Sebulan terakhir ini, pemerintah membeli beras dan sayur dari petani untuk kemudian didistribusikan kembali kepada kelompok masyarakat yang berhak mendapatkannya. Produk-produk UMKM akan terus diupayakan membeli sekaligus membantu memasarkannya. (Bupati Agam, Indra Catri)

 

Jika Pembatasan Sosial Berskala Besar dilaksanakan di Sumbar, maka pemerintah provinsi dan kabupaten/kota harus menjamin ketersediaan pangan untuk masyarakat. Beberapa kabupaten/kota di Sumbar sudah menyiapkan pangan untuk masyarakat jauh sebelum PSBB untuk mencegah krisis pangang di saat wabah corona menyerang.

Kabupaten Agam, misalnya, kebijakan pangan yang sudah dilaksanakan sebulan terakhir bisa menjamin pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terutama beras dan garam. Begitu juga dalam konteks melindungi petani, pedagang, dan UMKM. Menurut Bupati  Indra Catri, Pemkab Agam akan hadir untuk terus memperbanyak membeli produk pertanian dan UMKM demi menjaga kelangsungan usaha dan produksi mereka.

“Sebulan terakhir ini, pemerintah membeli beras dan sayur dari petani untuk kemudian didistribusikan kembali kepada kelompok masyarakat yang berhak mendapatkannya. Produk-produk UMKM akan terus diupayakan membeli sekaligus membantu memasarkannya,” paparnya.

Indra Catri menjamin, paling tidak sampai awal Ramadan, sekitar 70 persen dari keseluruhan rumah tangga di Agam sudah memiliki cadangan beras dan garam di rumahnya masing-masing. Terdiri dari rumah tangga yang dianggap mampu dan tidak dibantu 35 persen, rumah tangga yang tardaftar dalam DTKS 25 persen, dan 10 persen lagi rumah tangga yang dibantu melalui BAZ Sumbar dan BAZ Agam . Kemudian aksi peduli ASN dan sumbangan dari Korpri Agam yang disalurkan kepada para mubalig, guru mengaji, garin masjid, penjaga sekolah, guru honor, pelaku seni/budaya, awak media, dan Guru PAUD.

Baca juga :  KI Sumbar : Data Lengkap Pasien Positif COVID-19 Informasi Dikecualikan

“Seandainya semua bisa berjalan lancar, sebetulnya kita menargetkan agar sekitar 30 persen rumah tangga yang  terdampak lainnya sudah dapat dibantu menjelang memasuki bulan Ramadan. Dengan demikian 100 persen setiap rumah tangga di Agam sudah memiliki cadangan beras dan garam sebulan kedepan,” ulasnya.

Selain itu, Dinas Pertanian Agam terus menyokong para petani untuk melakukan penanaman. Kepala Dinas Pertanian Agam, Arief Restu, mengungkapkan, petani juga garda terdepan dalam berjuang melawan COVID-19, dengan cara memproduksi ketersediaan pangan bagi masyarakat secara berkelanjutan.

“Selagi tidak ada orang yang membawa atau menularkan corona, petani tidak akan terkontaminasi, mereka masih bisa bercocok tanam di areal pertanian dengan menjaga pola hidup sehat dan melakukan physical distancing,” ujar Arief dalam sebuah kunjungan ke areal persawahan di Kecamatan Tanjung Raya.

Cadangan beras untuk konsumsi masyarakat Agam, menurut Arief, mencukupi hingga masa panen akhir April ini, bahkan surplus dibanding kebutuhan konsumsi. Ia mengingatkan kepada para petani agar tidak menjual seluruh hasil panen padinya. Artinya, harus ada yang ditinggalkan di rumah untuk stok kebutuhan konsumsi harian, terutama dalam menyikapi kondisi sulit saat ini.

Baca juga :  Wisuda Virtual, Ini Pesan Fadly Amran untuk Lulusan STAI Imam Bonjol Padang Panjang

“Mereka kita dorong melanjutkan pengolahan sawah untuk menanam padi setelah panen. Tidak ada masa jeda, supaya dalam kurun waktu tiga hingga empat bulan ke depan, stok pangan di Agam masih terjaga dengan baik,” tuturnya.

Selain Agam, Pemkab Padang Pariaman juga memastikan ketersediaan bahan pangan warga daerah itu mencukupi hingga tiga bulan ke depan, karena potensi produksi beras mencapai 40.841 ton sedangkan kebutuhanper bulan hanya 4.050 ton.

“Stok pangan mencukupi melihat produksi padi Padang Pariaman pada Maret serta potensi produksi beras pada April dan Mei,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman, Yurisman Yakub.

Ia menyebutkan pada Maret produksi beras di Padang Pariaman mencapai 12.855 ton yang berasal dari 5.167 hektare luas panen di daerah itu. Lalu pada April luas panen gabah kering mencapai 5.073 hektare dengan potensi produksi beras 12.625 ton. Selanjutnya, Mei luas lahan panen gabah kering di Padang Pariaman mencapai 6.174 hektare dengan potensi produksi beras 15.361 ton.

“Jumlahnya bisa mencapai 40.841 ton yang berada di pengepul,” katanya.

Ia akan mengusulkan pembelian beras kepada Dinas Perdagangan Tenaga Kerja Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Padang Pariaman. Langkah ini untuk menjamin ketersediaan pangan dari pemerintah daerah yang nantinya akan disalurkan kepada masyarakat.

Baca juga :  Safari Ramadan dan Tarawih Berjamaah di Masjid Ditiadakan Bulan Puasa Nanti

Yurisman juga meminta petani dan pengepul tidak menjual beras secara keseluruhan. Sisakan untuk kepentingan konsumsi keluarga dua hingga tiga bulan ke depan. Petani harus tetap produktif menggarap lahannya, bahkan warga juga diharapkan memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayur-sayuran, seperti cabe dan tomat, sebagai cadangan pangan.

Begitu juga dengan Kota Payakumbuh. Wali Kota Riza Falepi mendesak TPID mampu menghitung produksi dan kebutuhan pangan warga selama 6 bulan ke depan. Ia menegaskan ketersediaan pangan di Payakumbuh harus aman dan tidak terlalu berdampak kepada pertumbuhan ekonomi. Riza juga meminta seluruh perangkat daerah terkait dengan bidang ekonomi melakukan langkah tepat, agar produksi, suplai, dan distribusi sembilan bahan pokok di kota randang itu terjamin.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Payakumbuh, Depi Sastra, produksi dan distribusi pangan saat ini masih aman. Namun, karena sejumlah bahan pangan masih disuplai dari daerah tetangga di Sumbar, maka ia membutuhkan jaminan transportasi aman masuk ke Kota Payakumbuh.

Daerah-daerah lain di Sumbar, seperti Solok, Tanah Datar, Sijunjung, Dharmasraya, Padang, Pesisir Selatan, juga telah mempersiapkan langkah-langkah untuk mengantisipasi kekurangan pangan di saat PSBB hingga wabah ini berakhir. Selain, menghadapi wabah, memasuki bulan Ramadan, konsumsi pangan masyarakat juga meningkat, ditambah para perantau yang pulang kampung. Sehingga ketersediaan pangan masing-masing daerah juga harus ditingkatkan. Semoga. (GYN)