Oleh: Pramono

 

Periode sastra Islam Melayu atau sastra Melayu pengaruh Islam—utamanya ketika aksara Jawi berkembang dan digunakan sebagai media kepenulisan di kalangan ulama Nusantara—ditandai dengan munculnya karya penerjemahan, penyaduran, dan penggubahan cerita tentang nabi-nabi. Cerita nabi-nabi, para sahabat nabi, dan pahlawan Islam merupakan cerita populer pada masa itu. Dan, sudah barang tentu cerita tentang Nabi Muhammad lebih banyak ditemukan. Hal ini tentu saja karena sosok Nabi Muhammad sebagai teladan umat dan insan mulia.

Secara rinci, Norhayati Abdul Rahman (1995), misalnya, menyenaraikan dua puluh cerita tentang Nabi Muhammad yang dikenal dalam khazanah kesusastraan Melayu. Di antaranya adalah Hikayat Nur Muhammad/ Hikayat Kejadian Nur Muhammad; Hikayat Kejadian Baginda Rasulullah; Hikayat Khatim al-Nabi; Cerita Nabi Lahir; Hikayat Bulan Berbelah/ Hikayat Mukjizat Nabi; Hikayat Nabi Bercukur; Hikayat Seribu Masalah; Hikayat Nabi Wafat; Hikayat Nabi Bercakap-cakap Dengan Iblis; Hikayat Nabi Mengajar Anaknya Fatimah; Hikayat Nabi Mengajar Anaknya Ali; Hikayat Nabi Mi’raj; Hikayat Maulud Nabi; Hikayat Wasiat Rasulullah; Hikayat Fartana Islam/ Hikayat Puteri Salamah; Hikayat Raja Khabar/ Hikayat Nabi Muhammad; Hikayat Raja Khandak; Hikayat Raja Lahab; Hikayat Peri Kelahiran Nabi; dan Muswaddah.

Dalam konteks itu, penting dikemukakan di sini bahwa, teks Isra Mikraj Nabi Muhammad merupakan teks yang sering muncul dalam naskah-naskah yang mengisahkan tentang Nabi Muhammad. Peristiwa perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan langsung ke Sidratulmuntaha (langit ke tujuh) pada malam hari untuk menerima perintah salat lima waktu tersebut sering “menemani” teks berkenaan dengan riwayat dan sejarah perjuangan Nabi Muhammad dalam mensyiarkan Islam; meskipun ada pula naskah yang secara utuh berisi tentang teks Isra Mikraj.

Naskah-naskah yang mengandung teks Isra Mikraj dapat ditemukan di berbagai wilayah di Nusantara; baik dalam aksara dan bahasa Arab maupun dalam aksara dan bahasa lokal. Pada masanya naskah-naskah jenis ini dibacakan dan digunakan oleh ulama Nusantara sebagai media dakwah.

Hal yang sama juga berlaku di Minangkabau, khususnya di kalangan ulama golongan Kaum Tua (penganut tarekat). Mahmud Yunus (1979) dan M. Sanusi Latief (1988) menyebutkan bahwa, pada mulanya Isra Mikraj Nabi Muhammad disampaikan oleh ulama Minangkabau dengan membacakan kitab berbahasa Arab dan menerjemahkannya dengan menyampaikan juga syarahnya. Dengan demikian, tentu saja ini memerlukan waktu yang cukup panjang untuk menyelesaikan seluruh kisah Isra Mikraj Nabi Muhammad. Dalam perkembangnnya, Syekh Muhammad Jamil Jambek merubah cara demikian menjadi tablig yang dikenal seperti sekarang ini; tanpa membaca naskah dan dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan dengan waktu yang relatif pendek.

Terlepas dari itu semua, yang ingin dikatakan di sini bahwa, ada naskah yang berisi teks Isra Mikraj yang ditulis, disalin, diterjemahan, dan disadur oleh ulama Minangkabau. Malah, dari penelusuran yang dilakukan, ternyata, naskah-naskah Isra Mikraj karya ulama Minangkabau tidak hanya ditulis dalam bentuk prosa, tetapi juga dalam bentuk syair.

Dalam bentuk prosa, misalnya, ditemukan naskah yang ditulis oleh Imam Kapalo Bandaro Anas dengan judul “Hikayat Isra dan Mikraj Nabi Muhammad dan Nabi Bercukur”. Naskah yang ditulis dengan Jawi ini ditemukan di Surau Parak Laweh, Pariangan, Tanahdatar. Selain itu, ditemukan juga naskah “Musyhilatul al-Masalah” yang ditulis oleh Abdurrahman Bawan yang saat ini disimpan di surau tarekat di Malalo. Dilihat dari fisiknya—kertas Eropa dengan cap kertas Condordia—naskah ini lebih tua dibandingkan naskah yang ada di Surau Parak Laweh. Sayangnya, naskah tersebut tidak lengkap dan banyak kertasnya sudah rusak.

