Iran mengeksekusi mati Mahmoud Mousavi Majd pada Senin (20/1), ia dituduh menyediakan informasi terhadap CIA dan Mossad tentang Mayor Jenderal Qassem Soleimani, pemimpin pasukan revolusi Iran yang terbunuh akibat serangan drone AS pada 3 Januari 2020.

Kantor berita kejaksaan Iran Mizan Online menyebutkan eksekusi mati itu “dilaksanakan pada senin pagi dengan tuduhan mata-mata jadi kasus penghianatannya terhadap negaranya akan ditutup selamanya.”

Di lansir dari BBC, beberapa media di Iran melaporkan bahwa ia ditangkap oleh kelompok militer Hisbullah dan diekstradisi ke Iran pada 2018, jauh sebelum pembunuhan terhadap pembunuhan terhadap Jend. Soleimani.

Majd yang adalah bekas penerjemah dianggap memiliki peran atas kematian Soleimani. Bulan lalu, pengadilan menyebutkan Majd telah memata-matai mantan komandan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGCC) Qassem Soleimani. Iaa tidak secara langsung terhadap pembunuhan jenderal itu, melainkan hanya penyedia informasi. Meskipun bukan anggota IRGC tetapi ia berhasil untuk mengakses sejumlah wilayah sensitif berkat kedoknya sebagai penerjemah sebut Mizan tulis Al Jazeera.

Baca juga :  Pelaku Pembobol ATM di Bukittinggi dan Padang ini Belajar dari Google

Pada Juli ini, Iran juga telah menangkap 17 orang yang dituduh mengumpulkan informasi mengenai nuklir dan militer negara itu untuk CIA. Beberapa telah diberikan hukuman mati tetapi Iran menolak untuk menyebutkan nama mereka.
Dengan hukuman mati ini, Iran berusaha mengirimkan pesan bahwa mereka telah memathkan jaringan mata-mata luar negeri dan akan membuat AS dan sekutunya kesulitan untuk melakukan penetrasi terhadapa negara itu.

Eksekusi terhadap para mata-mata ini dilakukan ditengah maraknya protes terhadap pelaksanaan hukuman mati di negara itu setelah yang dijatuhkan terhadap tiga orang yang terlibat demonstrasi anti-pemerintah yang memprotes naiknyah harga minyak pada November tahun lalu. Eksekusi terhadap mereka telah diundurkan, sebut salah satu pengacara Babak Paknia pada Minggu (19/7).

Kebijakan untuk mengundur ekekusi terhadap tiga orang itu diambil setelah protes yang berlangsung berminggu-minggu di sosial media yang dilakukan oleh ratusan ribu masyarakat Iran. Selain itu pemerintah Iran juga tengah berusaha untuk mendapatkan kembali kepercayaan publik dalam negeri setelah gelombang demonstrasi tahun lalu dan penembakan pesawat berpenumpang Ukraina pada Januari lalu tulis the Wall Street Journal.

Baca juga :  Tertumpang Harapan kepada Pemuda Menangani Covid-19

Menurut Mahsa Alimardani, mahasiswa doktoral di Univesitas Oxford yang meneliti tentang hak asasi manusia, hampir 6 juta postingan di Twitter menggunakan tagar “jangan eksekusi” dalam bahasa Persia telah dikirimkan, dan 50.000 kiriman yang sama di Instagram dan Telegram.