Oleh: Maiza Elvira

 

Seorang pesilat tidak semata-mata melihat silat sebagai sebuah gerakan, namun lebih melihat silat sebagai jalan hidup, yang erat sekali hubungannya dengan kebatinan, yang akan terus mencari dan belajar.

Silat, sebuah cabang olahraga yang pada waktu lalu ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO telah menjadi jalan hidup bagi banyak pendekar di tanah tempat ia lahir. Bagi para pendekar dan pesilat, silat tidak melulu mengenai gerak dan langkah, tetapi lebih jauh, berbicara mengenai filosofi hidup. Ada hal-hal yang mereka temukan di jalan silat, namun tidak bisa dilogikakan dengan akal sehat.

Berlatih Silat untuk belajar kearifan

Bukak langkah ang! Hep! Tap! Haa! Buk!” Pemuda itu terpental setelah kaki sang pendekar tua mengenai rusuk sebelah kirinya. Perlahan-lahan ia kembali berdiri, sambil memegangi rusuknya. Pendekar tua itu mengambil posisi kembali. Kakinya membentuk kuda-kuda dengan tangan terbuka lebar, menunggu serangan. Pemuda itu kembali menyerang. Kali ini ini bagian dada hingga kepala si pendekar tua itu yang menjadi sasarannya. Tidak berapa lama kepala pemuda itu sudah berada dalam posisi terpelintir di kedua kaki sang pendekar tua. Orang-orang bersorak. Kepala pemuda itu kemudian dilepaskan, dan pendekar tua itu mengambil tongkatnya dan berjalan ke tempat banyak orang menonton pertarungan mereka tadi diiringi oleh pemuda lawannya itu. Beberapa orang memberi tempat untuk si pendekar tua, tidak jauh dari tempat saya duduk malam itu.

Saya memperhatikan pendekar tua itu melinting rokok daun nipah sambil menasehati pemuda yang kepalanya hampir ia patahkan itu. “Silat itu sesungguhnya adalah beladiri untuk membunuh. Tidak ada gerakan lemah gemulai di dalamnya. Gerakanmu terlalu halus dan gemulai. Kau lebih pantas menjadi penari daripada pesilat. Berhentilah bersilat. Kau membuat malu gurumu.”

Pemuda itu hanya mendengarkan sambil menunduk. Pendekar tua itu membakar rokoknya dan kemudian sambil bersandar ia meneruskan nasehatnya.

“Atau kau ingin belajar yang lain? Silat yang lain? Bukan silat lidah tentunya. Tapi silat batin. Kalau iya, datanglah ke rumah. Ajak gurumu itu.”

Pemuda mengangguk dan kemudian sambil menyalami pendekar tua itu, ia pamit menuju teman-temannya yang masih berlatih, sambil memegangi rusuknya. Rupanya tendangan tadi masih menyisakan rasa sakit di rusuknya.

Kasurin, nama pendekar tua yang saya lihat pada malam itu. Saya perkirakan umurnya telah lebih 80 tahun. Menurut cerita yang saya dengar, ia adalah salah satu niniak mamak pandeka di perguruan silat yang saya datangi itu. Singo Barantai, nama perguruan silat tempat saya berkunjung malam itu. Angku Kasurin, begitu semua murid memanggilnya dengan hormat. Ia adalah bekas pejuang yang dulu bergabung dalam pasukan Harimau Kuranji pimpinan Achmad Husein yang dulu sempat membuat gentar dan kecut pasukan Belanda ketika perang membara di Padang. Gerakan silatnya jangan ditanya, benar-benar mampu membunuh.

Baca juga :  Wawako Padang Panjang Sambut Kunjungan Komisi II DPRD Tanah Datar Bahas Berbagai Kerjasama

Menurut cerita, bahkan tidak sedikit orang Belanda yang meregang nyawa dibuatnya. Ya, dalam pertarungan tadi terlihat betapa cepat gerakan kaki dan tangannya. Tapi gerakannya terlihat sedikit kasar, tidak seperti murid-murid yang tengah berlatih silat di perguruan itu. Irwandi, seorang guru silat yang masih berusia muda menjelaskan pada saya bahwa silat yang digunakan oleh Angku Kasurin tersebut tidak lagi cocok digunakan pada masa sekarang ini, karena gerakannya banyak menyasar titik-titik yang membahayakan nyawa. Oleh karena itu ia tidak diizinkan untuk melatih silat murid-murid remaja dan anak-anak di perguruan ini. Namun, jika seorang murid sudah berlatih sekian lama dan mendalami gerakan silat dengan baik, barulah kemudian ia diizinkan untuk mempraktikkan kemampuan silatnya pada pendekar tua itu.

