ini, membaca yang tercetak menjadi keasyikan umum.

“Ada sesuatu yang menenangkan di dalam keheningan buku-buku, kesediaan mereka bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, menunggu kedatangan pembaca yang tepat dan menarik mereka dari tempatnya,” kata Nicholas Carr dalam The Shallows: What the Internet is Doing to Out Brains.

Tapi kitanya lagi, “Kini kita telah kehilangan selera membaca buku-buku”.

Apalagi dari jenis roman pula?

Cara membaca kita sekarang adalah melihat potongan-potongan teks pendek dari sumber online. Kita membaca tiga-empat paragraf artikel-artikel di blog dan web untuk sesegera mungkin mencari dan mendapati inti informasi.

Kita sangat tidak sabar dengan tulisan yang panjang dan bertele-tele. Kita memindai. Kita segera menggulur layar. Kita segera memasang tab baru. Dan berpindah fokus dengan cepat, lagi dan lagi ke halaman yang lain, ke teks lain.

Baca juga :  Taati Aturan PSBB, Polda Sumbar Ajak Masyarakat Tidak Melakukan Takbiran Keliling

Kita tidak pernah benar-benar membaca, kita hanya memindai.

Kedua, kini kita mudah sekali terganggu dan menjadi tidak sabaran.

Ada yang dikorbankan, “pikiran linear kita yang lama, yang tenang, fokus, tak terganggu,” kata si Carr lagi. Semua itu sedang disingkirkan oleh pikiran baru yang ingin dan butuh untuk menggunakan dan menyebarkan informasi pendek dan seringkali tumpang-tindih secepat mungkin—lebih cepat lebih baik.

Kita memiliki kemampuan baru, kemampuan membaca sekilas, memindai berton-ton informasi, tapi itu menghilangkan kemampuan yang lain: “kesabaran membaca”. Internet telah membuat kita menjadi pembaca yang cepat muak.

Kebutuhan otak akan informasi seperti meminum air laut—semakin diminum semakin membuat kerongkongan kering.

Kita akan mencarinya lagi dan lagi.

Ketika kita jauh dari internet di ponsel pintar atau di laptop kita, kita rindu sekali untuk memeriksa, pesan di grup whatshapp, apa informasi detik ini? Mengklik link dan googling lagi. Status-status terbaru di facebook dan twit-twit terkini di twitter. Ada kabar apa di instagram dan telegram? Bagaimana kanal-kanal youtube? Kita ingin terhubung dengan segera di saat kita sadar tengah tidak terhubung.

Semua itu memaksa pikiran kita untuk tidak bisa berdiam pada satu teks belaka.

Baca juga :  Sumbar Bersiap Menuju "New Normal"

Ketiga, di tengah semua itu, ada yang berencana lenyap: kemampuan meditatif kita.

Kita tidak lagi penyelam palung lautan mahadalam kata-kata, tetapi sekadar peselancar yang lihai di atas gelombang-gadang informasi belaka.

Kita mungkin rindu otak lama kita. Yang senantiasa bertanya-tanya, dan lama, lama, setelah melalui proses yang (agak) rumit—dengan terlebih dahulu membolak-balik buku-buku atau bertanya ke sana-kemari—barulah beroleh jawab.

Selama proses itu, kita merenung—dan merenung.

Ketika jawaban akhirnya disuakan, ada kebahagian aneh yang menjalari sekujur perasaan.

Dalam proses itu kita barangkali juga merasa lebih banyak tidak tahu ketimbang tahu.

Internet toh telah dengan cepat menjawab ketidaktahuan kita. Rasa penasaran kita. Sikap bertanya-tanya kita. Kini kita dapat dengan mudah serba tahu informasi.

Semua itu juga akan mengubah emosi kita?

Kita merasa tinggi hati karena keserbatahuan kita itu. Internet telah membuat kita terlalu percaya diri dengan pengetahuan dan kemampuan kita, setidak-tidaknya itulah yang baru-baru ini dikatakan Nicole Yeatman dalam “Is social media killing intellectual humility?”.

Tapi sejauh apa itu telah menjangkiti kita? Lalu apa yang selayaknya kita lakukan selanjutnya? Artikel ini jadi terlalu panjang jika harus diteruskan.

Artikel ini toh juga tidak akan benar-benar dibaca. Paling-paling dipindai belaka.

 

Pandai Sikek, Juni 2020