Padang, inioke.com–KPU Sumbar menjamin keamanan di TPS dari penularan Covid-19 dalam Pemilihan Serentak 9 Desember 2020 nanti. Jaminan ini disampaikan KPU Sumbar sekaitan dengan penerapan protokol kesehatan di TPS secara ketat.

“Kita pastikan TPS aman dari penularan Covid-19. Kita menjamin keamanan tersebut dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat, baik petugas maupun pemilih yang datang ke TPS. Justru yang kita khawatirkan itu di luar TPS, kalau ada masyarakat atau pemilih bergerombol di tempat tertentu. Apalagi tidak pakai masker,” ungkap Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan Hupmas KPU Sumbar, Izwaryani, saat sosialisasi kepada kelompok disabilitas/berkebutuhan khusus di Padang, Kamis (19/11).

Izwaryani menjelaskan proses pemungutan suara di TPS dengan protokol kesehatan. Disampaikannya, pemilih harus memakai masker, membawa alat tulis dan surat pemberitahuan dari rumah.

“Di TPS, sebelum masuk, pemilih harus mencuci tangan terlebih dahulu di tempat yang disediakan. Kemudian diukur suhu tubuh. KPU memakai standar suhu tertinggi 37,3 derajat celsius untuk suhu tubuh ini. Artinya, lebih aman dari standar yang dipakai instansi lain dengan suhu tertinggi 37,5 derajat celsius,” jelas Izwaryani yang akrab disapa Adiak tersebut.

Baca juga :  Pendataan BLT Selesai, Padang "Mambagi" dalam Pekan ini

Setelah diukur suhu tubuhnya, lanjut Adiak, pemilih dibolehkan masuk TPS untuk mendaftar. Petugas memberikan sepasang sarung tangan plastik agar terhindar dari penularan Covid-19 saat mendaftar dan mencoblos. Selanjutnya diberikan surat suara dan antri untuk mencoblos. Selesai mencoblos, pemilih membuka sarung tangan dan membuangnya. Lalu, petugas KPPS meneteskan tinta ke jari pemilih.

“Diperkirakan satu pemilih sekitar 4-5 menit dalam TPS, sehingga cukup aman. Kita minta para pemilih untuk taat memakai masker. Kalau lupa memakainya ke TPS, kita menyediakan masker cadangan yang sekali pakai, namun jumlahnya tidak banyak,” ujarnya.

Sedangkan pemilih yang suhu tubuhnya di atas 37,3 derajat celsius akan disediakan bilik khusus di luar TPS untuk mencoblos. Begitu juga dengan pemilih yang menjalani isolasi mandiri di rumah, petugas akan mendatangi pukul 12.00 WIB, berpakaian APD lengkap membawa kotak suara dan perlengkapan lainnya. Sama halnya dengan yang dirawat dan isolasi di rumah sakit, petugas juga mendatangi pemilih pukul 12.00 WIB.

“Pihak rumah sakit akan mengarahkan pemilih ke kaca, lalu petugas akan membentangkan surat suara di kaca itu. Pemilih akan menunjuk pilihannya di surat suara untuk dibantu mencobloskan oleh petugas,” papar Adiak.

Baca juga :  Jelang HUT ke 107 KabupatenSolok, ini berbagai even yang digelar

Sementara itu, Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Sumbar, Elvi Yenita, mengimbau para disabilitas untuk berpartisipasi dalam pemilihan serentak nanti.

“Partisipasi kita sangat menentukan dalam memilih pemimpin yang akan menentukan masa depan daerah tempat tinggal kita,” ujarnya.

Peserta sosialisasi menyampaikan keluh kesahnya di TPS. Di antaranya, bilik suara tempat mencoblos areanya kecil sehingga tidak muat kursi roda. Kemudian ada lagi yang menyampaikan petugas KPPS sering lupa memanggil nama mereka, sehingga sering terlewat. Padahal mereka telah menyampaikan untuk memanggil cukup keras karena bisu dan tuli. Persoalan lainnya, bagi pemilih disabilitas tidak ada penerjemah di TPS, sehingga banyak petugas KPPS yang tidak paham maksud mereka.

“Kita minta KPU untuk lebih memperhatikan lagi disabilitas ini di TPS. Karena beda disabilitas, beda pula perlakuannya,” tukas Elvi. (ioc)