Dimulai pada 1 Juli mendatang, Israel akan menganeksasi pemukiman-pemukiman Yahudi di Tepi Barat.

Aneksasi adalah istilah yang digunakan ketika sebuah negara, secara sepihak menyatakan kedaulatannya atas teritori negara lain. Hal ini dilarang dalam hukum internasional. Contoh terbaru dari pelaksanaan istilah ini adalah ketika Rusia menganeksasi Semenanjung Krimea pada 2014.

Tetapi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebutkan rencana itu “bukanlah aneksasi”, meskipun melibatkan penerapan kedaulatan Israel terhadap sejumlah bagian di Tepi Barat yang ditinggali orang-orang Yahudi, serta sebuah wilayah sepanjang perbatasan Tepi Barat dengan Yordania yang disebut sebagai Lembah Jordan tulis BBC.

Israel mengklaim hak atas Tepi Barat karena menurut sejarah dan agama, wilayah itu merupakan tanah leluhur orang-orang Yahudi. Israel juga menyebutkan wilayah itu –terutama Lembah Jordan, penting secara strategis bagi keamanannya.

Dilansir dari DW.com, berdasarkan survei terbaru oleh Israel Democracy Institute, 50,1% warga Israel mendukung aneksasi Lembah Jordan.

Sumber BBC

Rencana ini ditentang oleh Palestina, yang menginginkan seluruh Tepi Barat, seperti halnya Jalur Gaza dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya. Kebanyakan negara dunia setuju dengan rencana ini. Al jazeera melaporkan bahwa lebih dari 1.000 orang anggota parlemen di Eropa mengecam rencana Israel itu dan menyatakan bahwa langkah tersebut akan menjadi “fatal bagi prospek perdamaian antara Israel dan Palestina”.

Baca juga :  PSBB Berakhir, Sumbar Masuk Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman Covid

The Guardian melaporkan, Sekjen PBB, Antonio Guterres berharap Israel mau mendengarkan suara internasional dan tidak akan melaksanakan aneksasi, yang menurutnya akan mengacaukan usaha mencari solusi perdamaian bagi dua negara yang telah berkonflik selama puluhan tahun itu.

Tepi Barat diduduki Israel semenjak perang 1967, tetapi perundingan yang rumit selama puluhan tahun antara Palestina dan Israel tidak pernah memberikan penyelesaian terhadap wilayah itu. Sampai sekarang Israel tidak pernah secara resmi mengklaim wilayah itu karena adanya tekanan internasional. Sedangkan Palestina, dengan dukungan internasional, menginginkan Tepi Barat menjadi jantung bagi negara mereka di masa depan.

Bulan lalu, Presiden Mahmoud Abbas mendeklarasikan untuk mengakhiri semua perjanjian dengan Israel dan Amerika Serikat sebagai respon rencana Israel untuk menganeksasi Tepi Barat dan Lembah Jordan. Hamas mengharapkan persatuan semua orang Palestina bersatu dan melawan rencana Israel itu.

Pada Senin (22/6), ribuan orang Palestina berkumpul di Jericho, di selatan Lembah Jordan, untuk memprotes rencana aneksasi yang dihadiri oleh sejumlah diplomat internasional dari Inggris, Tiongkok, Rusia, Jepang dan Yordania tulis Al Jazeera.

Baca juga :  UNP Serahkan Bantuan Sembako Kepada 1000 Mahasiswa

Aktivis dari Hebron (sebuah kota di Yudea Selatan, Tepi Barat), Sami Huerini menyebutkan kepada Al Jazeera, “Semua orang merasa takut terhadap rencana aneksasi, tidak ada yang ingin hidup dibawah hukum pendudukan… hari ini Lembah Yordan, besok Hebron. Semua orang memikirkannya dan bersiap untuk melawan.”

Dilansir dari BBC, terdapat sekitar 2.1 sampai 3 juta Arab Palestina yang tinggal di Tepi Barat dan menjadi rumah bagi 430.000 orang Israel Yahudi di 132 pemukiman yang didirikan oleh Israel. (Patra)