Malam ini, saya kembali berkunjung ke Perguruan Singo Barantai. Perguruan tampak sepi. Tidak seperti ketika saya berkunjung dua tahun yang lalu ketika Angku Kasurin yang legendaris itu hampir mematahkan kepala salah satu murid senior di perguruan ini. Saya masih terngiang perkataan Kasurin pada malam itu, silat bathin. Silat yang seperti apakah itu?

Pertanyaan ini yang kemudian membuat saya memutuskan kembali mendatangi Perguruan Singo Barantai ini. Irwandi, yang telah menunggu saya sejak tadi menjelaskan bahwa melihat silat, artinya juga melihat sesuatu yang tidak kasat mata. Sesuatu yang metafisika. Yang tidak dapat dilogikakan oleh akal sehat. Hal yang metafisika ini bahkan sudah dimulai sebelum seseorang belajar silat pada sebuah perguruan. Sebelum diakui menjadi seorang murid silat atau anak sasian, ada rangkaian prosesi yang harus ia lewati terlebih dahulu. prosesi tersebut yaitu, membawa satu ekor ayam jantan.

Mengapa harus ayam?

Menurut Irwandi, selain karena ayam merupakan hewan yang paling mudah ditemukan di mana-mana, dalam perkelahian, ayam menggunakan langkah sebelum memulai perkelahian, ia melangkah ke kiri dan ke kanan, menggelek, menggunakan langkah untuk menyerang, menanti serangan, mengunci dan membuka kuncian. Perkelahian dengan hewan berbisa seperti kalajengking atau lipan, ayam akan selalu mencari dan membunuh bisa lawan terlebih dahulu, dengan demikian lawan dapat dengan mudah dilumpuhkan.

Siriah langkok

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Silat identik dengan ayam karena langkah silat merupakan langkah ayam atau sering disebut dengan istilah “karendeang ayam”. Satu gantang beras juga menjadi syarat dalam prosesi tersebut. Sebilah pisau, siriah langkok, kemenyan putih, kain kafan, baju hitam, dan uang secukupnya juga menjadi syarat yang penting dalam prosesi itu. Setelah seorang murid diterima di perguruan ini, ia tidak langsung diajarkan bersilat namun diberikan pituah terlebih dahulu. Dalam proses pemberian pituah itu, dapat berlangsung beberapa malam. Murid baru itu akan dibekali dengan ilmu silat yang lebih fokus pada kebatinan. Ia akan dibekali doa-doa dan amalan untuk memperkuat kebathinannya.

Baca juga :  Nampaknya PSBB di Kota Padang dan Bukittinggi Tidak Jadi

Masih menurut Irwandi, inilah yang barangkali dimaksud dengan silat batin oleh Kasurin itu. Silat untuk penguatan batin. Doa-doa dan amalan tersebut dapat berupa pagar diri, pitunduak, pakasiah, dan banyak lagi lainnya. Amalan ini merupakan bekal yang diberikan oleh guru silat pada murid-muridnya. Setelah pembekalan kebathinan ini dirasa selesai atau “putuih kaji” oleh guru, barulah kemudian ia diajarkan gerakan-gerakan silat.

Belajar Kebatinan

Malam semakin larut. Beberapa murid senior mulai datang, tapi bukan untuk latihan silat. Menurut Irwandi mereka datang untuk belajar kebatinan, silat batin. Banyak amalan dalam silat batin ini yang dapat mereka praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti malam ini, salah seorang murid itu bercerita bahwa beberapa hari yang lalu ia menjinakkan bisa lipan yang menggigit kaki anaknya yang masih berumur dua tahun. Bekas gigitan lipan itu baik-baik saja, hanya menyisakan sedikit merah di sekitar bekas gigitannya. Saya bergidik membayangkan bagaimana dulu gigitan seekor lipan membuat kaki saya bengkak membiru selama seminggu dan membuat saya demam berhari-hari, walaupun telah disuntik antibisa dari rumah sakit. Bukan hanya itu saja, seorang murid yang lain bercerita tentang bagaimana ia kebal dari tebasan benda tajam. Pada situasi normal, saya akan tertawa mendengarkan hal tersebut, dan menganggapnya sebagai lelucon. Hal ini pernah saya lakukan dua tahun yang lalu, di hadapan Kasurin, ketika ia bercerita mengenai pengalamannya di masa perang. Bagaimana ia kebal terhadap peluru senjata api musuh saat itu. Saya tergelak mendengarnya, dan semua orang memandang saya dengan muka heran dan serius. Kasurin lalu memanggil saya dan menyuruh saya duduk di dekatnya. Ia minta saya untuk meraba beberapa bagian di lengan kanannya. Dan saya merasakan beberapa benda keras di balik kulit yang sudah bergelambir itu. Saya teliti bekas lukanya, ternyata tidak saya temukan satupun bekas luka. Di kaki ternyata juga terlihat yang seperti itu.

“Itu adalah peluru. Aku mendapatkannya waktu perang melawan orang dari pusat pada tahun 50-an. Orang rumah sakit pernah ingin mengeluarkannya dari tubuhku. Tapi tidak kuizinkan, karena peluru ini tidak mengganggu sedikitpun. Datanglah kau ke rumah. Ada foto dari rumah sakit yang menujukkan berapa buah peluru ini di dalam tubuhku. Kalau kau lihat foto itu, kau akan berhenti tertawa seperti tadi”.

Saya terdiam. Berpikir bagaimana peluru yang tertanam di tubuhnya tidak membuatnya merasa terganggu sama sekali. Kali ini, ketika seorang murid bercerita mengenai ilmu kebal itu, saya hanya bisa mengangguk. Perlahan-lahan silat batin yang diungkapkan oleh Kasurin itu mulai terlihat jelas bagi saya. Silat batin, silat yang tidak hanya berupa gerakan-gerakan, kuncian, langkah-melangkah, ataupun kuda-kuda pertahanan. Namun masih menurut Irwandi, silat batin justru adalah silat yang sebenar silat. silat yang melatih dari dalam diri seseorang. Melatih hawa nafsunya, sehingga ketika bertemu musuh mereka sedapat mungkin akan menahan diri untuk tidak memulai pertengkaran. Ibarat filosofi yang diyakininya, musuah pantang dicari, kok basobok tolong ilakkan. Selain itu melatih pengendalian diri, sehingga bisa lebih arif bijaksana dalam mengambil setiap keputusan. Dan yang paling utama adalah mendekatkan diri kepada Tuhan, karena silat batin yang mereka pelajari adalah berupa doa-doa dan amalan zikir yang membuat seorang murid lebih dekat kepada Tuhan.

Baca juga :  Masyarakat Agam Silakan Tunggu Bantuan JPS Pemprov Sumbar di Rumah

Sudah hampir tengah malam, saya pun pamit untuk pulang. Irwandi menyelipkan pada saya selembar kertas berisi doa untuk saya rapalkan agar aman berjalan pulang, walaupun di waktu malam. “Seringlah main kemari. Banyak amalan yang bagus untukmu.” Saya mengucapkan terimakasih dan berjanji akan kembali datang ke perguruan itu. Sambil berjalan pulang, saya kembali teringat pada Kasurin. Malam itu ia memberikan saya sebuah pituah: “Sahangok bicaro naiak, sapakuk pancuang mamutuih, di sinan ilimu pagunonyo, mahariak tak basuaro,  mandabiah tak badarah, tabujua lalu, tabulintang patah.” Sekarang saya paham. Seorang pendekar atau pesilat, ketika sudah bisa menyelaraskan silat gerak dan batin dalam kehidupan sehari-harinya maka ia akan menjadi seorang yang labih arif dan bijaksana.

Kasurin, pendekar tua yang mengamalkan itu di sepanjang perjalanan hidupnya. Baginya, seorang pesilat yang hanya melihat silat sebagai sebuah gerakan saja, akan berhenti mencari ketika semua ilmu dan jurus silat telah ia dapatkan dari gurunya. Ia barangkali akan menjadi pendekar yang hebat. Namun, seorang pesilat yang tidak semata-mata melihat silat sebagai sebuah gerakan, namun lebih melihat silat sebagai jalan hidup dan erat sekali hubungannya dengan kebatinan, akan terus mencari dan belajar. Ia akan hidup dalam kesadaran bahwa puncak kepiawaian seorang pesilat akan diuji pada pertarungan yang terakhir. Pertarungan yang paling berat. Pada saat itu silat secara gerak tidak akan diperhitungkan, namun silat secara batin akan diuji. Dan Kasurin, pendekar tua yang menakutkan bagi murid-muridnya telah melewati hidup yang berat, dan membawa bukti keras dan kejamnya hidup di dalam tubuhnya selama berpuluh tahun, telah sampai pada pertarungannya yang terakhir. Mampukah kau melewatinya, pendekar? (*)

 

Maiza Elvira, Tim Redaksi inioke.com,  juga seorang Peneliti dan Pemerhati Sejarah, Sosial dan Budaya