Naskah berikutnya adalah naskah yang ditulis oleh almarhum Abdul Muas Gelar Tantua Rajo Sutan di Bidar Alam, Solok Selatan. Di halaman pertama naskah ini terdapat tulisan aksara Latin dengan tinta warna merah yang berbunyi: “yang empunya buku ini Zainul, Suku Kampai, alamat Bidar Alam”.

Naskah lain yang juga ditulis dalam bentuk prosa adalah naskah “Kisah Mikraj Nabi Muhammad” karya Imam Maulana Abdul Manaf Amin Al-Khatib. Naskah ini masih utuh dan ditulis dengan tulisan Jawi yang rapi, sehingga sangat mudah dibaca. Pada masa hidupnya, tiap-tiap Rajab, Imam Maulana Abdul Manaf Amin Al-Khatib (w. 2006) selalu membacakan naskah ini apada pengajian rutin di Surau Paseban di Ikua Koto atau di Surau Syekh Muhammad Nashir (Syekh Surau Baru) di Air Dingin, Lubuk Minturun. Sayangnya, setelah beliau meninggal dunia, tidak ada lagi yang melanjutkan pembacaan naskah tersebut; termasuk juga naskah-naskah yang lain yang juga ditulis olehnya.

Naskah-naskah Isra Mikraj yang ditulis dengan aksara dan bahasa Arab juga ditemukan, seperti naskah yang tersimpan di Surau Calau. Naskah ini tidak terdapat kolofon yang menerangkan siapa penulis dan kapan serta tempat penulisannya.

Dalam bentuk syair, kitab Syair Mikraj yang tergabung dalam Kitab Enam Risalah karangan Syekh Sulaiman Arrasuli merupakan syair yang cukup populer pada masanya. Syair yang ditulis dengan aksara Jawi ini diterbitkan oleh Direkij Agam pada1920. Syair telah menginspirasi dua ulama yang pernah belajar di Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang didirikan oleh Syekh Sulaiman Arrasuli.

Dua ulama tersebut adalah H. Abdul Salam Imam (w. 2005) dan Buya Rizal Abas (w. 2017). H. Abdul Salam Imam atau yang dikenal dengan sebutan Buya Salam adalah pendiri Pesantren Tarbiyah Islamiyah yang terletak di Pulai, Sitiung, Kabupaten Dharmasraya. Ia menulis naskah “Kisah Mikraj Nabi Muhammad”. Semasa beliau masih hidup, naskah tersebut selalu dibacakan—dibaca dengan dilagukan—dalam setiap peringatan Isra Mikraj.

Syair berikutnya adalah “Nazam Kisah Isra dan Mikraj Nabi Muhammad” karya Buya Rizal Abas. Pada bagian awal syair atau nazam yang ditulis pada 1966 ini tertulis: Ini kisah diambil di dalam buku (kitab) Daratul Nashihin dan kitab Dardir dan kitab yang lain-lain. Sama halnya dengan Buya Salam, semasa hidupnya Buya Rizal Abas juga sering diundang untuk membacakan (melagukan) nazam Isra Mikraj hasil gubahannya tersebut. Malah, menurut pengakuannya, seringkali ia mendapat donasi dari khalayak ramai untuk pembangunan Pondok Pesantren Nurul Iman—pondok pesantren yang pernah ia pimpin yang beralamat di Pisang Rebus, Sitiung—setiap kali diundang untuk melagukan nazam pada peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad.

Melalui khazanah naskah Isra Mikraj Nabi Muhammad di atas, memberi gambaran bahwa tradisi bersastra dan beragama pernah hidup di kalangan ulama-ulama Minangkabau. Tradisi bersastra dan beragama tersebut merupakan usaha “mempertajam atau menghalusi perasaan seseorang”. Fenomena tersebut memberi kesan bahwa ulama-ulama Minangkabau yang terlibat dalam tradisi kepenulisan itu mampu memadukan nilai transendental dengan sosial budaya lokal; meskipun dengan sarana dan prasarana yang minim. Mereka telah mampu mengemas pengajaran dan pengetahuan menjadi sesuatu yang menyenangkan. (*)

 

Pramono, Dosen Prodi Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas